Kisah Inspiratif: Sekantung Batu dan Rasa Benci
Rabu, 15/11/2017 - 12:39 WIB
images-artikel/kecil/Blue-Coral-Tumbled-300x250.jpg
Sumber: bing.com
 
 
Jakarta -

Alkisah , pada suatu hari Arsen tiba-tiba mendatangi Ayahnya dengan wajah memerah menahan amarah. 


"Papa, temanku sungguh menyebalkan! Dia sangat keterlaluan dan mempermalukan aku di depan mereka. Aku marah dan benci,"


Melihat anaknya kesal, Sang Ayah pun memberi nasihat


“Sudahlah ... ajak temanmu untuk berbicara baik-baik agar tidak terjadi salah paham lagi. Jangan membenci tapi cobalah mengerti dan memaafkan dia.”


“Tidak bisa Pa. Dia begitu jahat. Kalau semuanya bisa ditebus dengan minta maaf, betapa enaknya!," Dengan sengit Adi menyanggah nasihat ayahnya.


“Ya sudah, sekarang tidur deh. Besok ada yang harus kita kerjakan.”


Pagi hari, ayah Arsen sudah menyiapkan sekantong penuh batu. 


“Arsen. Anggap batu-batu ini sebagai temanmu. Pusatkan kebencianmu pada kepalan tanganmu. Tinju sekeras dan sebanyak mungkin  kantung batu ini.” 


Arsen pun bersiap-siap. Akan tetapi, hanya tiga kali pukulan, dia merasa kesakitan.


“Aduuh….sakit,” teriak Arsen sambil mengusap dan meniup kepalan tangannya yang mulai memar dan lecet.


“Kalau kantung berisi batu-batu ini sama dengan teman yang kamu benci, apa dia merasa sakit seperti kamu sekarang?”


“Ya enggak lah..,” jawab Arsen cepat.


“Sama seperti yang terjadi padamu. Kebencianmu hanya menyakiti hatimu sendiri. Karena kalau teman itu kamu pukul pun, dia hanya sakit secara fisik. Itu akan cepat disembuhkan. Sedangkan kebencian dalam hatimu tidak akan berkurang, malah semakin besar menguasai hatimu! Sungguh menderita, orang yang hati dan pikirannya dipenuhi dengan kebencian.”


Arsen tertegun mendengar nasihat ayahnya. Ia menunduk dengan penuh penyesalan. Ia berjanji, mulai saat itu, jika hendak membenci seseorang karena sebuah perbuatan, ia akan memilih untuk membicarakan baik-baik agar persoalan bisa selesai dengan baik.


Sobat Souja, 


Kebencian adalah sumber penderitaan, ketidakbahagiaan, dan penyakit mental bagi siapa saja yang memeliharanya. Sebab, banyak hal yang justru makin tidak mengenakkan kita jika membiarkan rasa benci itu berlarut-larut. Susah tidur, makan tak enak, emosi yang terus meluap, membuat segalanya jadi terasa tak nyaman. Sungguh, sebuah sikap yang justru akan merugikan kita sendiri. Saat kita membenci, sesungguhnya orang yang kita benci tidak merasakan apa pun. Namun demikian, kebencian itu telah mampu menggerogoti kebahagiaan dan kedamaian kita. Ganti rasa benci dengan sikap kepala dingin dan lapang dada. Selesaikan segera masalah yang ada, sehingga benci tak lagi bersisa. Coba alihkan fokus pada hal-hal baik yang bisa kita temukan, agar bisa mengikis derita akibat kebencian di jiwa.


Sumber: Andriewongso.com

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Senin, 03/11/2014 - 09:24 WIB
Selasa, 04/11/2014 - 18:10 WIB
Jumat, 21/11/2014 - 10:12 WIB
Jumat, 07/11/2014 - 17:00 WIB
Sabtu, 01/11/2014 - 10:01 WIB
Kamis, 20/11/2014 - 09:51 WIB