Angkor Wat, Situs Bukti Sejarah Tertua
Minggu, 09/11/2014 - 10:36 WIB
 
 
Jakarta -

Angkor adalah ibu kota Kerajaan Khmer dalam periode lama dari abad ke-9 sampai abad ke-15 Masehi. Istilah Angkor berasal dari bahasa Sanskerta nagara (नगर), yang berarti "negara". Periode Angkor dimulai pada tahun 802 ketika raja Hindu Khmer Jayawarman II menobatkan dirinya sebagai "penguasa jagat" dan "dewaraja", dan periode ini berlangsung hingga 1431, ketika Ayutthaya menyerbu ibu kota Khmer, dan mendesak rakyatnya mengungsi ke selatan, kawasan Phnom Penh.


Reruntuhan Angkor terletak di hutan dan tanah perladangan yang membentang antara Danau Besar Tonle Sap di selatan dan perbukitan Kulen di utara. Situs ini terletak dekat kota Siem Reap (13°24′LU, 103°51′BT), Kamboja sekarang ini, dan merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO . Candi-candi di Angkor, seperti Angkor Wat dan Bayon, sekarang sebagian besar telah dipugar dan merupakan contoh dari arsitektur Khmer. Jumlah pengunjung tempat ini sekitar satu juta per tahun.


Angkor dilihat dari angkasa.
Pada tahun 2007, sebuah tim internasional dengan menggunakan pencitraan satelit menyimpulkan bahwa Angkor adalah kota pra-industri terbesar di dunia, dengan sistem infrastruktur rumit yang menghubungkan kawasan permukiman seluas 1000 kilometer persegi hingga ke pusat kota tempat berdirinya kuil-kuilnya yang agung. Kota pra-industri terbesar lainnya adalah kota Tikal di Guatemala, yang berukuran antara 100 dan 150 kilometer persegi. Meskipun perkiraan jumlah penduduk kota Angkor masih menjadi subyek penelitian dan topik perdebatan, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sistem pertanian Angkor yang efisien dapat menopang kebutuhan pangan hingga satu juta jiwa penduduk.


Pusat Kemaharajaan Khmer
Periode Angkor dimulai tidak lama setelah tahun 800 M, ketika raja Khmer Jayawarman II mengumumkan kemerdekaan Kambujadesa (Kamboja) dari Jawa dan membangun ibu kota baru di Hariharalaya (kini Roluos) pada ujung utara danau Tonle Sap. Dengan melancarkan ekspedisi militer, persekutuan, perkawinan dan penganugerahan lahan, ia berhasil mempersatukan negara yang berbatasan dengan China (di utara), Champa (kini Vietnam tengah, di timur), lautan (di selatan) dan kawasan yang disebutkan berdasarkan prasasti sebagai "tanah kapulaga dan mangga" (di barat). Pada tahun 802, Jayavarman menyatakan status barunya sebagai "penguasa jagat" (chakrawartin), kemudian mengkaitkan dirinya dengan pemujaan terhadap Shiwa yang ditiru oleh raja-raja penerusnya, dengan mengambil gelar "dewaraja".[5] Sebelum era Jayavarman, Kamboja terdiri atas beberapa kerajaan merdeka yang secara kesatuan disebut oleh bangsa China dengan sebutan negara Funan dan Chenla


Pada 889 M, Raja Yasowarman I naik takhta. Raja agung ini terkenal sebagai pembangun yang hebat. Dekat ibu kota lama Hariharalaya, Yasowarman cmembangun kota baru yang disebut Yasodharapura. Sesuai tradisi pendahulunya, ia membangun kolam penampungan air yang besar yang disebut baray. Makna pembangunan reservoir atau penampungan air telah menjadi perdebatan bagi ilmuwan modern, beberapa menganggapnya sebagai infrastruktur irigasi pertanian padi, sementara pihak lainnya memandang kolam besar ini sebagai simbol keagamaan yang melambangkan samudra besar dalam mitologi Hindu yang mengelilingi gunung Mahameru, tempat bersemayam para dewa. Gunung itu dilambangkan dengan candi yang menjulang tinggi, di mana sang "dewa-raja" dilambangkan dengan sebuah lingga. Berdasarkan simbolisme semesta ini, Yasowarman membangun kuilnya di sebuah bukit yang disebut Phnom Bakheng, yang dikelilingi parit yang airnya dialirkan dari baray. Ia juga membangun beberapa kuil Hindu dan asrama sebagai tempat kediaman pertapa brahmana.


Selama lebih dari 300 tahun, kurun 900 sampai 1200, Kemaharajaan Khmer membangun mahakarya arsitektur dunia di kawasan Angkor. Kebanyakan bangunan ini memenuhi kawasan yang membujur seluas 24 kilometer timur ke barat, dan 8 kilometer utara ke selatan, meskipun Taman Purbakala Angkor juga mencakup situs yang lebih jauh seperti Kbal Spean yang terletak sekitar 48 kilometer ke utara. Sekitar 72 candi utama dan bangunan lainnya terdapat di kawasan ini, termasuk kuil-kuil kecil yang terpencar lebih jauh. Karena tersebar luas, datarannya yang rendah, dan pola permukiman bangsa Khmer, Angkor tidak memiliki batas formal yang jelas, maka luas persisnya sulit diperkirakan. Meskipun demikian, kawasan spesifiknya sekitar 1.000 km². Dibalik kuil utama terdapat sistem infrastruktur yang rumit, termasuk jaringan jalan dan kanal yang menunjukkan keterkaitan tinggi dan integrasi antara daerah pinggir kota dengan pusat kota. Dalam hal luas spasial, Angkor menjadi kawasan urban gabungan terbesar sebelum era Revolusi Industri, dengan mudah melampaui kota Tikal dalam peradaban Maya alam hal luasan urban, Angkor bahkan mendekati ukuran kota modern Los Angeles, dan dikatakan berukuran 17 kali lipat lebih besar dari pulau Manhattan.

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Senin, 03/11/2014 - 09:24 WIB
Selasa, 04/11/2014 - 18:10 WIB
Jumat, 21/11/2014 - 10:12 WIB
Selasa, 18/11/2014 - 10:11 WIB
Senin, 17/11/2014 - 11:57 WIB
Sabtu, 08/11/2014 - 06:28 WIB
Selasa, 11/11/2014 - 08:45 WIB
Rabu, 19/11/2014 - 09:50 WIB
Senin, 17/11/2014 - 09:49 WIB
Minggu, 02/11/2014 - 10:58 WIB
Rabu, 05/11/2014 - 11:17 WIB
Kamis, 06/11/2014 - 13:51 WIB
Minggu, 09/11/2014 - 10:36 WIB
Jumat, 28/11/2014 - 08:48 WIB
Kamis, 20/11/2014 - 13:12 WIB