Halo Sobat Souja, Stunting tengah menjadi kekhawatiran bagi para orangtua di tanah air.  " />
Apakah Stunting Itu Dan Bagaimana Cara Mengenalinya?
Senin, 22/10/2018 - 07:03 WIB
images-artikel/kecil/stunting.jpg
Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
 
 
Jakarta -

Halo Sobat Souja, Stunting tengah menjadi kekhawatiran bagi para orangtua di tanah air. Kaum muda pun semakin banyak yang menyadari bahayanya stunting atau stunted growth.


Stunting melanda sekitar 162 juta anak di bawah 5 tahun di seluruh dunia.


Sebenarnya apa yang dimaksud dengan istilah stunting dan seperti apa dampaknya bagi anak? Berikut ini akan kita bahas selengkapnya.


1. Definisi stunting


Dalam pengertian umum, stunting kerap diartikan sebagai kondisi di mana anak-anak memiliki tinggi badan yang terlalu pendek untuk usianya atau kerdil (stunted).


Menurut situs resmi WHO, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.


Anak bisa disebut kerdil jika tinggi badan berdasar usia (height-for-age) menyimpang, di bawah 2 standar deviasi median standar pertumbuhan anak menurut WHO.


Menurut UNICEF (The United Nations Children's Fund), stunting menandakan gizi buruk kronis selama periode emas tumbuh kembang anak di usia dini.


2. Ciri-ciri anak yang mengalami stunting


Ciri-ciri umum anak yang mengalami stunting adalah sebagai berikut:


Berat badan tidak naik, bahkan cenderung menurun


Perkembangan tubuh terhambat


Anak mudah terkena penyakit infeksi


Untuk mengetahui secara pasti anak mengalami stunting atau tidak, bisa dilihat grafik pertumbuhan tinggi badan berdasar usianya. Jika sesuai atau tidak berada di bawah 2 standar deviasi median standar pertumbuhan anak menurut WHO, maka bisa dikatakan anak tumbuh dengan normal. 


3. Dampak stunting pada anak


Stunting dikaitkan dengan keterbelakangan mental akibat otak yang tidak berkembang dengan normal.


Efek jangka panjangnya termasuk kemampuan mental dan kapasitas belajar yang rendah, kinerja sekolah yang buruk di masa kanak-kanak, rendahnya penghasilan di masa depan, serta meningkatnya risiko penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas di masa depan.


Pertumbuhan linear pada anak di usia dini adalah penanda kuat pertumbuhan yang sehat mengingat hubungannya dengan morbiditas dan risiko kematian. Kondisi ini juga berkaitan erat dengan perkembangan anak di beberapa domain termasuk kemampuan kognitif, bahasa dan sensorik-motorik.


Untuk itulah pemberian gizi yang cukup dan seimbang pada anak sejak di dalam kandungan hingga lima tahun pertama sangat penting bagi tumbuh kembangnya di masa depan. Terpenuhinya nutrisi pada ibu dan anak sejak sebelum, selama, dan sesudah kehamilan perlu diperhatikan.

 
 
Artikel Terkait:
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-