Planetarium : Mengenal Dunia Angkasa Lebih Mudah
Jumat, 29/08/2014 - 08:57 WIB
 
 
Jakarta -

Planetarium Jakarta dibangun oleh Pemerintah Indonesia mulai tahun 1964 atas gagasan Presiden Soekarno. Pada waktu itu Presiden sangat mengharapkan rakyat Jakarta pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya sedikit demi sedikit akan meningkat pengetahuannya mengenai benda-benda langit, gerhana, tata surya, galaksi dan sebagainya. Berdirinya Planetarium menurut pendapatnya merupakan suatu jawaban yang tepat untuk memenuhi harapan itu.


Berkat dana yang disumbangkan oleh Gabungan Koperasi Batik Indonesia, gedung Planetarium dapat dibangun, sedangkan peralatannya yang berupa proyektor dan teropong bintang buatan pabrik Carl Zeiss Jena dibeli dengan dana yang dihimpun oleh pemerintah.


Dalam tahun 1968 gedung planetarium dan pemasangan peralatan di dalamnya berhasil diselesaikan dan pada tanggal 10 Nopember 1968 tahun itu pula gedung Planetarium diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin bersamaan dengan diresmikannya PKJ-Taman Ismail Marzuki. Kemudian pada tanggal 1 Maret tahun berikutnya Planetarium resmi dibuka untuk umum dan sejak itu masyarakat ibukota merasa memiliki satu-satunya sarana penambah pengetahuan dan relaksasi yang khas itu. Hadiah bagi rakyat Jakarta ini disambut baik pemerintah DKI Jakarta dan terus disempurnakan serta dikembangkannya, agar makin dapat memenuhi tuntutan dan tugas-tugas yang diberikan kepada lembaga ini.


Pada tahun 1984 pemerintah DKI Jakarta membentuk organisasi penyelenggara fungsi dan tugas-tugas planetarium dan observatorium, yaitu Badan Pengelola Planetarium dan Observatorium DKI Jakarta. Kepala Badan Pengelola mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas-tugasnya kepada Gubernur DKI Jakarta Raya.


Pada tahun 1996, Badan Pengelola Planetarium & Observatorium melakukan pemutakhiran peralatan pertunjukan dan renovasi pada bangunan sambil melanjutkan penyempurnaan gedung. Karena itulah terjadi penggantian proyektor utama dengan peralatan canggih yang dapat dikontrol sepenuhnya dengan program komputer. Planetarium serasa lahir kembali dengan tenaga dan semangat baru yang siap menghadapi tantangan dan harapan dari khalayak masa sekarang dan yang akan datang.


Planetarium terletak di Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat, yaitu yang beralamat di Jalan Cikini Raya No. 73. Di planetarium ini, kita dapat menyaksikan langit-langit di Planetarium yang menggambarkan langit bumi kita di malam hari yang dipenuhi bintang. Pertunjukan ini kita nikmati dalam ruangan yang seperti cinema dengan layarnya bukan di depan seperti halnya bioskop, tapi atas. Langit-langitnya yang berbentuk seperti kubah dan senderan tempat duduk yang dapat dimiringkan hingga hampir tertidur membuat kita benar-benar dapat menikmati pertunjukan di langit-langit planetarium. Selain itu, bahasa narator yang asyik dengan sedikit humor ringan benar-benar dapat mendinginkan suasana sehingga tidak terlalu serius dan berasa scientist sekali.


Di langit-langit planetarium kita dapat menikmati hamburan cahaya bintang yang menurut narator dapat kita nikmati di Jakarta jikalau tidak ada polusi udara dan polusi cahaya di kota Jakarta dan langitnya cerah. Tapi hal ini dirasa mustahil jika kita lihat kondisi Jakarta saat ini dan terlebih lagi saat musim hujan - karena saat kami menonton di Planetarium sedang musim hujan. Dalam durasi pertunjukan 1 jam tersebut, kita dibawa untuk menikmati langit Jakarta yang cerah di malam hari dan simulasi terbitnya matahari di ufuk timur hingga terbenamnya di ufuk barat. Pertunjukan juga menjelaskan mengenai meteor, komet, dan beberapa rasi bintang.


Salah satu meteor besar yang pernah jatuh di bumi adalah meteor yang jatuh di Amerika sekitar 49 tahun silam. Di planetarium juga kita dapat melihat batu meteor yang pernah jatuh di Pasuruan, Indonesia. Selain itu, kita dibawa ke galaxy untuk mempelajari planet-planet di tata surya dimana matahari sebagai pusat orbit planet-planet. Planet-planet di tata surya pun di kategorikan dalam tiga kategori, yaitu planet sejenis bumi, planet sejenis yupiter, dan planet kerdil. Melalui pertunjukan di planetarium ini pun saya baru mengetahui bahwa planet Pluto itu termasuk planet kerdil dan garis edar memotong garis edar planet lain yaitu planet Neptunus, sehingga tidak selamanya pluto menjadi planet yang terjauh dari bumi. Belajar banyaklah saya dari pertunjukan di Planetarium ini. Termasuk galaksi kita dengan pusat orbit matahari disebut galaksi Bima Sakti dan galaksi kita hanyalah satu dari sekian banyak galaksi di alam semesta

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Sabtu, 04/10/2014 - 10:01 WIB
Kamis, 16/10/2014 - 18:22 WIB
Rabu, 01/10/2014 - 17:35 WIB
Selasa, 28/10/2014 - 09:32 WIB
Rabu, 01/10/2014 - 11:32 WIB
Rabu, 29/10/2014 - 18:05 WIB