My Best Friend, My Boy Friend
Kamis, 17/03/2016 - 14:04 WIB
images-artikel/kecil/my best friend.jpg
Sumber: soulofjakarta.com
 
 
Jakarta -


“Ditha, buruan berangkat,” panggil Leon setengah berteriak. Ia memandangi jam tangannya dengan wajah kesal. “Kalau lu masih lama, gw tinggal yaa,” ancamnya.


Ditha tergesa-gesa turun dari tangga. Ia mengambil tasnya dengan terburu-buru, terlihat dari tasnya yang masih terbuka, begitu juga dengan penampilannya yang masik acak-acakan. “Hadeuh..lu gak sabaran banget sih! Namanya juga lagi siap-siap butuh waktu kali,” gerutu Ditha kesal.


“Makannya kalau bangun tuh jangan mepet terus donk! Udah tahu jam masuk sekolah jam berapa, stgh jam sebelumnya baru siap-siap. Lu kira gak bakal macet apa di jalan,” balas Leon kesal. “Buruan,”katanya kembali seraya berjalan tergesa-gesa.
Ditha tahu dirinya memang salah. Ia berjalan dengan wajah ditekuk karena kesal. Tapi ia gak membalas sama sekali celetukan Leon.  Karena terburu-buru, buku-buku Ditha berserakan di jalan, untung saja nggak sampai ke tengah jalan.


Leon hanya membuka jendela mobilnya dan ia terlihat kesal dan menghela nafas. “ Sampai kapan lu mau seperti ini terus sih, Tha. Dasar ceroboh!”


“Sabar Ditha, sabar, gak usah peduliin orang kayak gitu,” kataku menenangkan diri. “ Dasar nggak berperasaan. Bukannya bantuin malah diem aja,” gerutu Ditha.


Leon turun dari mobilnya lalu ia membantu membereskan buku-buku Ditha yang berserakan . “Sampai kapan mau gw bantu terus sih, Tha. Gimana lu bisa dewasa dan mandiri,” ujarnya. Serius. Mendengar Leon berubah serius membuat Ditha menjadi sungkan sama sahabat baiknya sejak kecil tersebut.


“Yuk, cabut!” kilahku membuyarkan keseriusan Leon. Di mobil Leon dan Ditha diam-diaman. Setiap Leon berangkat bareng sama Ditha, pasti selalu telat. Jadi, datang telat bukan suatu keheranan untuk Leon.

 

“ Le, bentar lagi hari valentine loh!” Ditha memberitahukan Leon seraya melihat kalender kecil di mobil Leon.
“Ohh,” jawab Leon pendek, dingin, dan cuek.


Respon yang menyebalkan, gerutu Ditha dalam hati. “Gak excited banget sih ngomongin valentine bareng lu, Le!”


“Karena valentine bukan hari special buat gue. Makannya wajar donk kalau respon gue kayak gitu.  Hari yang bikin ribet.”


“Bukannya harusnya lu senang yaa. Kan enak, setiap valentine lu dapat banyak coklat , hadiah, dapat surat dari penggemar-penggemar lu itu. Masa nggak seneng sih?” Tanya Ditha nggak habis pikir.


“Gue nggak butuh itu semua, Tha. Mungkin buat yang lain bangga kali yaa. Kalau buat gue mending gak usah terima itu semua. “
“Dasar aneh!” gerutu Ditha. “Padahal coklat lu setiap valentine bikin gue iri, enak-enak lagi,”lanjutnya dengan polos.

Leon tersenyum manis ke arah Ditha. Senyum yang jarang diperlihatkannya. Ia mengacak-acak rambut Ditha. “Gue Cuma nerima 1 coklat aja, selain itu gue nggak bakal terima, Tha. “


“Siapa?” Ditha terlihat penasaran dengan pernyataan Leon.


“ Ditha Felisha Andhika .”

Bukannya itu nama gue yaaa? Pikir Ditha dalam hati. “ Bukannya itu nama gue yaaa?”

“Memang lu, telmi.” Lalu ia mematikan mesin mobilnya setelah memarkirkan mobilnya. “Yuk, buruan ke kelas, udah telat kita,” ajaknya.

Kenapa sih dengan aku? Kok aku jadi baper gini yaa sama Leon. Mungkin gara-gara suasana aja, Tha. Ayo focus,dia sahabat lu,tha. Jangan berpikir macam-macam, ujar Ditha dalam hati.

                          **********************************************

Hari ini, sekolah Budi Luhur kedatangan anak baru, bernama Desta. Semua mata cewe-cewe tertuju dengan sosok Desta yang ganteng dan ramah. Jujur, kegantengan sempat membuat Ditha salah tingkah. “Le, murid baru itu keren banget yaa,’ ujarnya terkagum.

“Biasa aja menurut gue,” ujar Leon kesal, marah, dan sekaligus cemburu.


Ditha tersenyum kecil melihat kelakukan Leon. Terihat jelas diwajah Leon kalau ia cemburu dan kesal. Tapi  Ditha memilih tak menghiraukannya. Melihat Ditha terus focus ke arah Desta , membuat Leon semakin kesal dan merasa cuekin. Ia pun pergi meninggalkan Ditha begitu saja.


“Le, menurut lu..” Ditha belum selesai dengan kalimatnya, ia tersadar Leon sudah tidak disampingnya. “Dasar nggak tahu diri! Pergi seenaknya gak permisi lagi, “ ujarnya kesal.


“Permisi,” kata seseorang dibelakangku dengan ramah. “Boleh gue duduk disini?” lanjutnya.


Ditha yang malas hanya mengangguk dan membiarkan orang dibelakangnya untuk duduk dimejanya. “ Silakan aja. Lagian kosong kok.”


“Gue Desta, anak baru di sekolah ini. Nama lu siapa?”


“Gue Ditha,” balasnya pendek.


“Salam kenal Ditha,”balasnya kembali dengan senyuman.


Gila..nih orang kalau senyum nggak kalah sama Leon, manis banget! Upps..kok aku jadi membandingkan mereka berdua yaaa,pikir Ditha dalam hati.  “Gimana sekolah disini?” Tanyaku mengalihkan pikiranku.


“Betah kok. Disini asik sekolahnya dan orang-orangnya ramah. Apalagi bisa ketemu cewe manis seperti lu,” godanya.


“Ehh…aku ke kelas dulu yaaa. Soalnya bentar lagi masuk kelas,”kilahku dan meninggalkannya.  Lama-lama disana bisa bikin aku kegeeran lagi.


                                               ********************************

Sejak ketemu di kantin waktu itu, Desta dan Ditha pun semakin dekat. Dan itu berimbas dengan hubungan Ditha dan Leon. Mereka lebih jarang bertemu satu sama lain, bahkan Ditha jarang berangkat bareng lagi ke sekolah bersama Ditha. Tapi Leon selalu ada ketika Ditha butuh.


“Mau minum apa? Air mineral, jus, atau apa?” tanyaku dengan ramah.


Leon focus denga soal-soal matematika yang dibuatnya untuk Ditha. Sebetulnya kalau bukan terpaksa, Ditha nggak akan memintanya untuk mengajarinya. Abisnya Leon lebih galak di banding bu Amira. “Emang ada minuman selain air mineral disini?” Tanya Leon nggak yakin.


“Yaa nggak ada. Kalau kamu mau aku beliin dulu ke warung depan rumah,” jawabnya seenaknya.


“ Kalau nggak ada, gak usah nawarin gue kali.Itu mah ngasal nyebut aja, yang ada,” balasnya ketus.


“Ihhh..diajak bercanda aja nggak bisa, swt.”


“Gue lagi nggak mood bercanda. Liburan gue berantakan, soalnya harus ngajarin cewe malas dan lebih suka main-main dibandingkan belajar. Ngerti kan capeknya gue gimana?” sindir Leon tepat mengenai hatiku.


“Iya, iyaa, kita mulai belajarnya. Lagian gue juga ngambilin minum kan buat lu kok, bukannya main-main,” kata Ditha tak mau kalah.


Leon tak mengubris sama sekali. Ia mulai mengajarkanku pelajaran matematika dengan teliti. Ia menjelaskan semua rumus-rumus tanpa melihat buku sama sekali. Kagum sih melihat kepintaran Leon, tapi karena DItha gak suka dengan pelajaran matematika jadi gak masuk ke otak sama sekali. Setelah menjelaskan sekitar 15 menit, Leon pun memberikan soal untuk Ditha kerjakan.
Ditha terdiam dan tak menyentuh soal yang dibuat Leon sama sekali. Gadis itu gak berani menatap mata Leon,karena ia tahu pasti Leon marah sama dia.


“Lu masih nggak ngerti , Tha?”


Ditha hanya menggelengkan kepala saja.

“Rumus yang tadi aku kasih?”

“Rumus yang mana?” Tanya Ditha dengan polos dan tidak merasa bersalah.

Leon malas berdebat dengan Ditha yang keras kepala. Ia pelan-pelan membimbing Ditha mengerjakan soal tersebut sehingga Ditha mengerti. Terlihat wajah Ditha yang sumringah karena bia menyelesaikan soal yang menurutnya sangat sulit.


“Tha, “ panggil Leon serius. “ Gue seneng lihat sifat lu yang manja, polos, cerewet , dan begantung sama gue. Tapi gue minta lu berubah jangan seperti itu lagi yaa..”


Ditha tiba-tiba ikut berubah serius. “Kenaapa sih, Le? Kok  jadi aneh gitu sih. Lu gak akan ninggalin gue kan?”


“Gak kok. Gue nggak mau kemana-mana,Tha. Gue Cuma bilang misalkan. Lagian kan sekarang kamu lagi deket sama Desta. Lu harus lebih focus ke dia,Tha.”


Ditha refleks memeluk Leon. “Pokoknya gue nggak mau kehilangan lu, Le. Kalau gak ada lu, siapa yang mau dengerin cerita gue, ngajarin gue, selalu ada buat gue..”ujarnya penuh isak.


“Kamu jangan manja seperti ini, Tha.” Leon melepaskan pelukan Ditha. Dan mengusap air mata cewe itu. Ia pun melanjutkan mengajarkan Ditha matematika. Tapi gara-gara pembicaraan serius itu mereka berdua tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.


                                                                        ******************


Ditha terus terngiang-ngiang kata-kata Leon. Ia benar-benar penasaran dengan sikap Leon. Karena terus memikirkannya, Ditha nggak bisa focus dengan semua yang dikerjakannya. Bahkan belakangan ini, dia tidak menghiraukan Desta yang sedang didekatnya.


“Lu kenapa sih, Tha? Belakangan ini kok aneh banget. Lu sakit?” Tanya Desta kuatir.


“Nggak kok. Gue lagi nggak bisa focus aja, Des. Gue lagi banyak pikiran nih!”


Desta terdiam. Ia tahu kenapa Ditha berubah seperti itu. Ia mengajak Ditha duduk dan berbicara serius berdua. “Tha, ada yang mau gue tanyain. Lu jawab jujur yaa.”


Haduhh belum satu terselesaikan, yang satu ini buat penasaran juga lagi,kata Ditha dalam hati. “ Kenapa Des? Ada masalah?”


“Boleh gue Tanya, apa arti Leon buat hidup lu?”


Ditha terdiam. Karena itu juga yang ia cari tahu selama ini dalam dirinya. Kenapa ia nggak rela kehilangan Leon. “Leon itu orang yang baik, dia selalu melindungi gue dari kecil kita bersahabat, dia selalu ada mendengarkan cerita-cerita gue, dia tahan ngajarin gue meskipun gue orang yang telmi. Ketika gue lupa, dia selalu ada ingetin gue. Dia selalu ada kalau gue butuh bantuan dia. Dan semarah-marah dia, dia nggak pernah berhenti care sama gue,” ujarnya dengan lembut. Terlihat jelas semua yang diuucapkan Ditha terpancar dari dalam hatinya.


Raut wajah Desta terlihat pasrah. Ia sadar bahwa susah untuk mendapat posisi di hidup Ditha karena cewe itu sudah tahu sebetulnya siapa yang dia butuhkan tanpa ia menyadarinya. “Ternyata begitu besar yaa arti Leon dalam hidup ku, Tha. Apa lu pernah anggaap Leon lebih dari sahabat?”


Ditha nggak menjawabnya sama sekali. Karena ia memang bingung dan nggak tahu jawabannya.


“Tha, gue tahu meskipun lu nggak menyadarinya. Gue tahu dalam hati lu, Leon adalah orang yang special. Lu nggak sadar itu karena dia selalu ada buat lu.”


“ Desta kenapa sih? Kok tiba-tiba bawa-bawa nama Leon. Lebih baik kita bicarain yang lain aja,”potong Ditha.


“Gue milih mundur diantara lu dan Leon, Tha. Gue nggak mau jadi penghalang kalian berdua. Karena semakin hubungan kita dekat, semakin sakit juga buat gue dan lu.”


Ditha terlihat kesal dan bingung dengan pembahasan mereka berdua. “Gue nggak ngerti sama sekali. Gue nggak ngerti kenapa hari ini lu ngebahas Leon? Kenapa hari ini lu aneh seperti ini..”

 

“Ok. Gue akan jelasin ke lu, Tha. Apa sebelumnya Leon pernah bilang buat elo hal yang janggal?”


“I..iya,”katanya ragu.


“Waktu 2 hari yang lalu, Leon menemui gue, Tha. Dia bilang gue harus jagain lu seperti dia jagain ku. Karena dia nggak mungkin berada di dekat lu lagi. DIa bilang, dia akan ke Austria untuk melanjutkan sekolah. Makanya dia bilang, dia ingin kamu berubah nggak manja, polos, bergantung sama dia. Gue tau, gue nggak memahami diri lu seperti Leon memahami kamu.  Dia bilang kamu suka tempat ini makanya ia menyuruh aku ajak kamu kesini. Aku tahu dia sayang ke kamu lebih dari sahabat, Tha. Mungkin kamu nggak sadar hal itu.”


Pernyataan Desta membuat aku menangis sejadi-jadinya. Hatiku sakit tahu ia bakal meninggalkan aku. Tapi..aku nggak tahu harus bagaimana lagi. Apa aku sayang Leon lebih dari sahabat? Tanyaku dalam hati. “Dia pergi kapan, Des?” Tanyaku lemas.


“Sore ini dia pergi, Tha. Yuk, kita susul dia. Ungkapin perasaan kamu sebenarnya ke dia. Kamu tahu kan sekarang arti dia buat hidup kamu? Jelasin semuanya ke dia.”


“Nggak, Des. Aku nggak mau menghancurkan rencana dia. Aku nggak mau menyusahkan Leon lagi.”


“Tha, jangan buang kesempatan yang ada. Ceritakan semuanya ke Leon. Mana Ditha yang berani dan ceria? Please, aku nggak mau usaha aku untuk mundur untuk kalian berdua sia-sia.”  Desta tak peduli Ditha mau atau nggak, ia tetap menarik Ditha untuk mengejar Leon.


                                    *****************************************


Aku berlari mencari Leon ke bandara. Sesuai informasi yang di dapat dari keluarga Leon. Cowo itu ada di terminal 2 untuk keberangkatan luar negeri. Aku mencari Leon tapi aku nggak berhasil menemuinya. Aku pasrah dan nggak berdaya untuk menahannya pergi.


Mungkin usaha Desta untuk membawa aku lebih dekat dengan Leon harus berakhir seperti ini. Aku tahu, ia pasti patah hati dengan pilihanku, begitu juga seperti aku harus menyesal tidak bisa memberitahukan perasaan aku ke Leon.


Aku tersungkur di lantai dan menangis. Desta yang berdiri dibelakangku bingung untuk menghiburku. Tapi tiba-tiba seseorang berdiri dihadapanku lalu membelaiku.


“Desta, semuanya udah telat sekarang,” ujarku dalam isak.


“Ditha Felisha Andhika,”panggil orang itu lembut.


Itu bukannya suara Leon, kataku dalam hati. Aku perlahan-lahan menenggakan kepalaku. Dan senyuman tiba-tiba menghiasi wajahku. Aku langsung memeluknya dengan erat. “Please, jangan pergi, Le. Aku sayang sama kamu, Le. Aku gak mau kamu pergi,” ucap Ditha dengan yakin.


Leon membalas pelukanku. “Aku sayang sama kamu juga, Tha.”


Desta hanya bisa tersenyum membiarkan cintanya menemukan pasangan yang terbaik. Walaupun sakit, Desta tahu cinta sejati itu bukan harus memiliki tapi membuat orang yang disayanginya bahagia. Leon pun memutuskan untuk menunda perjalanannya ke Austria sampai ia lulus SMU di Jakarta. Setelah lulus, Leon berencana membawa Ditha untuk kuliah di Austria.


Aku sadar bahwa aku merasa rasa sayangku kepada Leon hanya sebatas sahabat. Tapi bila aku terus dan terus melihat perasaanku sebenarnya, aku tahu bahwa aku sangat menyayangi dia. Dan nggak ada yang nggak mungkin, my best friend, my boyfriend.

 

Cerpen ini terinspirasi dari lagu Menangis Tertawa . Belajar tentang orang yang kadang kita gak sadar karena sering bersama di dalam suka dan duka, itu adalah cinta sejati kita. Semoga cerpenku ini menginspirasi kalian semua yaaa. 

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Senin, 03/11/2014 - 09:24 WIB
Selasa, 04/11/2014 - 18:10 WIB
Jumat, 21/11/2014 - 10:12 WIB
Jumat, 07/11/2014 - 17:00 WIB
Sabtu, 01/11/2014 - 10:01 WIB
Kamis, 20/11/2014 - 09:51 WIB