Sahabat Terbaikku
Rabu, 23/03/2016 - 14:19 WIB
images-artikel/kecil/Sahabat Terbaikku(1).jpg
Sumber: soulofjakarta.com
 
 
Jakarta -


Konon persahabatan itu juga diatur dari garis kehidupan kita sendiri. Kadang-kadangku berpikir, apakah semua ini benar? Aku terus memikirkan perihal kejadian tersebut, sebetulnya apakah semua ini takdir? Sahabat... sahabat yang selalu ada disampingku, sekarang pergi meninggalkanku. Setiap kali kami bertemu, seperti orang asing, tak pernah bertegur sapa. “Lin, lo kenapa sih kok murung terus? Apa gara-gara Lala?” tanya Tita.

 

“Gue bingung tit, sebetulnya benar gak sih, kalo persahabatan itu juga terlihat dari garis kehidupan kita?” tanyaku penasaran, barangkai aja sahabatku itu tau.

 

“Linda...Linda! Kok aneh banget sih kamu, bisa-bisanya percaya dengan hal seperti itu!” Ucap ita dengan jengkel. “kalau kamu terus memikirkan Lala, kamu akan sakit hati terus Lin. Lala itu nggak pantes kita pikirin terus! Karena dia sendiri yang memilih meninggalkan kita, bukannya kita yang menyuruhnya!” nasihat Tita itu membuatku sedikit tersadar.


Aku menoleh ke arah Tita lalu aku tersenyum geli mendengar ucapannya “Tit, sejak kapan kamu kayak ibu-ibu lagi pidato sih? Omongan lo kok gak seperti biasanya” sindirku.

 

Muka Tita sedikit memerah lalu wajahnya berubah kesal padaku “Sialan banget sih lo! Gue nasihatin kok kayak gitu, rugi deh gue!” Aku tertawa lepas melihat kelakuannya yang menurutku lucu itu. “yee... kayak gitu aja marah. Eh meta sama dinda kemana,Tit?”.

 

“nggak tau tuh, mungkin lagi ke kantin beli makanan” ucapnya sambil mengkerutkan dahi.


Selain Lola, aku mempunyai sahabat yang mengerti diriku yaitu Tita, Meta, dan Dinda. Mereka semua sahabat terbaikku, mereka juga sama sakit hati sepertiku karena kelakuan Lola yang sangat kami benci saat ini. Apakah tindakan benar, kalau kita meninggalkan sahabat lama karena sahabat baru? Menurutku perbuatan seperti itu sangat tidak benar dan membuat orang menjadi kesal. Namun, apa mau dikata kalau itu semua sudah terjadi, yah kita harus menjalaninya dengan kuat kan?


*********************************************************************************

 

“Lin, liat tuh siapa yang jalan” ucap Meta dengan sinis sambil melirik ke arah Lola yang sedang jalan bersama genk barunya. “Ya tau dong, Met. Siapa lagi kalau bukan pengkhianat!” timbrung Dinda dengan judes. Aku hanya diam dan menatap ke arah Lola dengan tajam.

 

Seperti aku menata musuhku yang tak pernah kuduga sebelumnya. “Nggak usah diliatin kayak gitu deh, Lin. Orang kayak gitu nggak pantes diliat sama sekali, malahan bikin orang mau muntah aja!” ucap Tita kepadaku. Aku dapat menyadari tatapan Lola yang kesel dan tak terima dengan ucapan sahabat-sahabatku itu. Aku dapat melihat dengan jelas dari kelakuannya, yang tak merasa bersalah itu. Kelakuannya membuatku menjadi semakin membenci dirinya.

 

“Cabut yuk! Gue udah laper nih, Lin!” ajak meta sambil memegang perutnya karena kelaparan.

 

“Iya..Iya..” Ucapku tak tahan mendengar rengekkan Meta yang keras itu. Aku dan sahabat-sahabat terbaikku itu berjalan menuju mobil sedanku berwarna biru metalik.

 

******************************************************************************

 

Suasana di rumahku seperti biasanya sepi dan sepi. Karena kedua orangtuaku lebih mementingkan pekerjaan mereka daripada mereka daripada diriku sendiri. Kadang aku merasa iri melihat suasana keluarga Meta, Dinda, Tita, yang selalu ramau dan tentram. Gimana nggak, nyokapnya aja ibu rumah tangga, nggak seperti nyokapku yang bekerja, bekerja dan bekerja. Katanya sih, bosen kalo di rumah terus, kan aku udah besar jadi bisa mandiri, alasan nyokapku selalu itu-itu ajja. Makanya aku selalu nggak betah kalau ada di rumah. Tadinya aku selalu merasa tak apa-apa keadaan seperti ini karena ada Lola yang memiliki nasib yang sama sepertiku. Tapi sejak ia meninggakanku, aku jadi merasa sendiri.

 

“Bi....” panggilku. “iya non” jawab bi Inem menghampiriku. “Bi, papa mama nelpon gak tadi?”.”Oh nggak non, bapak sm nyonya bekum tau  kapan pulangnya” jelas bibi padaku. “hem... yaudah deh bi,makasih ya”.

 

Aku hanya diam, melamun dan menonton acara TV yang membosankan. Saat aku sedang asyik menonton, tiba-tiba saja terdengar bel rumahku berbunyi. Ketika aku buka pintu ternyata “SURPRISEEE....!!!” Meta, Dinda dan Tita serempak datang ke rumahku. Aku sangat terkejut dengan kedatangan mereka, karena tidak biasanya mereka datang saat sore hari seperti ini.

 

“hayyyy kalian buat gue kaget ajaa hahaha, kok tumben kesini sore-sore gini siihhh” ucapku dengan sumringah bahagia akan kedatangan mereka.

 

“nggak ada apa-apa Lin, kita mau nemenin lo aja di rumah, kasiaann sendrian ya kesepian :pku menangis tertawa ku terluka untukmu Lin, kalo kata lagu Ricky Kevin, hehehe” ucap Tita sambil mengejekku.

 

“Nih buat kita makan bareng-bareng” kata Dinda sambil menunjuk pizza yang mereka beli saat perjalanan menuju rumahku.

 

“yukyuk masuk, kita nonton DVD aja yaa, biar seruu” kataku sambil mengajak mereka masuk ke ruang tv.


Aku merasa sunggu beruntung mempunyai sahabat seperti dinda, tita dan meta yang sangat mengerti keadaanku. Mereka adalah anugrah Tuhan untukku. Aku mengerti bahwa sahabat adalah anugerah dari Tuhan. Sahabat akan datang dan pergi tanpa kita ketahui, maka kita harus menjaga persahabatan agar tak pernah luntur. Mereka selalu ada di setiap momen menangis tertawa dalam hidupku.

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-