Burung Elang dan Burung Pipit
Kamis, 30/08/2018 - 11:37 WIB
images-artikel/kecil/souja kecil.jpg
Sumber: soulofjakarta
 
 
jakarta -

Aku menatap kebawah dan melihat bayangan seekor burung pipit yang sedih dan lemah, selalu mengepak sayap-sayap kecilnya menerpa angin. dan saat butir-butiran pasir yang beterbangan menghunjam tubuhnya.
Ia berjuang dengan segenap kemampuannya untuk tetap terbang. membungkukkan punggungnya yang telah letih. namun ia tidak bisa.

Aku merasakan diriku bagai burung pipit itu, terbelenggu dan tak berdaya dibumi ini. dan kesedihan menorehkan luka yang ada pada asa didalam diriku yang melemah.

Aku telah melihat sebuah gelas yang kosong setengahnya yang membuatku begitu putus asa. Sebenarnya, bagian setengahnya yang dituangkan adalah nektar yang telah lama aku inginkan dan aku butuhkan.
Aku menangis dalam hati.
Aku merasa seperti mencium sekuntum mawar tapi pastinya mawar yang salah.

Aku punya jiwa dan spirit tapi telah lama terlupakan. dan jiwa serta spirit itu bahkan tidak saling menyapa.
Disaat aku mengerahkan sisa-sisa daya dan keberanianku kedalam sayap yang harus segera kukepakkan, aku benar-benar kehilangan arah Tujuan yang telah aku tetapkan.
Aku merasa tersesat dalam hidup ini. 

Namun dalam gelapnya pengetahuan dan keluh kesahku, akhirnya kutemui harapanku, dalam kebenaran sejati yang sama sekali tidak kumiliki. Aku menemukan angin, segala sesuatu menjadi baru dan aku melayang. kemudian membubung tinggi. tanpa perlu mengepakkan sayapku.
Jiwaku mengenal lagi spiritku. 
Nektar itu bukan didalam gelas, karena ia telah dituangkan kedalam jiwaku.

Aku mengamati isi seluruh dunia menghirup dan mengembuskan keindahan murni. Berat tubuhku menguap bersama napas kelegaan yang kuembuskan.

Aku kembali melihat kebawah. 
Burung pipit itu sudah tidak ada lagi.
Aku hanya melihat rentang sayap seekor elang yang berteman dengan angin. 
dimana elang selalu menjadi bagiannya.

Sobat Souja, mungkin kadang kita terlalu keras dalam masalah yang kita hadapi dan mengeluh. pilihan terbaik adalah tetap merasa santai dan tenang dengan pikiran sendiri, bertahan dalam kecamuk badai lalu terbang bersama kencangnya angin yang menderu. diam ditempat dengan pemikiran-pemikiran buruk tidak keluar dari masalahmu malah akan menambah musibah baru.

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Minggu, 14/10/2018 - 21:57 WIB
Senin, 01/10/2018 - 10:43 WIB
Senin, 01/10/2018 - 08:44 WIB
Sabtu, 06/10/2018 - 08:13 WIB
Rabu, 03/10/2018 - 07:34 WIB
Senin, 01/10/2018 - 01:50 WIB