Kisah inspiratif: Saat Si Kikir Wafat
Kamis, 16/08/2018 - 05:35 WIB
images-artikel/kecil/unnamed23.jpg
Sumber: bing.com
 
 
Jakarta -

Alkisah. Pada suatu hari, si kikir sakit keras dan dokter menyatakan bahwa hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Setelah mendengar berita itu, si kikir langsung teringat dengan hartanya yang melimpah. 


"Kepada siapa aku harus mewariskan harta kekayaanku?" batin si kikir.


Kemudian si kikir memanggil ketiga anaknya. Ia bermaksud untuk menguji mereka, kira-kira siapa yang paling pantas untuk menerima warisan darinya. Kepada anak tertua, si kikir berkata, 


"Katakan kepadaku, bagaimana kau akan memakamkanku nanti?"


"Aku akan mengadakan upacara pemakaman besar-besaran. Aku akan memesan batu nisan yang indah dan mahal untuk ayah. Setelah itu, aku akan memberi makan tetangga selama seminggu berturut-turut" ujar si sulung. 


"Apa? Kau benar-benar bodoh! Pemakaman besar-besaran! Batu nisan yang mahal! Memberi makan tetangga selama seminggu! Sia-sialah aku membesarkanmu selama ini!" hardik sang ayah. "


Kemudian sang ayah yang kikir itu bertanya kepada anak kedua. Si anak kedua mengerti bahwa sang ayah tidak menginginkan acara pemakaman yang mewah. Karena itu, ia menjawab, 


"Aku akan mengadakan upacara yang sederhana saja. Aku hanya akan mengundang pendeta untuk mendoakan ayah, serta beberapa saudara dan tetangga yang benar-benar dekat dengan kita."


"Keterlaluan! Kau tahu berapa biaya yang harus dibayarkan kepada pendeta? Dan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menjamu saudara dan tetangga? Itu semua pemborosan! Ah, kau sama saja dengan kakakmu itu!" sang ayah lagi-lagi menghardik. 


Si anak bungsu sudah lama sekali tidak suka dengan sifat kikir sang ayah. Kini, ia semakin benci dengan sifat kikir ayahnya yang semakin menjadi-jadi itu. Maka setelah ditanya oleh ayahnya, ia pun menjawab dengan kesal, 


"Aku tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk pemakaman ayah! Bahkan aku akan menghasilkan uang!"


Tak disangka, sang ayah malah tertarik dengan ucapan si bungsu. Lantas ia berkata dengan penuh rasa penasaran, 


"Memangnya bagaimana caramu menghasilkan uang dari kematianku?"


"Aku akan menjual tubuhmu ke sekolah kedokteran di Provinsi Selatan! Mereka membutuhkannya untuk mempelajari organ-organ manusia. Aku akan menjualnya kepada penawar tertinggi" sahut si bungsu, semakin kesal melihat tanggapan sang ayah yang tidak disangka-sangkanya itu.


"Baguuus! Baguuus! Hahaha... kau memang anak ayah! Kau akan menjadi pewaris tunggal kekayaanku!" seru si kikir tersebut sambil tertawa penuh kebanggaan. Ketiga anaknya melongo menyaksikan reaksi ayahnya itu.


"Tapi ayah, tidakkah ayah sadar dengan apa yang dikatakan oleh si bungsu? Si bungsu akan menjual tubuh ayah ke Provinsi Selatan!" tanya si sulung, terheran-heran. 


"Oh ya! Kau tidak boleh menjual tubuhku ke provinsi selatan!" ujar sang ayah. 


Ketiga anaknya mengangguk-angguk. Mereka merasa sang ayah sudah bisa berpikir dengan jernih lagi. Tapi, kemudian sang ayah berkata, 


"Orang-orang di provinsi selatan suka mengutang! Jadi lebih baik kau menjualnya ke rumah sakit di provinsi utara saja!"


Ketiga anak si kikir menepuk dahi. Menyerah sudah mereka dalam menghadapi sifat ayahnya yang sangat kikir itu.


Sobat Souja, 


Janganlah menjadi orang yang kikir hanya supaya bisa menumpuk harta. Saat meninggal dunia nanti, kita tidak akan membawa apa-apa, termasuk harta benda kita. Lebih baik kita menjadi orang dermawan yang senang menolong sesama.


Sumber: dongengceritarakyat.com

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-