Ollie Forsyth, Dulu Dibully Kini Dicari
 
Ollie Forsyth, Dulu Dibully Kini Dicari
Sabtu, 17/10/2015 - 11:35 WIB
 
 
Jakarta -

Kekurangan pada diri seseorang acapkali dijadikan alasan bagi individu atau kelompok untuk melakukan aksi bullying, baik secara verbal maupun fisik. Seperti yang dialami oleh Ollie Forsyth, yakni seorang pemuda penderita disleksia yang harus menanggung malu dan trauma karena dibully oleh teman-temannya. Tidak hanya dibully secara langsung, bahkan dia juga dibully secara online. Meski mendapatkan serangan terus menerus, Ollie tak pernah menceritakan tentang masalahnya kepada siapapun. Sampai suatu ketika, terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup karena tak mampu menahan kesedihan menjadi korban bullying. 


Ollie Forsyth bukan anak yang populer di sekolahnya. Ia tidak dianggap bagian dari lingkungan sosial di tempat ia sehari-hari menuntut ilmu. Penindasan dan olok-olok yang ia terima berasal dari kelainan disleksia yang ia derita. Ia dikucilkan karena dianggap berbeda oleh teman-temannya. Mereka menganggap Ollie bukan siapa-siapa dan ia tak akan bisa menjadi sosok yang berhasil dalam kehidupan.


Namun, teman-temannya salah. Remaja asal Northamptonshire, Inggris ini tidak begitu saja menerima penindasan dari sekitarnya. Ollie memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan dengan menggunakan semangat entrepreneurship. Untuk membuatnya bersemangat, Ollie membayangkan dirinya kelak akan menjadi seperti entrepreneur makmur dan besar Sir Richard Branson, dan kebetulan juga Branson adalah anak penderita disleksia dulunya. Dari Branson, Ollie pun belajar banyak dan ia siap mengubah jalan hidupnya ke arah yang lebih positif.


Ollie tidak hanya berhenti di situ. Ia bertekad membuktikan pada teman-temannya yang suka menindas itu bahwa ia bisa mendirikan sebuah bisnis di usia 13 tahun! Ketertarikan Ollie pada wirausaha memang bukan hal yang baru. Saat masih anak-anak, remaja Inggris itu sudah tertular virus entrepreneurship. Ia tumbuh di sebuah daerah yang cukup makmur secara ekonomi sehingga ia leluasa bereksplorasi dengan dunia yang ia sukai. Orang tuanya sudah mengajarkan bagaimana susah payahnya seseorang harus mendapatkan uang. Untuk mengerjakan pekerjaan sepele seperti menyeduh teh dan kopi untuk orang tuanya, Ollie diganjar 20 pence per cangkir dan untuk memanaskannya kembali, ia mendapatkan upah yang sama. Ollie juga terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti pergi berjalan dengan anjing dan memotong rumput untuk mendapatkan uang saku mingguan.


Namun, itu hanya pembuka saja. Ollie masuk lebih serius dalam entrepreneurship saat ia mendirikan Ollie’s Shop, sebuah butik hadiah online yang menjual berbagai aksesoris gelang, borgol, sabuk dan dompet kulit serta hadiah lucu bagi remaja dan orang tua mereka. Dengan bantuan kekluarga dan teman, Ollie memenuhi pesanan setiap harinya dari rumah. Di dalam rumahnya, Ollie menyimpan stok barang, yang sebagian ia impor dari Tiongkok.


Ia mengatakan Ollies Shop berhasil menjalankan roda bisnis sejak hari pertama diluncurkan dan terus berjalan sampai sekarang. Ollie mengumpulkan untung hingga lebih dari 2500 poundsterling, klaimnya, hanya dalam 6 bulan. Saat menyadari untung yang ia peroleh sudah relatif tinggi, ia memutuskan untuk memaksimalkan lagi kinerja bisnisnya. Ia bangga belum pernah mengecap rugi. Keuntungan Ollie terus meningkat dari 2500 ke 13.000 Poundsterling atau sekitar Rp 288 juta pada tahun pertama. Sejak saat itu keuntungan toko ini meningkat menjadi 30.000 Poundsterling (sekitar Rp 665 juta) dan meningkat dua kali lipat setiap tahunnya. 


Tak hanya itu saja, Ollie pun menjual hasil kebun kedua orang tuanya, memiliki bisnis cuci mobil dan memiliki toko kecil di sekolah yang menghasilkan 7.000 Poundsterling atau sekitar Rp 155 juta setiap tahun. Dia juga akan mengeluarkan buku di Amerika pada 2016 serta banyak lagi proyek yang telah menantinya.  Ollie pun kini telah terpilih dalam penghargaan The Great British Entrepreneurs. Dia juga menjalankan majalah wirausaha sendiri bernama The Budding Entrepreneur Magazine di Inggris, Amerika dan Jerman. 


"Aku pikir ini sangat menarik melihat aku meninggalkan sekolah tanpa banyak teman dan tidak merasakan tiga tahun yang menyenangkan dalam hidupku, tapi sekarang teman-teman sekolah memintaku untuk melakukan sesuatu bersama mereka," tuturnya. "Aku tidak masalah dengan ini semua, aku pikir ini adalah cara terbaik untuk menunjukkan kepada mereka yang membullyku bahwa aku tidaklah gagal." 

 
 
Artikel Terkait:
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-