Kisah Inspiartif: Menyikapi Cobaan
Senin, 01/02/2016 - 13:20 WIB
images-artikel/kecil/patience-2.jpg
Sumber: bing.com
 
 
Jakarta -

Pada suatu hari, ada seorang wanita tua yang seumur hidupnya dilanda musibah bertubi-tubi secara terus menerus. Pada usia 30 tahun, ia kehilangan suami karena tertelan ombak saat laut pasang, praktis ia pun harus menghidupi dua orang anaknya seorang diri dengan berjualan kue-kue dan menjadi asisten rumah tangga pada seorang saudagar kaya di kotanya. Hanya beberapa tahun berselang sejak kematian sang suami, anak keduanya tiba-tiba terjangkit wabah penyakit kulit, ia pun dengan sabar merawat sang anak meski harus meninggalkan pekerjaanya. 


Selama 8 tahun, wanita itu merawat anak keduanya. Anak sulungnya mengadu nasib di kota untuk mendapatkan penghidupan layak, selain untuk menopang biaya hidup adik dan ibunya. Setelah anak kedua dinyatakan sembuh oleh dokter, kehidupan mereka berangsur-angsur membaik. Anak keduanya mulai bisa beraktivitas normal dan mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik pengalengan ikan. Namun malang tak dapat ditolak, di tengah usaha keluarga ini bangkit dari keterpurukan, bencana banjir bandang meluluhlantakkan rumah beserta isinya. 


Keluarga ini kembali harus bahu membahu mengumpulkan uang demi membangun tempat tinggal yang layak. Setelah hampir 10 tahun hidup di rumah kontrakan, mereka pun mampu membangun istana kecil meski sederhana. Pada suatu hari, anak sulung berniat untuk meminang gadis pujaan hatinya, kebetulan gadis itu tinggal di luar kota. Dengan senang hati, wanita itu pun mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara lamaran, dalam hati ia sangat bangga dengan sang anak yang telah bekerja keras demi keluarga. 


"Sudah saatnya anakku berkeluarga. Tak sabar rasanya ingin berkenalan dengan calon menantuku,"batinnya. 


Mujur tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak. Di tengah perjalanan, kendaraan yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan menewaskan sang anak sulung. Perasaan wanita ini hancur berkeping-keping. Satu lagi orang terkasih harus pergi untuk selamanya. Akan tetapi, ia tabah dan ikhlas. 


Di saat orang lain mungkin sudah depresi mengalami musibah berkali-kali, perempuan itu  selalu mampu menunjukkan senyuman tulus di wajahnya. Ketenangan seolah-olah membungkus kehadirannya, dan kedamaian terpancar dari lubuk hatinya. Setiap orang yang berjumpa dengannya kagum akan keberaniannya. Bagaimana dia bisa tetap bersikap sangat tenang dan ceria di tengah pergolakan dalam hidupnya? Apa yang menjadi rahasia kedamaian jiwanya itu?


Perempuan ini menjawab semua pertanyaaan itu dengan berkata, 


”Air dalam lautan tidak bisa menenggelamkan sebuah kapal. Tapi jika air laut masuk ke dalam kapal, kapal itu akan segera tenggelam. Begitu pula dengan penderitaan. Semua derita hanya bisa membuat kita terpuruk, patah semangat jika kita membiarkan derita itu meresap masuk dalam hidup kita dan membawa pengaruh negatif dalam diri kita!”


Sungguh bijak perkataan perempuan ini. Memang pada dasarnya kita bisa mengapung dengan aman di tengah lautan kehidupan, selama kita tidak membiarkan kemalangan dan masalah-masalah yang kita hadapi membawa pengaruh negatif dalam hidup kita! Karena jika kita membiarkannya begitu saja, cepat atau lambat kita akan tenggelam dalam lautan keputusasaan.


Sumber: andriewongso.com

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Jumat, 01/02/2019 - 09:32 WIB
Kamis, 07/02/2019 - 09:17 WIB
Jumat, 01/02/2019 - 09:33 WIB