Awan Tiada Bertiang
Jumat, 18/03/2016 - 17:39 WIB
images-artikel/kecil/AWAN TIADA BERTIANG.jpg
Sumber: soulofjakarta.com
 
 
Jakarta -

Entah kapan fasilitas umum itu mulai ditinggalkan , tidak banyak manusia berlalu lalang di jalan ini hingga dering nya cukup terdengar baik olehku yang berjarak tiga meter dari halte kota. Ku siapkan mental sebelum mengangkatnya, sedikit menghela napas dan percakapan searah pun berlalu membawa cahaya dalam hidupku yang kelabu.“ Halo Aku, apa kabar ? “ sapaan lembut membuka percakapan disebuah kotak kaca berembun, yang selalu usang berlapis debu kini bening karena derasnya hujan.


“ A..ku ? maaf saya..? ““ Kaget ya, tenang iniDina”“ ... ?? “ sontak ku terdiam, namaku disebut. Tapi bukan hanya aku pemilik nama itu , puluhan bahkan ratusan Dina terdaftar dalam Yellowpages tapi bagaimana mungkin sebuah telepon kabel milik umum bisa menyambungkan penelpon tepat dengan penerima yang kebetulan lewat, otak ku berputar telingaku terus mendengarkan berbagai ha lyang terjadi hanya antara aku, Farro dan Fiona lima tahun lalu, tak tau harus berkata apa hingga semakin lama kusadari benar suara ini.. suaraku.


***


“ Saya percaya sama Kak Dina, kami dan saya pribadi mengharapkan Kakak bisa setia serta mau bertumbuh di perusahaan ini “ ucap Farro lugas. Sedikit terasa aneh dihati walau telinga nyaman menanggapinya. Ternyata hatiku memang lebih peka melebihi semua inderaku, sejak mendengar ungkapan Farro -yang aku sendiri masih bingung entah berupa penyataan atau permintaan nya itu- dihari pertama bekerja. Senior sekaligus HRD kantor ini selalu bersikap ramah dan punya kepribadian yang menyenangkan, murah senyum, tenang namun bijaksana dan tegas dalam setiap tindakan nya. Semangat nya juga mampu mempengaruhi atmosfer kantor. Semua orang mengagumi Farro sebagai pimpinan begitupun aku.


“ Pagi Dina, “ sapa Farro lengkap dengan telapak tangan yang bersiap utk hi five denganku.


“ Pagi.. Pak Farro” sambutku. “ Kok Pak ? Kakak dong.” Balas Farro mengingatkan, aku memang tidak pernah bisa memanggilnya Kakak. Sudah jadi budaya kantor untuk sebutan Kakak bagi sesama rekan kerja nya agar tercipta rasa kekeluargaan selain bidang edukasi anak yang melatarbelakangi perusahaan. “ i iya sorry, Kak ” menatap Farro lalu tersipu malu.

 

Memandangi Fiona yang sedari tadi menatap layar ponsel pintar buatan Korea miliknya , seporsi steak ayam terbaring rapi bersama kentang wortel juga jagung diatas hotplate penuh saus hanya berkurang setengah iris yang tertancap garpu teralihkan media sosial hingga kini. Suasana makan bersama kami selalu begini setahun terakhir , terlewat begitu saja tak seperti rutinitas istimewa malah menjemukan. Sengaja setiap pekan kami rencanakan untuk bertemu mengunjungi berbagai tempat berbeda, berharap sikap Fiona juga berbeda tak lagi mengacuhkanku seperti hari ini.


“ steak nya dingin tuh, habisin dulu “ tegurku mencari perhatiannya. Fiona hanya melahap steak digarpunya tanpa berkata.“ taro dulu handphone nya , Fi ” “ kalo dingin kan ngga enak steak nya “ ujarku perlahan menaikan nada bicaraku.


“ ahh, hp ku.. kok diambil sih A ?! “ sahut Fiona spontan. Merebut ponselnya adalah upaya terakhirku untuk mengembalikan fokus Fiona saat itu, walau ngambek resiko nya.


Sepanjang jalan kurenungkan masa depan hubungan kami sementara Fiona hanya terdiam dan membuang muka, kesal.Anniversary ke lima yang sunyi. Saat tiba dirumahnya pun dia mencium tanganku cepat dan berlalu setelah kuberikan ponselnya. Pukul tiga pagi ponselku bergetar, notifikasi sms masuk.


Send To ; Aa Farro
Kemarin kamu nyebelin banget, aku ngga suka cara kamu.
Kita break dulu ya , aku capek. –Fiona.                Diterima; 03.03


Send To ; De Fiona
Okay , kalo cuma itu yang bisa bikin kamu tenang dan maafin aku. –Farro.                                            Dikirim; 03.10


Hubungan ini mulai renggang, mungkinkah ini titik jenuhnya atau garis akhirnya? ku biarkan waktu membawanya kemanapun. Lima tahun sudah lebih dari cukup untuk memahami sifat kami berdua. Mempertahankan hubungan untuk berlanjut juga sama sulitnya dengan mengakhiri kebersamaan penuh kenangan. Keduanya hanya butuh sebuah pembuktian.


“ Dina ! ayo bareng aja , udah malem nih.” Seraya menyerahkan helm putih half face padaku. Bagian sarung kulit dalam nya terukir F.L.F seperti pada payung, kalung, strap arloji , mug bahkan sepatu kets milliknya.


“ mungkin inisial nama nya “ pikirku dalam hati. Tersenyum pada Farro dan menerima tumpangan nya. Kami semakin dekat , dinas kantor membuatku selalu bergantung padanya. Aku pun mulai besar kepala karena perhatian yang belum pernah kudapat selama dua puluh tahun dari seorang teman pria sepertinya. “tanya aja kalo bingung” , “sini biar aku yang bawa ya“ , “makan yang banyak biar sehat” , “pake jaketku nih, nanti kehujanan” , “bareng aja, aku anter sampe rumah“ , “cepat tidur, jangan begadang” selalu Farro sampaikan dengan senyum nya.


Siang ini kami janjian bertemu di depan kincir raksasa simbol taman wisata untuk merayakan setahunku di perusahaan, dari kejauhan terlihat pria dengan gaya preepy semampai khas Farro. Seharian mengelilingi taman mencoba berbagai wahana hingga petang dan pulang membawa banyak kenangan indah selain photo wefie dan gulali. “ seru ya, sampe ngga terasa udah gelap aja nih” ujar Farro yang sibuk melihat photo polaroid kami. “ ini semua buat kamu, di simpan loh” tegasnya.


“pasti ku simpan dengan baik, untuk melepas rindu padamu” dalam hati jawabku. Ya, hari ini juga jadi perpisahan ku dengan nya. Farro akan studi banding ke Lombok malam ini penerbangan nya.


“ makasih banyak ya Kak “ ucapku melambaikan tangan pada Farro yang berlalu dengan ponsel berdering.


“ Ya, Fiona..” jawabnya samar suara nya bergetar semakin melemah dan menjauh. Tak terlihat lagi.
Kutandai hari pertama pada kalender Desemberdengan bentuk hati walau masih November , tak pernah seharipun tak teringat dia. Senyum nya , gurauan nya juga keseharian nya selalu dipikiranku. Tak jarang terkenang Farro duduk di meja kerja nya menatap serius layar komputer, itu pemandangan selama setahun tertangkap mataku. Lagi dan lagi di segala momen ada saja kenangan bersamanya, jantungpun berdebar ku tersenyum sendiri. Bahagianya membayangkan kita berdua menghabiskan waktu bersama lagi. Kagum telah menjadi rasa rindu yang mendalam, akan ku ungkapkan perasaan ini begitu ia kembali cinta pertamaku.. Farro.


***
“ Aa.. “ telepon nya terputus. Sengaja kututup setelah kusampaikan panggilan sayang selama enam tahun untuknyadengan begitu lemah dan tertahan, Farro mencoba menghubungi nomor tak dikenal ini kembali dan kubiarkan mailbox yang menjawab.


“ Fiona, ini aku. Ada apa? Kau kemana saja ? setelah setahun akhirnya aku mendengar suaramu.. aku menyesal mengikuti permintaan mu saat itu, kau pergi tanpa kabar semua kontakmu juga ngga aktif. Katakanlah apa salahku, aku selalu menunggu maaf darimu Fiona.” pesan nya selalu ku putar ulang , saat kurindu suara Farro kekasihku yang kini ku gantungkan perasaannya.
Sudah jadi kebiasaanku memberi harapan pada semua pria yang tertarik padaku lalu meninggalkan mereka saat bosan dan mencari penggantinya. Riwayat percintaanku tidak pernah ada istilah putus nyambung ataupun CLBK. Lalu mengapa sulit meninggalkan Farro, pria yang paling berbeda diantara lima mantanku. Ia bukan dari keluarga kaya, hanya pria sederhana yang pintar dan penyayang.cukup standar namun yang paling awet hubungannya denganku. Kami dipertemukan sebagai pasangan pagar ayu dan pagar bagus dalam acara pernikahan enam tahun lalu , perkenalan kami berlanjut jadi sahabat kemudian sebagai kekasih. Apa karena itu kenangan bersamanya tak bisa dilupakan bahkan selalu teringat jika ku berusaha melupakannya. Meski terkadang merasa jenuh bersama nya tapi perpisahan ini hanya menambah kehampaan. Sampai suatu pagi, bel rumahku berbunyi. Kulihat dari jendela lantai dua, seorang pria setelan jas hitam putih membawa buket mawar merah dibalik punggung nya.


“ kamu berubah, lebih rapi. Sekarang pasti kamu sudah lebih bahagia ya” ucapku berusaha keluar dari keheningan. Farro begitu diam dan sikapnya dingin.“kenapa diam, bicaralah ” sambungku dengan senyum.“ ... “ tanpa respon Farro menegakkan duduknya seketika benda kecil jatuh menyentuh lantai kayu bunyinya cukup khas. ‘clingg’ benda itu berputar dahulu lalu berhenti. Sebuah cincin emas putih tanpa mata kembali diletakan Farro dalam kotak merah nya.“ maafin aku Fiona, tetaplah bersamaku dengan cincin ini sampai akhir hayat kita” Farro berkata seraya menunjukan benda kecil dan buket mawar ditangan kirinya.


“ apa maksudmu, kita sudah..”

“maksudku, menikahlah denganku. Kita sudah terpisah dan akan bersama lagi setelahnya” sahut Farro tegas memotong perkataanku , ku ikuti kata hati untuk memeluknya tanpa berkata berderai tangisku bahagia. Semua kegelisahan terjawab sudah saatnya mengakhiri kesendirianku mungkin ini buktinya bahwa dia memang yang aku cari , cinta terakhirku. “ Fiona Love Farro” kini terukir pada cincin dan hati kami.


***


“  sampai bulan Desember, Farro tidak  kembali hanya undangan  pernikahan nya dengan Fiona tersebar di facebook “ “ lalu kamu merasa dipermainkan dan mengajukan resign seminggu sebelum hari H , padahal saat itu kamu tidak berpikir dengan otakmu namun hatimu saja”


“ jadi kamu menyesal sampe sekarang kan?!”“ cinta tak harus memiliki itu bohong. Untuk apa kita mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain, selamanya cinta kita tidak akan terbalas”. Benar sekali, semua itu memang terjadi padaku. Meski sudah setahun berlalu tetap belum bisa merelakannya. Cinta pertamaku kandas , bertepuk sebelah tangan dan terpendam. Memang salahku yang terlalu menggunakan perasaan pada segala hal, hingga logika terabaikan. “ sudahlah, yang lalu biar berlalu. Kamu harus memulai hidup baru. Percayalah Dina saat ini begitu bahagia.”


“ manusia memang tercipta dari tanah, namun dengan kerja keras dan keyakinan ia bisa terbang seringan awan jika mampu melepaskan beban hidupnya”


Jika Farro telah hidup bahagia bersama Fiona, mengapa aku harus merana? Kebahagiaan adalah hak setiap orang. Maka aku harus memperjuangkan hak ini. Luka hatiku selalu menjadi beban terberat selama ini, hanya keikhlasan menerima kenyataan hidup mampu meredakan sakitnya. Walau sekarang telepon umum itu tidak pernah berdering seperti saat pertama kulewati bahkan tidak bisa digunakan lagi.Aku bersyukur suara yang pernah menyapaku lewat telepon selalu bisa aku dengarkan dan menuntun setiap tindakanku suara itu.. suara hatiku.

 

Itulah kisah di balik makna Menangis Tertawa dari Triana Febriant. Bagaimana kisah dibalik ceritamu?

 

 

 

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Senin, 03/11/2014 - 09:24 WIB
Selasa, 04/11/2014 - 18:10 WIB
Jumat, 21/11/2014 - 10:12 WIB
Jumat, 07/11/2014 - 17:00 WIB
Sabtu, 01/11/2014 - 10:01 WIB
Kamis, 20/11/2014 - 09:51 WIB