Kekuatan Cinta
Jumat, 29/01/2016 - 18:45 WIB
images-artikel/kecil/kekuatan copy.jpg
Sumber: soulofjakarta.com
 
 
Jakarta -

Makna dari Menangis Tertawa yang di dapat :
Dari lagu ini Menangis Tertawa, makna yang di dapat adalah komitmen. Disaat menjalin hubungan harus ada komitmen. Bukan keadaan senang ada, tapi harus selalu di support disaat jatuh juga.

Aku tak tahu sampai kapan aku harus bertahan. Tapi yang aku tahu, cinta sejati itu harus saling menyemangati keadaan suka dan duka. Aku percaya, badai ini pasti berlalu. Aku tahu, aku harus bersabar lebih lama lagi, ungkapku dalam hati.
Aku tak bisa menahan air mataku, aku tak bisa menutupi kesedihanku. Berkali-kali aku mencoba menghentikan air mata ini, tapi tidak berhasil. Aku mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan diriku. Aku mencoba tersenyum di depan kaca, sebelum aku kembali ke ruangan sebelah.


“Aku pasti bisa! Semangat Dinda!” ujarku menyemangati diriku.  Setelah aku bisa mengontrol diriku, aku pun keluar dari toilet dengan melemparkan senyum kembali dari wajahku.


“Ngapain aja sih, non? Lama banget,” Tanya Linda, sahabatku. Aku tahu, ia melihat hal yang berbeda dengan diriku.
“Nggak pa-pa. Tadi aku sakit perut, jadi lama,” kilahku.


Linda memperhatikan wajahku lama. “Matamu merah, Din. Lu abis nangis ?” tanyanya penuh curiga.


Aku tertawa untuk mengalihkan perhatian Linda. “Hahaha..iya, softlens aku sobek makanya tadi aku lama. Perih banget sih mata aku, Cuma udah better dibanding tadi.”


“Lu, dah lepas softlensnya kan? Hati-hati loh, takut infeksi mata lu, Din.”


“Sudah kok. Kalau nggak, pasti mata aku dah tambah berair lagi deh!” Aku mengambil selembar tisu lalu menyeka air mata yang keluar dari mataku yang berair.


“Sih Dion kok pulang duluan, Din? Kenapa dia?” Tanya Bayu dengan heran. Pasti semua orang akan heran dengan Dion. Apalagi, Dion nggak pernah meninggalkan aku sendiri diacara temu bareng teman-teman kita seperti  ini. Bahkan pulang kantor pun, ia selalu on time menjemput aku pulang.


Sudah aku duga, pasti bakal ada yang tanyakan hal ini. “Tadi mamanya Dion telepon, dia minta tolong di temanin kemana gitu, penting kayaknya. Makanya Dion balik duluan. Kenapa gitu, Bay?”


“ Nggak pa-pa, Din. Cuma heran aja, dia pergi gitu aja dengan wajah kesal gitu. Aku kira dia abis berantem sama kamu.”


“Nggak lah, Bay. Kenapa juga kita berantem?” tutupku. Walau dalam batinku menangis. Karena sudah 1 bulan ini, sikap Dion berubah gitu aja. Dia tertutup, dia jadi dingin, dia mudah marah, dia jadi cuek dan beda banget sama Dion yang aku kenal. Padahal 2 bulan lagi, kita mau menikah. Berat banget untuk menghadapi perubahan sikapnya, tapi aku tahu itu sementara.


“Nggak mungkinlah, Bay. Kan mereka pasangan paling so sweet gitu, bentar lagi mau married gitu. Mana mungkin ribut masalah kecil gitu,” puji Linda.


Aku membalasnya dengan senyuman. Karena jujur , aku merasa itu bukan pujian untukku.


                                                                     *********************


“ Kamu kenapa pergi gitu aja?” tanyaku menahan kesal kepada Dion. Namun Dion tidak merespon sama sekali. Dia hanya sibuk dengan gadget dan laptopnya tanpa memperdulikan kedatanganku.  “Dion…”panggilku kembali.


“Kalau kamu berisik, mending kamu pulang aja!” ujarnya ketus tanpa memandang ke arahku sama sekali.


Aku menahan amarah dan tangisku. “Kamu kenapa sih? Udah 1 bulan kamu seperti ini loh! Dan aku cukup sabar menerima semua perlakuan kamu, Dion.” Jujur aku sudah lelah dengan semua ini.


Dion menutup laptopnya. Dan memandangku dengan sangat tajam. Pandangan itu dingin berbeda dengan Dion yang aku kenal. “Gak ada yang harus aku jelasin. Kalau kamu datang Cuma mau bertengkar mending kamu pulang aja sekarang. Aku lagi mau sendiri sekarang, bisa?”


Tanpa sadar air mataku menetes begitu saja. Aku menyeka air mataku. “Ok. Aku pergi sekarang, Dion. Aku akan tunggu kamu terbuka sama aku, Dion.” Aku tinggalkan Dion begitu saja. Dan aku tahu, ia sedang terguncang saat ini. Di dalam sikap dinginnya, aku tahu masih ada rasa sayang Dion untuk aku.


                                                        **********************


1 minggu sudah berlalu setelah kejadian itu. Dan sikap Dion tetap dingin seperti itu kepadaku, ia gak menghubungiku sama sekali. Bahkan teleponku, lineku, gak pernah ia balas seminggu ini. Jujur, sikapnya membuat aku ragu untuk melanjutkan hubungan ini dengan Dion. Apalagi, tahun depan kami berencana untuk menikah. Apakah itu hanya rencana saja, atau bisa kami realisasikan? Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di kepalaku.


“Heii...” panggil Linda membuyarkan lamunanku.


“Ohh, Linda,” jawabku tak bersemangat.


“Kamu kenapa sih?  Semuanya oke kan, say?” Tanyanya memastikan keadaanku.


Jujur aku sudah gak bisa berpura-pura lagi bahwa keadaan aku baik-baik saja.  Aku memeluk Linda dan menangis sejadi-jadinya di pelukan sahabat kesayanganku itu.


“Hei..hei..kamu kenapa sai? Ada masalah apa, Din?” Tanyanya dengan panik.


Aku gak bisa berbicara apapun kecuali menangis. Dan beberapa Linda pun menyerah  bertanya tentang masalah yang aku alami. Ia memelukku dengan erat dan menenangkan keadaanku.


“Aku gak tahu, Lin. Udah sebulan ini, Dion berubah sama aku. Dia jadi dingin, kasar, sama aku. Aku selalu bertahan dan menerima semua apa yang dia lakukan ke aku. Aku gak tahu nasib hubungan aku kedepannya,Lin,” ungkapku pasrah dan putus asa.


“Kamu harus tenang dulu, Din. Apa mungkin dia berubah karena kerjaan, Din?” tanya Linda pelan.


“Mungkin,” jawabku. “ Aku tahu sejak dia dipecat dari kerjaan, dia berubah jadi emosian, kasar, dan dingin. Tapi gak harus gini kan, Lin? Bisakan dibicarakan baik-baik,” ujarku kesal.


“Din, sabar yaaa,” peluk Linda dengan erat.  “Dion itu sayang sama kamu. Mungkin dia seperti itu karena dia merasa malu dengan keadaannya. Cowo itu pasti mau kelihatan lebih di depan cewe yang disayanginya. Dia pasti mau melindungi kamu, mau buat kamu bahagia, dan mau kamu merasa tenang di dekat dia. Tapi kalau sekarang dia gak bisa menjaga dirinya, kehilangan pekerjaan, gimana dia mau melindungi kamu? Mungkin rasa malu, tertekannya, membuat dia jadi seperti itu. Sok kamu pikir, kamu punya kerjaan yang oke, kehidupan udah mapan juga, sedangkan kerjaan dia yang selalu ia perjuangkan untuk kehidupan kalian kedepannya, hilang begitu saja. “


Aku terdiam mendengar penjelasan dari Linda. “Aku tahu itu, Lin. Aku Cuma mau menolong Dion. Aku mau dia nggak dia sendiri dalam masalahnya. Aku mau menemani dia. Tapi kalau dia begini, gimana aku bisa nolong dia, Lin?”


“Kadang dukungan gak harus dengan perkataan, Din. Dengan tindakan itu lebih punya efek loh! Dengan kamu tetap setia di dekat dia waktu dia senang atau sedih, itu udah dukungan terbesar. Mungkin di depan kamu, dia dingin. Tapi sebetulnya dia sayang kamu, dia gak mau kamu lihat keadaan terpuruk dia. Jadi, sebisa mungkin ia buat kamu sedih dan ninggalin dia sendiri.”
Aku hanya menghela nafas. Memang apa yang dikatakan Linda benar, Cuma aku ragu apa bisa aku bertahan di tengah keadaan yang seperti ini. “Makasih yaa, Lin. Kamu benar. Doain aja aku bisa bertahan yaa.”


“Kamu cewe yang kuat dan setia, Din. Ketika dia memperlakukan kamu kasar, kamu diem, malah membela dia. Ketika dia nyakiti kamu, kamu tetap terus mencari dia, dan bertahan.  Kita semua tahu kok, waktu itu Dion ninggalin kamu,bukan ketemu mamanya. Cuma kamu tetap melindungi dia di mata kita.”


Aku tertawa mendengar pernyataan Linda. Karena aku sendiri bingung, apa benar aku orang yang kuat? Cuma satu hal yang aku tahu, cinta itu butuh komitmen. Komitmen itu buat aku, selalu ada  disaat  keadaan menangis, disaat keadaan tertawa, dan saling mendukung. Jadi, hal itulah yang membuat aku kuat menerima perlakuan Dion kepadaku. “Lin, aku pergi dulu yaa. Ada hal penting yang harus aku kerjakan,” ujarku tergesa-gesa. Tiba-tiba aku teringat Dion. Aku gak tahu perlakuan apa yang harus aku terima, Cuma aku mau ada didekat dia saat ini.  


Ketika aku membuka pintu, aku kaget melihat Dion berdiri di depan pintu rumahku. Ia terlihat ragu, bimbang, raut wajahnya terlihat sedih.


“Kamu kenapa,sayang?” tanyaku panik. “Kamu gak pa-pa kan?”


Lalu ia memelukku dengan erat. “Maafin aku,Din. Maafin sikapku selama ini yaa. Maaf belakangan ini aku lagi kacau.” Suaranya terdengar berat, aku bisa merasakan rasa bersalahnya dengan sikap Dion terhadapku, kesedihan dalam suaranya.


Aku membalas memeluknya. “Dion, aku senang kamu terbuka sama aku. Biarin aku ada disamping kamu, biarin aku support kamu, biarin aku selalu ada diwaktu menangis ataupun tertawa bersama kamu. Bolehkan?” pintaku.


Dia gak menjawabnya, tapi dengan sikapnya yang hangat, aku tahu, kalau ia membukanya dirinya kepadaku.
                                                            
-    Fransisca Octavia -

 

Nah, berikut tadi contoh karya untuk lomba NULAR ini. Buat persyaratan dan ketentuannya, jangan lupa baca disini yaa, sobat Souja. Yuk, kirimkan karya terbaikmu kesini. Dan raih hadiah utama, tiket pesawat ke bali serta hadiah menarik lainnya. Mau tahu, profile Ricky Kevin, baca juga disini  

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Senin, 03/11/2014 - 09:24 WIB
Selasa, 04/11/2014 - 18:10 WIB
Jumat, 21/11/2014 - 10:12 WIB
Jumat, 07/11/2014 - 17:00 WIB
Sabtu, 01/11/2014 - 10:01 WIB
Kamis, 20/11/2014 - 09:51 WIB