CIA: ISIS Memiliki 20.000-31.500 Anggota
Senin, 15/09/2014 - 13:23 WIB
 
 
Jakarta -

Badan intelijen Amerika Serikat, CIA memperkirakan ISIS kini memiliki 20.000 hingga 31.500 anggota yang secara terkoordinir terus meluaskan wilayah kekuasaannya di Suriah dan juga Irak. Perkiraan jumlah milisi yang dimiliki ISIS ini jauh lebih banyak dari dugaan awal yang hanya diperkirakan sebanyak 10 ribu anggota saja. 
 
Hal ini disampaikan oleh juru bicara CIA, Ryan Trapani. Menurutnya, jumlah milisi ISIS yang disebutkan diatas berdasarkan data laporan intelijen yang dihimpun dari bulan Mei hingga Agustus 2014. “Peningkatan disebabkan perekrutan besar-besaran sejak Juni menyusul kesuksesan yang diperoleh di medan pertempuran, deklarasi kekhalifahan, aktivitas pertempuran, dan intelijen,” ujar Trapani, seperti dikutip dari laman BBC.
 
Dari 20 ribu hingga 31.500 milisi yang dimiliki ISIS sekarang, sebanyak 15 ribu orang di antaranya merupakan orang dari luar Irak dan Suriah, termasuk 2.000 orang dari negara-negara Barat.
 
Pernyataan CIA ini diungkapkan sehari setelah Presiden Amerika Serikat Barack Obama berjanji akan memperluas peran AS dalam memerangi kelompok militan ISIS. Bagian dari strategi Amerika melawan ISIS dijabarkan oleh Departemen Pertahanan AS, pada Kamis (11/9/2014) waktu setempat. Menurut Pentagon, pesawat-pesawat tempur Amerika akan segera meluncur dari Pangkalan Udara Arbil di wilayah Kurdi, Irak utara, untuk melancarkan serangan terhadap ISIS.
 
Bukan hanya Amerika yang seakan ingin segera menghentikan pergerakan ISIS, Inggris juga sudah mengambil tindakan tegas terkait ISIS. Apalagi setelah ISIS memenggal warga negara Inggris, David Haines yang videonya dipublikasikan oleh ISIS akhir pekan lalu. Setelah membunuh Haines, ISIS kembali mengancam akan membunuh sandera asal Inggris, Alan Henning yang yang diculik bersama Haines saat bekerja menjadi relawan pengantar bantuan kemanusiaan di Suriah.
 
Perdana Menteri Inggris, David Cameron mengatakan pemerintah Inggris akan ‘memburu’ para pembunuh Haines, seorang pekerja kemanusiaan, yang ia sebut sebagai "pahlawan Inggris”. Ia juga mengatakan ‘kekejian’ ISIS harus diakhiri dengan jalan yang "tenang, terencana."
 
Berbicara di Downing Street setelah pertemuan dengan komite darurat Cobra, Cameron mengatakan ISIS ‘bukanlah Muslim, mereka adalah monster’. "Kami akan melakukan apa saja yang kami bisa untuk memburu para pembunuh ini dan memastikan mereka diadili, berapa lama pun waktu yang dibutuhkan."

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Jumat, 01/02/2019 - 09:32 WIB
Kamis, 07/02/2019 - 09:17 WIB
Jumat, 01/02/2019 - 09:33 WIB