Kenangan Terindah
Kamis, 17/03/2016 - 13:41 WIB
images-artikel/kecil/kenangan terindah.jpg
Sumber: soulofjakarta.com
 
 
Jakarta -

Cerpen ini aku buat berdasarkan lagu Menangis Tertawa yang kemarin aku dengar. Lagu ini mengajarkan aku tentang kesetiaan. Bagaimana kesetian membuat kita berani berkorban untuk pasangan. Lagu Menangis Tertawa enak banget untuk di dengar dan kata-katanya penuh makna loh!

 

Waktu terus berjalan seperti hidup kita yang selalu berjalan maju. Tapi hal itu tidak berarti untukku, sejak kejadian yang memilukan. Hidupku terasa terhenti disaat itu. Andaikan saja waktu dapat kembali sebelum kejadian itu…


Aku terus memandangi foto Josh dan kupeluk foto tersebut. Aku rindu dengan Josh, aku kangen sama Josh hanya itu yang aku rasakan ketika melihat fotonya.  


Aku terhanyut dengan pikiranku sendiri tanpa aku sadar mamaku memperhatikan diriku dari balik pintu kamarku. Ia mendekatiku perlahan. Lalu ia memelukku dari belakang. “ Dinda, kamu jangan seperti ini terus  sayang, “ pintanya lembut dengan suara bergetar.


“Kenapa, ma? Memang Dinda kenapa?” Aku gak mengerti dengan maksud mamaku sendiri.


“Mama gak mau kamu mikirin Josh seperti ini terus.  Relakan Josh, sayang.”


“Kok mama ngomong gitu sih? Hubungan Dinda sama Josh baik-baik aja, kenapa Dinda harus lupain Josh?” Aku merasa sedih dengan pernyataan mamaku.


Mamaku terlihat bingung dengan sikapku. Ia terlihat takut menyakiti perasaan aku. “Mama bukannya nggak suka sama Josh, sayang. Tapi Josh udah pergi jauh meninggalkan kita. Mama mohon kamu jangan terus memikirkan dia lagi. Mama mau Dinda yang dulu, Dinda yang ceria. Ayo sayaang, move on.”


“Josh ada dirumahnya ma, dia nggak kemana-mana. Mama bohong. Dia nggak pernah ninggalin, Dinda,” ucapku dengan histeris. Lalu aku berlari meninggalkan kamarku. Batinku nggak bisa menerima semua perkataan mamaku. Aku sadar sikapku pasti membuat mamaku sedih. Tapi aku nggak bisa menerima semua apa yang mamaku ucapkan.


                                                                              ****************


Hujan turun dengan derasnya seperti hatiku yang sangat sedih saat ini. Aku mengetuk pintu rumah di hadapanku dan aku memanggil nama sahabatku, Mia, berulang kali. Aku menunggu di depan pintu rumah Mia beberapa saat hingga menggigil. Mia, akhirnya membukakan pintu untukku.


Mia terlihat panik melihat diriku yang menggigil. “Ya ampun, Dinda. Kamu kenapa basah kuyup begini?” Ia bergegas mengambil handuk kering untukku, dan membantu mengeringkan rambutku.


Aku terdiam dan nggak menjawabnya sama sekali. Ia pun langsung mengambil secangkir teh hangat untuk aku minum. “Mi, boleh aku nginep hari ini dirumah kamu?” tanyaku dengan suara gemetar karena menggigil.


“Ada apa, Din? Kok kamu lari ke rumah aku sampai basah kuyup  gini?”


“Aku bertengkar sama mama, Mi. Aku kesal sama mama aku, Mi. Dia seenaknya bilang Josh udah meninggal dan minta aku harus lupain Josh, Mi. Apa dia gak suka sama hubungan kita, jadi dia seperti itu ya,Mi. Selama 3 bulan ini aku gak kontak sama Josh, bukan berarti dia menghilang gitu aja kan,Mi. Mungkin dia sedang sibuk. Tapi mama aku gak mau mengerti sama sekali.”
Mia terlihat sedih mendengarkan penjelasan dari aku. Ia meneteskan air mata. Aku bingung dengan situasi di sekitarku. Melihat sikap mereka, entah kenapa hatiku sangat sakit. “Din, kamu boleh nginap disini kok. Tapi please, open your eyes! Please, jangan hidup di dunia kamu aja, terima realita yang ada, Din.


Aku tidak menggubris sama sekali. Aku hanya terdiam dan kembali dalam lamunanku. Aku yakin Josh selalu ada buat aku, Josh gak akan meninggalkan aku.


                                               ***********************************


Hari demi hari terasa hampa buatku. Ingin sekali aku bertemu dengannya, ingin sekali kuceritakan semua masalahku kepadanya. Aku rindu sekali sama Josh. Setiap hari sepulang sekolah, aku habiskan waktu mengurung diri dikamar. Aku hanya keluar dari kamar untuk makan bersama keluarga, sekolah, dan selain itu aku benar-benar enggan keluar dari kamarku.
Aku menerung dan entah kenapa air mataku mengalir begitu saja ketika memikirkan Josh. Rasa rindu, menyesal,sedih, semua bercampur aduk dibatinku. Aku membuka kembali buku diaryku bersama Josh yang biasa kita gunakan untuk menulis semua kejadian-kejadian penting menurut kita. Lalu aku menemukan secarik kertas didalam buku itu. Aku membuka lipatan kertas tersebut.


Dear Dinda,
Akhirnya kamu temukan kertas yang aku selipkan dibuku kite berdua. Memang semua yang ingin aku katakan, pasti buat kamu tertawa. Tapi ini perasaan aku ke kamu. Aku tahu, kamu sering kesal dengan sifat cuek aku ke kamu. Memang aku nggak bisa mengungkapkan perasaan aku secara langsung ke kamu. Tapi aku sayang sama kamu, Din. Aku pengen banget kamu jadi lebih baik lagi. Jadi, Dinda yang tegar yaa, jangan manja. Karena kamu sebetulnya kuat. Aku bingung kalau ngomong langsung sama kamu, jadi aku pakai surat ini. Pasti kamu bakal marah. Tapi sampai kapanpun, aku sayang sama kamu, Din. Please jadi Dinda yang lebih baik bukan buat aku aja, tapi buat diri kamu sendiri yaa. Love you Dinda.



Membaca kertas itu membuat aku semakin sedih. Aku menyesal kenapa tidak pernah membaca surat ini sebelumnya. Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya di kamarku.

                                                                **************************


Aku mengunjungi rumah Josh, karena aku ingin mengetahui keadaan Josh saat ini. Ketika aku tiba di depan rumahnya, aku melihat tante Rita sedang mengeluarkan barang dari dalam rumah.


“Tante Rita!” panggilku menyapanya. Aku senang bertemu dengannya.


“Dinda, apa kabar?” tanyanya lalu memelukku.


“Baik, tante. Tante apa kabar? Tante sehat-sehat aja kan?”


“Tante baik-baik aja, sayang. Kamu gimana?” tanyanya sambil mengajaku duduk di teras.


“Baik, tante. Tante, Josh ada dirumahkah? Soalnya beberapa bulan ini Dinda kontak, ia nggak angkat atau balas. Dia baik-baik aja kan tante?” tanyaku dengan kuatir.


Tante Rita membelai rambutku. Matanya berkaca-kaca tapi aku bisa melihat maksud dari matanya tersebut. “Dinda, ikut tante yuk! Tante mau ajak kamu ke suatu tempat.” Ia mengajakku ke sebuah pemakaman yang tak jauh dari rumahnya. Hatiku sangat sedih ketika membaca nama di nisan itu. Aku menangis sejadii-jadinya tersungkur di samping makan Josh.


“Din, jangan sakiti diri kamu sendiri seperti ini. Josh pasti sedih kalau dia tahu kamu menyakiti diri kamu sendiri seperti ini. Kalau kamu sayang sama dia, relain Josh, Din. Ingat, hidupmu masih panjang, Din, “ ucap tante Rita dalam tangisan.


“Nggak mungkin Dinda bisa lupain Josh, tan. Tante harusnya benci sama Dinda, tante boleh maki-maki Dinda. Kalau bukan karena Dinda, Josh nggak akan meninggal seperti ini. Harusnya Dinda aja yang meninggal, jangan Josh!” Teriakku tak bisa menerima kenyataan. Hatiku sangat sakit bila mengingat kejadian itu.


“Sebelum Josh meninggal, Josh pernah memberitahu tante. DIa rela melakukan semua ini buat kamu. Dia nggak mau kamu terluka, dia sangat mencinti kamu , Din. Dia minta kamu memenuhi keinginannya,” beritahu tante Rita kepadaku.


Aku mengingat semua perkataan Josh kepadaku. Aku sadar kalau aku seperti ini, aku semakin membuatnya sedih, dan ia gak bisa tenang di surga. Aku ingin sekali dapat memenuhi permintaan terakhirnya, dan membuatnya bangga kepadaku. “Tante makasih yaaa,” kataku memeluknya. “Makasih tante masih baik sama Dinda. Makasih tante menyadarkan Dinda. Dinda nggak mau mengecewakan Josh, tan. DInda mau Josh bangga dengan sifat Dinda.”


“Tante senang, Din. Kalau kamu bisa bangkit lagi seperti ini. Tolong kamu lupakan semua kejadian itu, tapii tetap ingat sama Josh. Karena ia selalu menjadi kenangan terbaik untuk kamu,okay?”


Aku hanya menganggukan kepalaku tanda setuju. Aku tahu, aku harus bangkit buat hanya untuk diriku tapi untuk Josh. Aku tahu, ia sangat mencintai diriku. Dia rela mengorbankan nyawanya buatku. Coba saja, ia tidak menyelamatkan aku, aku pasti tertabrak mobil merah yang melaju cepat waktu itu. Walaupun kejadian itu terus menghantuiku, aku tak akan putus asa lagi.
Terimakasih Josh buat semua kenangan yang kamu berikan buat aku. Aku nggak akan melupakannya, aku tetap sayang sama kamu sampai kapanpun. Kamu adalah kenangan terbaik dalam hidupku. Makasih udah membuat aku bisa menghidupkan hidupku lagi. Aku akan membahagiakan kamu dengan ketegaranku dan sifatku, janjiku dalam hati.

 

-Belinda Yasmin-

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Senin, 03/11/2014 - 09:24 WIB
Selasa, 04/11/2014 - 18:10 WIB
Jumat, 21/11/2014 - 10:12 WIB
Jumat, 07/11/2014 - 17:00 WIB
Sabtu, 01/11/2014 - 10:01 WIB
Kamis, 20/11/2014 - 09:51 WIB