Menangis ku, tertawaku, Bahagiaku adalah kamu
Rabu, 23/03/2016 - 14:13 WIB
images-artikel/kecil/zaenab.jpg
Sumber: soulofjakarta.com
 
 
Jakarta -


Namaku Kayla Husni, kata bunda nama itu berarti anak cantik yang bijaksana dan aku sangat senang mendengar arti nama itu. aku anak tunggal dari Bunda Tiana dan Ayah Rahman, mereka mendidik ku menjadi anak perempuan yang tangguh dan mandiri. Walaupun kehidupanku tidak begitu sempurna tapi aku sangat bersyukur aku terlahir di keluarga yang hangat dan sederhana ini.
Sejak kecil aku dibesarkan di Yogyakarta, tapi berhubung ayah berkerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) tepatnya di Dirjen Pajak, sehinggakami harus terbiasa akan semua perubahan karena ayah selalu dipidahkan tugaskan ke kota-kota di Indonesia.
Kali ini ayahku dipindah tugas ke Jakarta, awalnya terasa berat untuk ku harus melawan perubahan, perpisahan, dan beradaptasi kembali dengan orang dan lingkungan yang baru. Tapi mau bagaimana lagi “Namanya juga hidup” itu kata-kata yang selalu bunda ucapkansetiap kami pindah kota. Kata bunda jodohnya pertemuan ya perpisahan, dan itulah dinamika kehidupan.
“people change. Memories don’t” kata terakhir bunda malam ini ketika aku terus menangis tak ingin pindah.
Walaupun berkali – kali aku mengalaminya tak sedikitpun aku paham mengapa aku benci sekali akan hal ini, mungkin aku belum cukup dewasa untuk memahaminya.


-000-


Aku pindah ke sekolah SMA NUSA BANGSA daerah Jakarta selatan. Seperti sekolah pada umumnya, tidak ada yang special. Aku melihat sekeliling siapa tau ada hal yang menarik perhatianku, sementara bunda sibuk mengurus administrasi data kepindahanku.
Aku berjalan perlahan dan masih malu-malu, semua mata tertuju padaku seperti melihat sosok yang aneh. Haha semua anak baru pasti merasakan hal ini. Yasudahlah aku tak begitu perduli dengan tanggapan mereka. Aku terus berjalan sampai ketika ada cewek berkacamata menyapaku.


“kamu anak baru ya?aku anak kelas 2”


Aku hanya mengangguk, menyatakan iya.

 

“Aku Rere” dia mengulurkan tangan sambil tersenyum.

 

“Aku Kayla” ku jabat tangannya. Ternyata tak begitu sulit menemukan teman baru disini, dia begitu ramah.

 

“Kayla, kayla, kaylaaa” teriak bunda memanggilku. Kurasa bunda sudah selesai mengurus kepindahanku.
“Salam kenal Rere. Sepertinya aku sudah harus pulang. Sampai jumpa lagi”

 

“Sampai jumpa kayla”

 

aku setengah berlari ke arah bunda, sambil berdoa semoga aku sekelas dengan Rere, setidaknya aku tidak begitu canggung ketika masuk kelas nanti.
-000-

Hari senin, di tengah barisan kelasku saat upacara aku melihat Rere. Fyuuh beruntungnya diriku, doaku terkabul. Aku menghampirinya selesai upacara. “Hi Re, kita sekelas ya”

 

“Oh ya? Senangnya. Kamu bisa duduk di sebelahku nanti, kebetulan kosong” jawab dia setengah melompat tanda kegirangan
Aku hanya mengangguk dengan semangat

 

Sepertinya pelajaran pertama adalah seni musik, karena aku melihat dikelas ini gaduh dengan alat musik dan suara latihan benyanyi.

 

“hari ini pelajaran seni musik, ada ulangan praktek vocal grup, semua bebas menggunakan alat musik apa aja. Ayo ikut kay” penjelasan Rere yang melihat aku seperti kebingungan melihat sekitar.

 

“oh begitu, aku disini saja kamu silahkan berlatih dengan grup kamu”

 

“serius? Yaudah aku kesana dulu ya”

 

Bel berbunyi tanda pelajaran akan di mulai. Guru mungil dan cantik datang dengan membawa buku dan berkasnya.
Bu Noni namanya. Aku diminta untuk berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri. Suara sorak sorai pun terdengar, sampai Bu Noni pun menghentikannya.“sudah sudah tenang. Seperti yang sudah ibu katakan hari ini ulangan praktek vocal grup, ayo silahkan grup pertama maju” guru ini mempunyai sosok yang lembut, aku senang melihatnya.
Grup 1 sampai grup 5 pun sudah menampilkan performancenya. Tinggal tersisa satu grup lagi.


“Raka, Raka, Raka” suara cewek-cewek terdengar memanggil nama laki-laki itu yang sedari tadi juga menjadi pusat perhatianku. Oh namanya Raka.

 

“Ku menagis tertawa ku terluka untukmu
  Kau belahan jiwaku
  Ku menagis tertawa ku terluka untukmu
  Kau cinta sejatiku” single ke dua Ricky Kevin terdengar merdu dinyanyikannya. Menurutku, dia punya suara yang bagus. Kembali kegaduhan terjadi di kelas ini.

-000-

 

Bubar sekolah, aku langsung segera pulang karena bunda sudah menungguku di gerbang sekolah. “assalamualaikum bunda” ku cium tangannya.

 

“waalaikumsalam anakku, cantik, pintar, manis” bunda tak pernah lupa mengucapkan hal itu. Hehe kata bunda itu adalah doa. Aku sangat kagum sama bunda, karena beliau selalu berpikiran positive dalam segala hal. “Bagaimana sekolah hari ini nak? Menyenangkan kah? Sudah ketemu pangeran berkuda putihnya belum?” Bunda menggoda ku sambil senyum-senyum.


“Biasa aja. Lagian pangeran berkuda putih? emang dongeng?”

 

“Kamu sih gak pernah cerita sama bunda tentang cowok. Bunda gak ngelarang kamu buat pacaran kok, asal kamu jaga kepercayaannya bunda. Kamu tau kan batasannya”

 

“Gak tau ah bun, aku belum kepikiran buat itu”

-000-

Setibanya di rumah, aku langsung masuk kamar, ku rebahkan badanku tapi entah kenapa tiba – tiba aku memikirkan ucapan bunda tadi. Bunda bukan Cuma 1 kali mengucapkannya, karena selama ini aku tak pernah menggubris. Karena ku pikir aku masih bahagia dengan keadaanku sekarang. Tapi kali ini terlintas pertanyaan, apakah aku terlalu mencintai diriku sendiri? Sehingga aku tak ingin memberi ruang kepada orang lain?Ruang yang akan menyakitiku suatu saat nanti.Imajinasiku semakin liar, memaksaku untuk bertanya sekaligus menjawab semuanya.Aku lebih memilih diam dan berusaha bersikap seperti sebelumnya.


-000-

 

Aku datang lebih pagi hari ini karena bunda ingin bertemu dengan temannya. Aku langsung ke kantin dan kebetulan disitu ada Raka sedang menyantap gorengan. Aku mengurungkan niatku untuk pergi ke kantin karena melihat dia, sebenernya bukan karena ada dia, tapi karena aku tipe orang yang pemalu dan sulit akrab dengan orang baru, pasti canggung banget kalau tidak saling menyapa karena dia teman sekelasku.

 

“Kayla, sini sarapan bareng” duuh dia keburu manggil, sontak saja itu membuatku terkejut karena aku terlihat seperti menghindarinya

 

“Hi Raka, aku duduk disini ya” aku berusaha bersikap santai

 

“Boleh, mau makan atau minum apa?”

 

“Aku pesan teh manis anget aja”

 

Dia langsung memesankan pesananku.

 

“Kamu pindahan darimana kay?”

 

“Dari jogja” jawabku singkat karena sebenarnya aku tidak pandai berbasa-basi.

 

“Wah orang jogja toh. Betah gak kay di Jakarta?”

 

“betah gak betah ya harus dibetahin ka, mau bagaimana lagi aku sebenarnya gak mau pindah tapi ayah tugas kesini” entah kenapa aku menceritakan hal ini kepada Raka.

 

“semua pasti berubah mau tidak mau, semua pasti berpisah ingin tidak ingin, semua pasti berakhir siap tidak siap. Nikmati aja kay perubahannya. Lambat laun kamu juga pasti terbiasa dengan suasana disini” jawab raka dengan bijak ketika dia melihat mukaku berubah sedih

 

“Haha makasih ka nasehatnya, eh iya suara kamu bagus loh kemarin” aku mulai mencair akrab dengannya

 

“Ya sudah banyak yang bilang sih” sambil membetulkan kerah berusaha bersikap sok sombong

 

“huuuh sombong” kemudia kita tertawa
ku rasa dia orang yang baik

 

-000-

Hari minggu ini terasa membosankan ayah dan bunda pergi menghadiri pernikahan teman kantor ayah, aku tidak ingin ikut karena pasti jauh lebih membosankan. jadi aku berniat untuk pergi ke toko buku untungnya tidak begitu jauh dari rumahku, hanya perlu naik angkot satu kali untuk mencapai kesana. Aku pun berkeliling mencari novel yang aku cari. Ku lihat sekitar dan Oh My God, itu Raka? Duuh, disangka aku ngikutin dia lagi. Buru-buru aku ambil novel itu dan menuju ke kasir, eh ternyata takdir berkata lain dia melihat ku dan menyapa.

 

“Hi kayla, disini juga, kebetulan banget. beli buku apa?”

 

“hah ini, Cuma beli novel kok, kamu beli buku apa?”

 

“tadinya mau beli buku sadar utuh hadir penuh karyanya ….., tapi katannya sold out”

 

Setelah membayar novel itu, aku segera berpamitan dengan Raka. “ka, duluan ya” kataku penuh hati-hati, karena aku tidak mau terlihat sombong

 

“mau kemana? Temenin aku makan yuk, laper banget nih dari kecil belum makan. hahaha” ajak dia dengan tampang seperti orang yang kelaparan beneran.

 

“hmm boleh deh, tapi jangan lama-lama ya” gak tau kenapa aku mengiyakan ajakannya, ya tidak apalah toh ayah dan bunda juga belum pulang.

 

“mau makan apa kayla?”

 

“ice tea aja deh, tadi aku udah makan”

 

“bener gak mau makan lagi?”

 

Aku hanya mengangguk. Dan dia langsung memesan makanannya.

 

“kamu juga suka baca buku ya kay?” Tanya dia sambil menyantap makanan yang dipesannya tadi

 

“hmm banget, menurut aku, kita bisa keliling dunia dengan hanya baca buku, kita juga bisa merasakan pengalaman yang tidak pernah kita alami. Kan seru banget. Kalau kamu kenapa suka baca buku?” jawabku antusias

 

“aku juga berpikiran seperti itu. Kita bisa mengetahui dunia tanpa harus melakukan perjalanannya dan karena aku suka nulis jadi aku harus banyak baca”

 

“kamu suka nulis? Mau liat dong tulisannya. Biasa nulis tentang apa?”

 

“baru pemula sih, aku biasa nulis artikel di majalah remaja”

 

“wah hebat, dulu cita-cita aku juga penulis tapi sayang kayaknya aku gak berbakat. hahaha”

 

“tapi sekarang aku lagi jarang nulis, aku lagi sibuk”

 

“emang sekarang lagi sibuk apa?”

 

“sibuk merangkai setiap kebetulan yang ada. Mulai dari kebetulan dateng pagi bareng, padahal sebelumnya aku gak pernah, ketemu di perpus, dan sekarang di toko buku, dan punya hobi yang sama lagi. Kali aja kan jodoh. Hahaha becanda ya kay” dia memang sedang bercanda tapi ini membuat aku speechless dan wajahku berubah merah, semoga dia gak sadar sama ekspresi ku ini. Dan aku baru ingat diperpustakan kita juga tidak sengaja bertemu.

 

“Tapi menurutku ya ka, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah terencana dengan baik, tidak ada sesuatu yang kebetulan atau tidak disengaja, semua sudah ada dalam perencanaan-Nya. Kita bertemu pun pasti ada alasannya” jawabku setelah 1 menit aku hanya diam tak tau harus berkata apa.

 

“semoga saja alasan Tuhan, sejalan dengan apa yang aku semogakan” dia bergumam sendiri tapi itu masih bisa ku dengar dan kata-kata itu membuat wajahku kembali memerah.

 

Tidak terasa sudah sekitar 1 jam kita berbincang menceritakan kehidupan masing-masing.

 

“ka, aku pulang ya, kayaknya bunda sama ayah sudah di rumah”

 

“yaudah, aku anterin deh”

 

“gak usah, makasih. aku bisa naik angkot, deket kok”

 

“ya gapapa, tadi kan aku yang ngajak makan. Yuk pulang” dia langsung menarik tanganku.

 

-00-

 

Sejak saat itu, hari-hari berikutnya, dan sekarang sudah hampir 2 tahun. Aku dan Raka semakin dekat, banyak hal yang membawa aku terus ingin menebar senyum karena tingkahnya. Tak pernah ada kata yang terlontar, kita pacaran atau tidak. Semua mengalir begitu saja, aku sebenarnya merasa aneh kenapa dia tak pernah mengatakan hal itu, tapi aku rasa status hanyalah status, kalau aku bisa terus bersamanya kenapa harus ada status, jadi aku tak pernah membicarakannya.Tapi aku harap dia tahu bahwa aku jatuh hati ! jatuh hati pada setiap pemahaman yang selalu dia berikan kepadaku untuk menjadi diriku sendiri,untuk berhenti berharap menjaditerlihat sama dengan orang lain, bahkan dia memintaku setiap hari menuliskan hal yang harus ku syukuri. “Karena kebahagiaan berawal dari rasa syukur. Sesederhana itu” begitu katanya. Cintaku juga sederhana, sesederhana ada namamu dalam setiap doaku karena selalu ada harapan untuk semua yang disemogakan.

 

-00-

 

Menjelang pengumuman kelulusan SMA, Raka berubah, dia seperti menghindariku. Sejak saat itu hari yang ku lalui berbeda, sungguh begitu resah, risau, dan mungkin membuat aku terus bertanya-tanya, kenapa Raka berubah begitu cepat? Apa salahku? Apa selama ini aku salah mengartikan semua perlakuannya terhadapku? Apa selama ini aku saja yang membuat imajinasi dongeng, seolah itu hanya sebuah pengharapan saja? Aku terus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

 

-00-
5 tahun telah berlalu, kini usia ku sudah 23 tahun dan aku sudah kembali ke Jogja. Tak mudah menjalani ruang dan waktu tanpa ada kabar sedikitpun dari dia, dia yang dulu dan sampai saat ini masih menetap dalam diam, tak kunjung pergi, aku tahu hati punya caranya sendiri untuk menyimpan sebuah kenangan. Tapi bisakah Tuhan menghapus sedikit memori kenangan itu?
Aku terus memutar single kedua Ricky Kevin, lagu yang pernah dinyanyikan Raka saat pertama kali aku melihatnya.
Di siang panasku, kau menjadi tiang awanku
Di gelap malamku, kau bintangku sinar hidupku
Jantung hatiku, kau tak kan ku lepaskan
Bunga cintaku, kau cintaku
Cinta hidupku

 

Belum selesai lagu itu terdengar ketukan dari pintu kamarku, sepertinya bunda. Ku kecilkan volume MP3, dan ku persilahkan bunda masuk.

 

“Percayalah kay, selalu ada dua sisi dalam setiap cerita, jangan menduga cukup ikhlaskan semuanya. Pasti dia ada alasan kenapa bertindak seperti itu. Tapi sebaiknya berhentilah mencari tahu, dan buka kisah yang baru” kata bunda sambil membelai rambutku, bunda yang selama ini menguatkan aku. tapi ini tidak semudah yang diperkirakan bun, bukan aku tidak mau tapi tak tahu kenapa hati ini masih yakin, Raka tidak mungkin sejahat itu. Dia orang baik

 

-00-

 

Hari Sabtu, mungkin saat ini masih jam sebelas, walaupun hari ini agak gerimis tapi tak mengurungkan niatku untuk pergi ke toko buku, entahlah kenapa dan untuk apa aku ingin sekali pergi kesana. Ku telusuri setiap gangway buku-buku sampai saat ada seseorang memanggilku

 

“Kayla..” aku mencari kemana arah suara itu, tiba-tiba aku melihat sosok yang selama ini begitu aku rindukan mulai mendekat. Raka. Sungguh aku tak percaya. Apakah ini mimpi. Aku hanya terdiam, kaku.

 

“ini kamu kan? Ya Tuhan terima kasih telah mempertemukan kami kembali” matanya berkaca-kaca entah karena terlalu senang atau sedih. Tiba-tiba saja aku berbalik arah dan berusaha untuk lari menjauh. Entah kenapa aku malah berlari, padahal ada ribuan pertanyaan yang harusnya kutanyakan kepadanya.

 

“Kayla maafkan aku, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya” dia mengejarku dan menarik tanganku. Tak bisa aku tahan lagi bendungan air mata ini.melihat aku menangis, dia langsung memelukku dan terus berkata maaf.

 

Akhirnya aku memberi dia kesempatan untuk menjelaskan semua yang telah terjadi. Bahwa waktu itu dia harus pergi keluar negeri untuk pengobatan ibunya yang sakit keras, dia tak sanggup mengatakan itu kepadaku, tak sanggup mengatakan kata pisah, tapi dia menyesalinya, tak seharusnya dia bertindak bodoh seperti itu, berpikir bahwa perpisahan ini tidak akan begitu menyakitkan bagi aku kalau dia membuat aku membencinya. Ya Tuhan Raka, hati bukan ukiran diatas air, mudah lenyap, mudah luntur, mudah hilang. Tidak seperti itu.

 

“kayla, aku sungguh minta maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya, sesaat setelah ibuku meninggal aku langsung mencarimu ke Jakarta, tapi katanya kamu sudah pindah, aku menghubungi nomor hape mu juga tidak bisa, aku tidak tahu lagi bagaimana bisa menemukanmu”

 

“Iya aku langsung pindah setelah kelulusan, dan hape ku hilang saat aku menuju ke jogja, aku juga tidak memberitahu teman-teman atas keberadaanku. Tapi benar ya kata orang bahwa ada 1000 tolerasi bagi orang yang dicintainya. Sangat mudah memaafkan mu. Tapi jangan menghancurkan kepercayaanku ka”

 

“tapi ada hikmahnya juga aku pergi, aku jadi tahu bahwa kamu benar-benar mencintaiku” dia mulai menggoda, ia ingin membuat aku tersenyum

 

“Kepergian bukanlah sebuah pembuktian ka” aku tersenyum

 

“duuuh sekarang dewasa banget sih, jadi tambah sayang. Eh iya bener kata kamu dulu ya, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah terencana dengan baik, tidak ada sesuatu yang kebetulan atau tidak disengaja, semua sudah ada dalam perencanaan-Nya. Kita kembali bertemu pun pasti ada alasannya”

 

“Semoga saja alasan Tuhan, sejalan dengan apa yang aku semogakan” aku membalas kata-kata yang pernah dia ucapkan

 

“menangisku, tertawaku untuk kamu” dia menatapku begitu tajam, terlihat ada kerinduan yang mendalam disana.

 

“ danbahagiaku adalah kamu” aku membalas dengan senyum rasa syukur.

 

-The End-

 

Menangis Tertawa menurut Zaenab seperti ini. Bagaimana menurutmu?

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Senin, 03/11/2014 - 09:24 WIB
Selasa, 04/11/2014 - 18:10 WIB
Jumat, 21/11/2014 - 10:12 WIB
Jumat, 07/11/2014 - 17:00 WIB
Sabtu, 01/11/2014 - 10:01 WIB
Kamis, 20/11/2014 - 09:51 WIB