Ini Dia Cara Keluarga Di Jepang Untuk Bertahan Tanpa Pewaris
Jumat, 20/01/2017 - 09:34 WIB
images-artikel/kecil/uchi-budaya-bisnis-Jepang.jpg
Sumber: Maxmanroe.com
 
 
Jepang -

Halo Sobat Souja, tahukah kamu, Jepang merupakan salah satu negara dengan tingkat adopsi tertinggi di dunia? Setiap tahun, tercatat lebih dari 80.000 adopsi yang dilakukan dengan persetujuan negara. Walaupun begitu, yang paling banyak diadopsi bukan balita dan anak-anak, tetapi pria berusia 20 hingga 30-an. Pasalnya, para pria muda ini diangkat sebagai anak untuk meneruskan bisnis keluarga yang tak punya pewaris lelaki.


sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bisnis yang dikendalikan keluarga umumnya tidak dapat bertahan dalam waktu yang lama. Pasalnya, kecerdasan dan naluri bisnis pewaris perusahaan biasanya tak setajam pendahulunya. 


Sementara itu, mewariskan bisnis di luar anggota keluarga akan membuat nama pendiri terkikis seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini diatasi oleh para pebisnis Jepang dengan mengangkat pria muda dan berbakat sebagai pewaris.


Sebelum Perang Dunia II, terdapat kesepakatan tak tertulis bahwa kekayaan keluarga hanya bisa diwariskan melalui garis keturunan laki-laki, lebih tepatnya melalui anak lelaki tertua. Keluarga yang memiliki anak perempuan akan memilih seorang mukoyoshi atau menantu yang diangkat sebagai anak sah.


Berkat sistem adopsi ini, perusahaan raksasa seperti Suzuki, Toyota atau Matsui Securities berhasil bertahan selama lebih dari 100 tahun. Bisnis dengan manajemen keluarga yang dinilai rapuh justru berkembang menjadi perusahaan yang menguntungkan dan memiliki valuasi pasar lebih tinggi.


Osamu Suzuki, chairman Suzuki Motor Corporation merupakan salah satu contoh dari adopsi penerus bisnis keluarga. Pria yang bernama asli Osamu Matsuda ini merupakan orang keempat yang diadopsi sebagai pewaris dan penerus Suzuki.


Di zaman modern, keluarga pebisnis di Jepang tak menganggap tabu gagasan tentang anak perempuan sebagai pewaris. Tetapi mengadopsi menantu atau pria muda sebagai penerus kejayaan bisnis keluarga masih sangat diminati. Tak sedikit anak muda dengan kecerdasan dan pengetahuan tentang bisnis yang tinggi masuk ke dalam keluarga lain untuk meneruskan toko, perusahaan, atau restoran.


Sekarang bahkan ada sejumlah biro jodoh dan konsultan pernikahan yang mengkhususkan diri dalam merekrut pria dewasa untuk diadopsi para pemilik bisnis.


"Permintaannya tinggi, karena tingkat kelahiran di Jepang turun drastis dan banyak keluarga yang hanya memiliki anak perempuan," kata Chieko Date, pendiri situs biro jodoh khusus mukoyoshi. "Dan banyak pria muda yang mencari kesempatan untuk menggunakan keterampilan bisnis mereka di luar dunia korporasi, karena dalam perekonomian saat ini, memanjat tangga korporasi jauh lebih sulit."


Bagi sebagian orang, motivasi adopsi seperti ini mungkin terdengar kelewat materialistis. Namun menurut penelitian, ini adalah cara yang sangat efektif untuk menjaga 'kesehatan' bisnis keluarga hingga beberapa generasi berikutnya.


The New Economy mengemukakan, "Mengadopsi orang dewasa yang berkualitas untuk menjadi kepala bisnis keluarga memiliki keuntungan berlipat tiga, yaitu menghindari ahli waris sedarah yang kurang berbakat, membangkitkan kinerja yang lebih baik dari para manajer yang berada di jalur cepat untuk mendapatkan kepemilikan perusahaan dengan menjadi anak angkat, dan mendorong proaktivitas para ahli waris sedarah yang hidup di bawah ancaman digantikan oleh si anak angkat yang lebih unggul. Tekanan-tekanan internal untuk menjadi lebih unggul ini lantas diterjemahkan menjadi investasi dolar dalam jumlah yang tak main-main."

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Jumat, 21/09/2018 - 17:32 WIB