Kisah Tempayan Retak
Kamis, 04/06/2015 - 09:16 WIB
images-artikel/kecil/tembayan-1.jpg
Sumber: terapimurni.com
 
 
Jakarta -

Alkisah, seorang penjual air di India selalu menggunakan dua tempayan besar untuk menjajakan air bersih dimana masing-masing bergantung  pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Salah tatu dari tempayan tersebut retak, sedangkan tempayan satunya lagi tidak. Tempayan yang tidak retak selalu membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari  mata air ke rumah pelanggannya sementara tempayan retak hanya setengah penuh. Selama dua tahun lamanya, ia hanya mampu membawa satu setengah penuh. 


Tentu saja si tempayan yang tidak retak Merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu Merasa malu atas ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi dari yang seharusnya. Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, 


"Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu." ungkap si Tempayan.


""Kenapa kamu merasa malu?", tanya si tukang air


"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi." Kata tempayan itu. 


Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, Dan dalam belas kasihannya, ia berkata,  


"Jika kita kembali ke rumah pelanggan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."


Benar, ketika mereka naik ke bukit, Si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang  sisi jalan dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanannya, Ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, 


"Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu. Aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu. Setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga Indah itu untuk menghias meja pelanggan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, rumahnya tak akan seindah sekarang. " 


Salah satu hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas adalah bahwa kita boleh jadi memiliki keretakan tersebut, namun yakinlah satu kelemahan menurut kita, boleh jadi sebuah kemanfaatan bagi orang lain. Jadi... jangan bersedih dan tersenyumlah.. Karena keretakan kita pun dapat bermanfaat besar. 


Cheers!

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Jumat, 01/02/2019 - 09:32 WIB
Kamis, 07/02/2019 - 09:17 WIB
Jumat, 01/02/2019 - 09:33 WIB