Anakku, Belahan Jiwaku
Rabu, 23/03/2016 - 09:58 WIB
images-artikel/kecil/Anakku, Belahan Jiwaku.jpg
Sumber: soulofjakarta.com
 
 
Jakarta -


Malam itu sekitar pukul 19.00 WIB, ketika sebagian anggota keluarga (Bu Tina, Arum, dan Oso) sedang berkumpul di ruang tv untuk bersantai di malam minggu sambil menyaksikan tayangan televisi.


“duk..duk..duk..” terdengar suara langkah kaki di tangga kayu yang dimiliki rumah tersebut “mah, mas Ferdi mau manggung nih di 712 buat sekalian taken kontrak” ucap Ferdi sambil melantunkan lagu kesukaannya ‘menangis tertawa dari ricky kevin ’.

 

Ferdi merupakan anak pertama dari keluarga tersebut berusia 21 tahun, yang memang memiliki sebuah band beraliran reggea.
“iya mas, mama doain semoga semuanya lancar dan mas ajang bisa jadi panutan buat adik-adik” ucap bu Tina sambil mengelus dan mencium kening Ferdi, tanda restu dan kasih sayangnya kepada anak Sulungnya.

 

Bu Tina adalah seorang ibu rumah tangga yang aktif dalam kegiatan sosial di tempat tinggalnya. “wuihhh mas Ferdi keren loh calon artis papan atas nih hehe, sukses ya mas” ucap Arum sambil meledek. Arum adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga, berusia 18 tahun, memiliki sifat yang dewasa, mungkin karena kakak dan adiknya adalah laki-laki, jadi dia mencoba untuk mengimbangi dan selalu menjadi penenang dalam keluarga.


---minggu pagi---


“Tin..Tina” panggil bu Inah dengan tergesa-gesa. Bu Inah adalah kakak kandung dari Pak Surya (suami bu Tina) yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan keluarga bu Tina. “iya Ce, kenapa teriak-teriak?” “barusan Tommy nelfon ke rumah katanya lagi di kantor BNN, sama si Ferdi juga ada disana Tin” jelas bu Inah sambil menangis, Tommy adalah anak dari bu Inah.

 

Mendengar kabar bahwa anaknya sedang berurusan dengan pihak berwajib, sontak bu Tina pun lemas dan pucat. “apa yang terjadi pada anak saya ya Allah, apakah ada kaitannya dengan obat-obatan terlarang, mengingat begitu banyak gosip yang beredar adalah Ferdi terlibat dalam hal tersebut” ucap bu Tina dalam hati. “kamu coba telfon Surya Tin, saya sama si Mas mau ke BNN sekarang, mau bareng gak” kata bu Inah mengajak ke BNN bersama-sama.

 

“nanti deh Ce, aku tunggu mas Surya sampe rumah dulu, jam segini mungkin udah jalan pulang” jawab bu Tina dengan gemetar. Pak Surya adalah seorang security di salah satu perusahaan pemerintah, meskipun security, pak Surya bukan sembarang security, beliau dipercaya sebagai kepala bagian security, dan di lingkungan rumahnya, pak surya dipercaya sebagai sekretaris RW. “yaudah Tin, saya duluan ya. Kata si mas, kalo bisa secepatnya Tin, supaya bisa diurus pake uang” ucap bu inah, namun bu Tina tidak bisa menjawab apapun, karena kalau bicara soal keuangan, keluarganya pasti tidak memiliki uang yang banyak seperti keluarga bu Inah yang suaminya adalah seorang dokter rumah sakit negeri di Jakarta yang sangat terkenal.


----


“assalamualaikum” suara berat pak Surya terdengar saat memasuki pintu rumah, sambil melepas jaket dan helm, pak Surya menanyakan keberadaan anak-anaknya, mengingat hari itu adalah hari minggu, melihat anak-anak adalah cara terbaik untuk melepas segala lelah dan penatnya jalan raya tangerang-jakarta.

 

“Arum di kamar pak, Oso paling main di warnet atau PS ujung masjid” jawab bu Tina sambil mengambilkan pak Surya secangkir Kopi hitam racikan bu Tina sendiri, aromanya memang lebih nikmat dari pada kopi instan warung biasanya. “ingin rasanya langsung menceritakan apa yang dialami oleh anak Sulungnya, tapi berat rasanya bila harus melihat suamiku terbebani setelah mencari nafkah banting tulang untuk keluarga, namun mendapat kabar yang tidak mengenakan” batin bu Tina berbicara dalam hati yang menangis.

 

“Ferdi kemana mah?” tanya pak Surya yang mencari anak Sulung kepercayaanya, calon pengganti dirinya yang mulai menua memasuki usia 48 tahun. “Akhirnya beliau bertanya, aku harus berani menceritakannya, lagipula tidak mungkin aku pendam sendiri, mas Surya harus tau” lagi lagi batin bu Tina bergejolak hingga menceritakan semuanya ke suaminya.

 

“biarin aja udah, bapak kan udah sering peringatin, bapak gakmau kesana, biarin dia rasain, tanggung jawab!!!” sontak emosi pak Surya melonjak karena kesal. Berulang kali bu Tina membujuk untuk menengok anaknya, tapi begitulah pak Surya, watak kerasnya tidak bisa ditangkis oleh siapapun bahkan istrinya hanya bisa menuruti, meskipun hati bu Tina terasa teriris memikirkan anaknya disana, bu Tina hanya bisa mengirimkan doa. Sementara dari dalam kamar, Arum mendengar segala percakapan mulai dari mama nya bicara dengan Budenya, hingga obrolan kedua orangtuanya. Menangis dan ingin teriak rasanya hati Arum harus menghadapinya, apalagi Arum baru saja merasakan kebahagiaan karena berhasil masuk kuliah di Universitas impiannya sedari dulu.


---di rumah bu Inah---


“Ce, mas Surya gakmau diajak kesana, tau sendiri wataknya gimana” jelas bu Tina kepada bu Inah. “kalo gak buru-buru di urus bisa jeblos Tin, bilang ke surya. Biar gimanapun kan dia anak kita” ucap pak Aman, suami dari bu Inah.

 

“iya tau Tin, ini aja saya alhamdulillah bisa bawa Tommy pulang” tambah bu Inah. Bu Tina hanya bisa menangis dan menyesali keputusan suaminya yang tidak mau menengok anaknya. “kamu kalau mau besuk, hari selasa dan kamis jam 8-jam10 Tin, di BNN Cawang” bu Inah masih bersikeras membujuk Bu Tina untuk menjenguk anaknya.


---hari selasa---


“mba Arum.....” panggil bu Tina. “iya mah...” duk duk duk Arum turun dari kamarnya dan menemui mama nya, dengan mata yang sedikit bengkak dan senyum simpul, karena biar bagaimanapun Arum harus terlihat baik-baik saja agar mama nya tidak bersedih. Ternyata bu Tina menceritakan segala kejadianya kepada Arum sekaligus meminta pendapat apakah harus mengikuti perintah bapaknya untuk tidak menjenguk atau sebaliknya.

 

“mah, kasian mas Ferdi, mba Arum juga bingung harus gimana, tapi jujur mba Arum mau banget nengok mas Ferdi, mas Ferdi pasti butuh support dari keluarga mah. Meskipun kesel banget kenapa bisa bikin bapak sama mama kecewa.” Jawab Arum dengan nada sedikit tinggi karena menahan tangis dan sakit hati yang begitu dalam.

 

“iya mba, mama juga tau. Ya Allah mas Ferdi kalo mau makan aja harus diambilin mama, gimana disana.... apa ciuman mama malam itu udah pertanda mama akan jauh sama mas Ferdi” ucap mama sambil meneteskan air mata.

 

“Ya Allah, tak tega rasanya melihat mama menangis seperti ini” batin Arum berbicara sambil mengusap air mata bu Tina lalu memeluknya. “yaudah mah, yuk kita kesana sekarang”. Mendengar ajakan Arum yang hari itu sedang libur kuliah, bu Tina langsung bergegas membawa segala makanan favorite Ferdi dan baju-baju Ferdi ke dalam sebuah tas besar.

 

----di kantor BNN---


Pagi itu pukul 08.00 WIB bu Tina bersama Arum dan Oso mengunjungi Ferdi di kantor BNN, bertemu dulu dengan polisi yang menangani kasus Ferdi, lalu diantar ke tempat Ferdi ditempatkan yaitu jeruji besi. Begitu bertemu dengan Ferdi, bu Tina langsung memeluknya erat sambil menangis sesenggukan dilihat oleh semua orang yang berada disana. Oso, si anak bontot yang memiliki wajah garang dan bisa dbilang cukup bandel, juga ikut menangis melihat abangnya memakai kaos jelek dengan penampilan buruk serta kepalanya botak.

 

Sementara Arum, tetap mencoba tegar dan menenangkan hati mama nya, meskipun hatinya menangis kencang, namun Arum yang sebenarnya cengeng, terus mencoba menahan air mata agar tidak menetes, hingga akhirnya kakak satu-satunya itu memeluknya dengan erat, pecahlah tangisan Arum. “mas...ya Allah kenapa sampe ada disini sih, kan bapak sama mama udah sering peringatin, kasian bapak sama mama mas, ya Allah masss...” ucap Arum dengan sedikit tidak jelas karena air mata yang terus mengalir. Sementara Ferdi tidak bisa berkata apa-apa karena merasa sangat bersalah sudah menodai kepercayaan keluarga.

 

“bapak gakmau kesini ya Rum?” tanya Ferdi setelah melepas pelukan. “gaktau mas, sekarang bapak masih dijalan pulang dari kantor, mau ditelfonin?” ucap Arum sambil mengambil handphone lalu menelfon bapaknya. “halo mba... kamu udah di BNN?” dengan cepat pak Surya mengangkat telfon dari Arum. “iya pak udah ketemu sama mas Ferdi” jawab arum.

 

“bapak mau ngomong sama mas Ferdi”. “akhirnya bapak mau juga bicara dengan mas Ferdi” kata Arum dalam hati sambil memberikan Hpnya kepada Ferdi.

 

Sontak Ferdi langsung mengambil HP Arum “pak... mas Ferdi minta maaf pak...” kata Ferdi sambil menangis. “iya mas, ini bapak mau banget kesana, tapi.. aduuhh.. ban motor bapak bocor di jalan , ya Allah” suara pak Surya di loadspeaker, rasanya pak Surya bicara sambil menangis dan kesal karena ban motornya bocor. “kamu apa kabar mas? Makannya gimana disana? Ya Allah mas... bapak sedih banget ini”. Ferdi hanya bisa menangis tanpa berkata-kata, hanya iya iya saja. Tak banyak bicara karena waktu jenguk sangat terbatas. “yasudah mas, besok bapak sama semuanya kesana ya, kamu baik-baik disana, makan aja yang ada, jangan sampe sakit” rasa perhatian dan kasih sayang pak Surya sangat terasa begitu besar kepada anaknya. Tak lama dari menutup telefon, bu Tina, Arum dan Oso pun kembali ke rumah.


---hari rabu---


Hari ini sekeluarga siap menjenguk Ferdi, dengan menyiapkan segala makanan, namun kali ini tanpa baju-baju, karena sudah banyak baju disana. Pak Surya begitu bersemangat dan tergesa-gesa, tak sabar ingin memeluk anaknya. Arum dan Oso yang seharusnya pergi menuntut ilmu, hari itu harus izin karena ingin menjenguk kakaknya.


Sesampainya di BNN, pak Surya sekeluarga tidak perlu ke tempat Ferdi di jeruji besi, kali ini Ferdi yang dipanggil ke ruangan kantor untuk bertemu dengan keluarganya, karena hari rabu bukanlah jam besuk.


Terlihat laki-laki berbadan kurus, berpostur tinggi, bekepala botak, memakai baju narapidana berwarna biru tua, dengan sandal jepit berbeda warna, berjalan ke arah pak Surya sekeluarga. Tak tahan melihat kondisi kakaknya, Oso menangis lebih dulu dibanding yang lain.


Hingga Ferdi sampai, Ferdi langsung memeluk dan bersujud dihadapan Pak Surya sambil menangis dan menyesali perbuatannya yang memalukan itu. “maafin mas Ferdi pak....” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Ferdi, tak henti Ferdi memohon maaf kepada bapaknya. Setelah memeluki satu persatu, pak Surya bertanya tentang kronologis yang sebenarnya, meskipun sudah banyak dapat cerita dari istri dan kakak kandungnya, dia belum puas bila belum mendengar langsung dari anaknya sendiri. “malam itu, mas Ferdi abis manggung, terus mas ke kosan Sandi buat naro gitar dan alat-alat, gak lama mas Ferdi di kosan, tiba-tiba polisi dateng, yaudah semua yang ada di kosan dibawa kesini semua.” Jelas singkat Ferdi.

 

“terus emang beneran kamu ‘make’?ada barang buktinya juga?” tanya pak Surya. “gak lagi ‘make’ pak, Cuma pas kebetulan mas Ferdi lagi bawa ‘barang’ punya temen mau dikasih. Tapi mas Ferdi gak bilang ini punya temen, kalo mas Ferdi bilang pasti orang itu dicari, masuk juga, mas Ferdi bisa abis di dalem, jadi mending mas Ferdi tutup mulut aja, biar mas Ferdi tanggung jawab, jalanin sendiri di dalem.” Jawab Ferdi dengan lancar.

 

“menurut yang mama denger dari tommy, bener kamu dilelepin terus disetrum sampe pingsan supaya mau bilang nama-nama temen kamu?” tanya bu Tina sambil menangis karena mendengar anaknya disetrum dipukuli dan dilelepin sampe pingsan. Namun Ferdi tidak berani menjawab, ragu-ragu karena tidak mau mamanya mendengar kisah tragis tersebut. Waktu terus berjalan, pak Surya memberikan nasihat bukan untuk Ferdi saja, namun juga untuk Arum dan Oso, agar menjadikan kejadian ini sebaga pelajaran yang harus mereka ambil hikmahnya. Karena keterbatasan waktu, pak Surya dan keluarga pulang dengan hati sedih tanpa bisa membawa Ferdi turut pulang.


----

2 setengah tahun berlalu, usai mengurus surat-surat dan persidangan di kejaksaan jakarta utara, Ferdi dikenakan vonis selama 5 tahun 6 bulan sesuai UU penyalahgunaan narkotika. Persidangan disaksikan oleh pak Surya sekeluarga, dengan lapang dada dan ketabahan hati mereka menerima semuanya. Setelah dipindah mulai dari tahanan BNN, ke rutan Cipinang, lalu kini hingga waktunya Ferdi berada di rutan Gunung Sindur. Sementara pak Surya dan sekeluarga selalu rutin menjenguk 3 bulan 2 kali untuk melepas rindu dan memberikan support, tentunya dengan membawa makanan-makanan kesukaan Ferdi.

 

Meskipun berada di balik jeruji besi dan dinding yang sangat tinggi, Ferdi tidak mengubur hobby bermusiknya, kini ia menjadi pemain musik hiburan bagi tamu-tamu di rutan Gunung Sindur.

 

Pak Surya juga menjelaskan beliau sangat ingin sekali memeluk anaknya saat kejadian hari itu, perkataan beliau yang tidak ingin menjenguknya hanyalah perkataan emosi dan penyesalan terhadap dirinya sendiri yang tidak berhasil dalam mendidk anak sulungnya itu. Dibalik sikap kerasnya, pak Surya memiliki rasa kasih dan cinta kepada keluarga yang begitu dalam, tak perduli seberapa sulitnya roda kehidupan yang harus beliau lalui, semata-mata hanya untuk keluarga kecil yang beliau cintai. Hingga kini pak Surya berhasil meguliahkan Arum hingga lulus Sarjana, dan Oso akan masuk kuliah angkatan darat.
Seperti lirik lagu kesukaan Ferdi
Ku menangis tertawa , ku terluka untukmu
Kau belahan jiwaku.........

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Senin, 03/11/2014 - 09:24 WIB
Selasa, 04/11/2014 - 18:10 WIB
Jumat, 21/11/2014 - 10:12 WIB
Jumat, 07/11/2014 - 17:00 WIB
Sabtu, 01/11/2014 - 10:01 WIB
Kamis, 20/11/2014 - 09:51 WIB