Kisah Inspiratif: Jangan Meremehkan
Minggu, 31/12/2017 - 09:51 WIB
images-artikel/kecil/kura kura.jpg
Sumber: bing.com
 
 
Jakarta -

Ada sebuah taman labirin kecil nan elok yang menghiasi sebuah istana kerajaan yang megah. Di taman labirin itu tumbuh dan hiduplah berbagai macam bunga yang amat sangat indah dan sedap dipandang. Aromanya pun memikat siapapun yang menghirupnya. Daun-daunnya yang hijau  dan segar pun seolah-olah menyejukkan mata. Diantara berbagai jenis bunga yang tumbuh disana, hiduplah seekor ulat yang berbulu hitam pekat dan gemuk. Diantara ulat-ulat yang tinggal disana, si ulat bulu inilah yang memiliki bulu paling lebat paling muda dari pada ulat lainnya. Meskipun begitu, ia tidak menyombongkan apa yang dimilikinya kepada yang lain.


Tatkala itu hinggaplah seekor kupu-kupu betina di sebuah dahan bunga mawar dan bergegas menghisap madu bunga mawar tersebut hingga terasa kenyang dan puas dengan apa yang didapatinya hari itu. Sembari hinggap di dahan bunga mawar, ia pun menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak sembari memandangi indahnya bunga- bunga  di taman labirin tersebut. Tanpa disengaja, si kupu-kupu betina tadi mengalihkan pandangan matanya di sebuah tangkai daun yang masih ranum. Dilihatnya lah si ulat bulu yang hendak mencari makan.


“ihhh…binatang apa itu? Mengapa kumal sekali dia?” gemih si kupu-kupu betina menatapnya dengan keheranan.


Akan tetapi si ulat bulu tak mendengar apa yang telah diucapkan si kupu-kupu tadi dan melahapi pucuk dedaunan ranum yang renyah dan nikmat untuk disantap. Karena merasa jijik melihat si ulat bulu, ia pun bertanya dengan lantang  


“Hai, makhluk jelek, sedang apa kau disana? Apa kamu tidak jijik dengan diri kamu sendiri, kotor dan kumal?”.


Karena suaranya yang lantang, akhirnya si ulat bulu pun menoleh menuju asal  suara tadi. Dan ternyata suara tadi berasal dari seekor kupu-kupu betina yang cantik rupawan.


“Hai, kupu-kupu betina, bersyukurlah Tuhan menganugerahimu sayap-sayap yang indah yang belum tentu semua hewan memilikinya” sahut si ulat bulu dengan penuh wibawa sembari tersenyum simpul.


Mendengar ucapan si ulat bulu tadi,  si kupu-kupu betina pun tersadar dan ingat bahwa Tuhan Maha Menciptakan segalanya. Tidak sepantasnya ia mengolok-olok si ulat bulu sedemikian sinisnya karena merasa jijik melihatnya. Sejenak ia termenung oleh ucapan si ulat bulu tadi. 


“Hahaha…apa yang sedang kau fikirkan?apakah perkataanku tadi menyakitimu?” Tanya si ulat bulu yang terkejut melihat si kupu-kupu betina yang tengah diam termenung.


“Aku mohon maaf ulat bulu, tidak sepantasnya perkataan tadi aku ucapkan padamu karena itu sungguh menyakitkanmu…tidak sepantasnya aku merasa jijik dengan apa yang kamu miliki, mestinya aku bisa bersyukur dan bangga dengan segala CiptaanNya. Kau telah menyadarkanku ulat bulu, sekali lagi maafkanlah aku ulat bulu…” pinta si kupu-kupu sembari meneteskan air mata karena menyesal.


“Sudahlah kupu-kupu…aku tidak apa-apa, aku salut dan bangga padamu. “ jawab si ulat bulu sembari melempar senyumnya kepada si kupu-kupu.


“Tapi kenapa kau tidak marah kepadaku, ulat bulu?” Tanya si kupu-kupu dengan polosnya.


Mendengar pertanyaan si kupu-kupu tadi, si ulat bulu pun tertawa terbahak-bahak.


” Hahaha,,,untuk apa aku marah kepadamu, kupu-kupu? Kondisiku memang seperti ini, Tuhan menganugerahiku bulu-bulu yang lebat, dan aku sangat bersyukur memilikinya.  Begitu pula dengan kau, kupu-kupu…” 


“Terima kasih ulat bulu, karena kau tak marah akan perkataanku tadi” ujar si kupu-kupu. 


“Tentu saja tidak, sahabatku…kita sesama makhlukNya sudah sepantasnya bersyukur dan bersyukur, Oke?!” jawab si ulat bulu sembari tersenyum ramah kepada si kupu-kupu betina.


“Terima kasih ulat bulu…maaf  hari sudah mulai petang, aku harus segera pulang bersama saudara-saudaraku di taman seberang istana” kata si kupu- kupu yang hendak  berpamitan.


“Baiklah kupu-kupu, berhati-hatilah dan salam syukur untuk semua saudaramu disana, ingatlah pesanku tadi” sahut si ulat bulu.


“Iya, tentu saja ulat bulu,,,terima kasih telah menyadarkanku” jawab si kupu-kupu betina sambil mulai mengepak-kepakkan sayap indahnya dan bergegas terbang.


Selepas kepergian si kupu-kupu betina tadi, si ulat bulu pun segera menyudahi makanannya dan berbaring bersandar santai di sebuah tangkai yang besar dan kuat. Sembari demikian, si ulat bulu tak lupa senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah didapatkannya.


Sobat Souja, 

Meremehkan orang lain adalah pekerjaan tak berguna. Menghabiskan tenaga, tapi tak menghasilkan keuntungan apapun. Menghabiskan waktu dan perhatian, tapi tak mendatangkan kebahagiaan. Hanya kenikmatan satu detik, tapi berakhir dengan sesuatu yang mengecewakan.


Sumber: Kumpulan Dongeng

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Kamis, 06/09/2018 - 00:06 WIB
Senin, 17/09/2018 - 08:16 WIB
Sabtu, 01/09/2018 - 05:44 WIB
Sabtu, 01/09/2018 - 05:41 WIB
Minggu, 09/09/2018 - 06:23 WIB
Selasa, 11/09/2018 - 22:28 WIB
Minggu, 02/09/2018 - 09:56 WIB
Rabu, 05/09/2018 - 04:12 WIB
Rabu, 12/09/2018 - 11:25 WIB