Sebotol Lembaran Cinta Untuk Mu
Jumat, 18/03/2016 - 17:26 WIB
images-artikel/kecil/Sebotol Lembaran Cinta Untuk Mu.jpg
Sumber: soulofjakarta.com
 
 
Jakarta -

Cinta...,mungkin tidak akan pernah terwujud dalam hidupku. Ketika ku sadari jika itu hanyalah angan-angan sekaligus impian yang tak mungkin terjadi. Karena aku tahu...,aku hanya lelaki yang lebih rendah dari lainnya. Aku memang berbeda dari kesempurnaan mereka, Cinta. Tapi apa kau tahu kondisiku sekarang? Andai saja ada kesempatan itu, aku ingin sekali mengatakan semuanya di hadapan senyum cantikmu. Apa kau mau melihat ku...? Ku rasa tidak mungkin. Lihatlah dirimu, Daru..! Kau hanya lelaki cacat, yang mustahil meraih perhatian darinya. Mungkin hanya angan yang bisa ku gapai. Tidak lebih...! Jalankan berdiri di hadapannya, untuk berjalan saja kau susah sekali. Apa mungkin dia mau menerimamu. Buang saja imipanmu itu....!


"Hey..Daru, kenapa kamu melihatnya seperti itu?" ejek Bagas, lelaki paling jahat ketika berhadapan dengan lelaki cacat itu.
Semua suasana bahagia dengan sekejap hancur berantakan ketika lelaki preman itu datang dan menepuk kepalanya. Saat dimana mata ini tampak begitu senang menyaksikan cinta pertamanya, Biangka yang masih sibuk membaca buku di ruang kantin sekolah. Apa aku salah kalau melihatnya sebentar saja?


"Kamu tu ngaca dong..! Lihat, mana mungkin Biangka mau nerima cinta laki-laki cacat" ejak Bagas lagi sambil tertawa keras di samping tubuh Daru yang kini hanya bisa terdiam, menunduk rasa malu. Aku mohon, aku juga manusia seperti dirimu. Jangan meghinaku!


Hanya diam yang dirasakannya saat itu, aku bahkan tidak bisa melawan semua hinaannya. Ketika aku sendiri tersadar jika aku memang anak cacat yang terlihat buruk di mata orang lain. Mungkin benar apa yang dikatakan Bagas kalau semua apa yang ku lakukan ini hanya hal yang terlalu bodoh. Mustahil dia akan menyukai lelaki cacat seperti ku ini. Atau mungkin..? Biangka justru akan membenciku kalau dia tahu.....aku di sini sungguh sangat mencintainya. Sadarlah Daru, semuanya hanya sia-sia....!
Saat itulah hanya suara tangisan yang bisa ku dengar dibalik lubang daun telinga. Hanya isak tangis yang terasa jelas di dalam dering suaraku. Air mataku bahkan tak henti membasahi putihnya seragam sekolah. Aku memang lelaki cacat, yang setiap hari hanya bisa berjalan pincang kesana kemari. Tapi, apa salah kalau hatiku juga merasakan cinta? Meskipun ini adalah untuk yang pertama kalinya. Biangka, kau lah cinta sejatiku...! Hingga berhari-hari waktu, hanya bisaku habiskan untuk memandangi wajahmu saja. Kaulah penghibur relung kesah hatiku, meskipun hati ini harus kerap dilanda rasa sakit hati dan jeritan tangis karena ulah seklaligus hinaan mereka. Aku hanya lelaki cacat yang tidak punya apa-apa selain cinta dari Tuhan. Hanya itu saja..! Namun apa yang terjadi, ketika detak jantung ini dibuat sakit kembali saat mataku dengan kejutnya melihat dirimu tengah tersenyum manis di hadapan lelaki lain. Apakah ini rasanya cinta dibalik batu? Biangka, andai saja kau tahu nasib hatiku sekarang. Apa cintamu bisa menghentikan suara tangis sakit hati ini? Hingga satu hal yang ku nantikan tiba saatnya. Aku berharap sikapmu lain dari yang lain....! Melihatmu bisa baik di depanku saja, aku sudah sangat bahagia, Biangka. I Love You....


"Ini....un..untukmu" kataku sambil menyodorkan segelas plastik minuman dingin. Mungkin masa itu, ketika untuk yang pertama kalinya aku berbicara di hadapanmu langsung. Aku bahkan tidak tahu, apakah ini untuk yang pertama atau yang terakhir kalinya, Biangka.


"Terima kasih...kamu Daru kan, murid kelas sebelah" ucapnya tersenyum seraya mengambil gelas minuman dari tanganku yang merinding bergetar. Ya...Tuhan..!


"I...ii...iyaa..aku Daru Aksara. Murid kelas sebelah" balasku tersenyum salting di depannya yang kini tengah menuntup lembaran novel romantis.


"Kamu tu yaaa, seperti cowok paling lugu di sekolah ini" jelas Biangka menatap senyum wajahku yang kini terduduk di sampingnya. Tuhan..dia di hadapanku sekarang...!


Benar-benar moment yang menggembirakan saat itu. Puji syukur untukmu Tuhanku. Terima kasih sekali....! Saat-saat yang paling ku idam-idamkan akhirnya hadir nyata tepat dihadapan mata. Ketika batin yang kerap dilanda rasa sakit hati, kini akhirnya tersembuhkan oleh rasa bahagia saat melihat wajahmu. Aku tidak akan meminta lebih setelah ini, Biangka...! Terima kasih...!
   Namun sayang, semua tidak terjadi seperti mimpi malamku. Ketika suasana yang ku pikir hanya sekali dalam nasib ini. Harus kandas ketika lemparan bola basket dengan kejamnya menghantam wajahku. Kalian tega sekali padaku..! Sontak saja, sepasang mataku hanya bisa tertutup rapat saat berusaha kuat menahan sakit yang parah. Aku rapuh, sungguh terlihat jelas saat itu. Saat dimana hatiku dibuat menangis lagi oleh tangan zolim mereka. Ada kah yang bisa melindungku sekarang, Tuhan?


"Astaga, Daru..! Kamu tidak apa-apa?' panik Biangka menggenggam erat tanganku yang kini tengah sibuk menyentuh rapat sepasang mata yang terluka sakit karenanya.


"Jangan dekati dia, Biangka! Dia lelaki bodoh.....lihat saja dia, jalannya pincang seperti itu" ejek Bagas, lelaki penjahat itu datang lagi merusak semuanya.


"Bagas, hentikan semuanya. Dia salah apa?" tanya Biangka memaki-maki di depan Bagas.


"Dia salah apa.....? Hey, lihatlah....kamu emang enggak malu apa dideketin cowok cacat lemah kayak dia!" ejek keras Bagas, mendorong tubuhku hingga terjatuh di atas pasir. Kamu jahat sekali, apa salahku....! Tangisku dalam hati ketika bangkit dari hinaan mereka.


Saat-saat itulah, hanya luka dan isak tangis sakit hati yang bisa ku bawa ketika berlari menjauhimu, Biangka. Di sisi lain, memang butuh kerelaan yang besar jika aku harus ikhlas mencintaimu hingga akhirnya bisa mendekati senyum manismu. Aku bahkan ikhlas jika harus menangis asalkan bisa melihat wajahmu sepanjang masa. Kalau pun kelak raga ini harus mati karena tak mampu menahan beban sakit hati. Aku rela, Biangka!


Mungkin hanya bayangan dan mimpi, kalau pun aku menginginkan kau ikhlas menerima cintaku. Tapi apa mungkin itu terjadi Tuhan, karena kekuasaan hanya ada di tangan-Mu. Tolonglah aku, Tuhan...! Hingga semua rasa ini harus ku tuangkan langsung di balik coretan lembar kertas putih. Melukis wajah cantikmu, Biangka...! Kalau saja Biangka tahu bagaimana perasaan hatiku sekarang. Aku menangis, Biangka....!! Aku benar-benar merasakan seperti terjatuh di atas jurang tanpa ada ujungnya. Isak tangis bahkan tak bisa ku hentikan saat dimana pikiran ini harus dilihatkan kembali oleh hinaan kasar mereka. Aku memang cacat, tapi tolong jangan lukai hatiku...! Namun disisi lain suara gelak tawa dan senyuman bahagia tiba-tiba terpancar jelas di seulas bibir hangatku. Ketika hatiku harus dihadapkan oleh rasa dilema antara sedih tangis dan suka cita. Sungguh, pikiranku kembali diingatkan oleh masa itu. Masa dimana kita terduduk bersama, meskipun hanya sebentar. Tak apa, terima kasih cintaku...!
Hingga tanpa ku sadari, lukisan wajah persismu kini tergambar jelas dibalik lekukan pensil tanganku. Inikah wajahmu, Biangka! Di hadapan tatapan matamu itulah rasa senyum akan cinta kembali membara di hatiku. Hanya ini yang bisa ku lakukan untukmu, aku ingin sekali kau ada di sini. Menemaniku meratapi kesedihan....! Hingga sesuatu yang aneh kini terkubur di dalam pikiranku. Terakhir tangan ini mengukirkan rasa cintaku di bawah lekukan garis cantik wajah meronamu. Andai kau melihat ini...! Ucapku tersenyum seraya memasukan lembaran kertas lukisan wajahmu itu di dalam sebotol kaca. Dan akhirnya, tanganku begitu rela ketika melemparkan botol kaca itu di tengah derasnya air sungai yang mengalir. Sungguh Biangka, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi....! Aku tidak akan meminta lebih seperti rasa cintaku yang terhanyut oleh air sungai itu. Mendekati tubuhmu saat itu, sudah menjadi hadiah terindah untukku. Maafkan aku jika hati dari tubuh lelaki cacat ini telah ceroboh mencintaimu. Aku memang tidak pantas untukmu.


Namun apa yang terjadi? Sepertinya takdir Tuhan mulai membuka relung hatiku. Semuanya benar-benar di luar dugaan. Ketika tubuhmu yang kini tengah terduduk di pinggiran sungai jernih. Kini harus dikejutkan oleh penampakan sebotol kaca yang terbawa arus hingga menabrak sebatang kakimu di permukaan air. Ada apa ini? Hingga dengan perasaan yang begitu kuat, tanganmu dengan senang hati mengambil botol itu. Sampai pada titik puncaknya, matamu dengan ikhlasnya memandang lembaran kertas putih di balik botol itu. Lihatlah..Biangka..! Itulah bukti cintaku padamu..! Hingga tangan Tuhan seakan benar-benar bertindak dalam kejadian ini. Saat dimana tangannya kini membuka perlahan lembaran kertas lukisan itu. Dan.... Inilah akhirnya! Ketika matamu dibuat terharu bahagia saat menyaksikan wajah cantikmu yang kini tergambar jelas di atas kertas putih buatanku. Kau melihatnya...Biangka!! Rasakan hatiku sekarang...aku mohon!


"Indah sekali lukisan ini....ini wajahku kan!" kejut Biangka menatap bahagia lukisan dirinya sendiri. Aku harap kau menyukainya...! Meskipun aku tidak tahu, kenapa akhirnya bisa seperti ini. Ketika sebotol ungkapan cinta yang segaja ku hanyutkan bersama air sungai itu justru berada nyata di tanganmu sekarang. Coba rasakan cintaku padamu....!


Hingga hari esok pun tiba, ketika wajah tangisnya kini nampak begitu menghias di suasana hening ini. Ada apa denganmu? Tanyaku mengkhawatirkan keadaanmu. Jika saja ada satu kesempatan lagi di depan mata, aku ingin sekali datang menghiburmu. Aku mohon jangan menangis, Biangka...! Pintaku ketika menatap tangisnya dengan seukir kalimat ungkapan cinta hari ini di selembar kertas putih. Mungkin hanya ini yang bisa ku tuangkan ketika ku sadari, rasanya mustahil lagi jika aku berani mendekatimu. Aku harus tahu kondisiku.....aku hanya lelaki cacat yang tidak pantas untukmu. Namun semuanya boleh terucap dalam bibir ini saat semua justru berada pada takdir-Nya. Aku bahkan tidak mengerti, kenapa kejadian yang mustahil ini bisa terjadi lagi. Inikah Maha Adil-Mu, Tuhan! Saat semuanya berawal dari sini, ketika isak tangisnya tengah pecah, terduduk di tengah batu besar pinggiran anak sungai. Hingga satu lagi insiden yang sama, sebotol lembaran kertas di dalamnya kini hadir kembali menabrak kakinya yang tengah sejuk merendam diri di dalam surgawi air sungai. "Botol lagi......!" kejutnya seketika tersenyum seraya mengambil botol bening yang terlihat mengambang di pinggiran sungai. Tuhan, mungkin kah....!
Dengan wajah merona bahagia, tangannya dengan senang hati membuka cepat lembaran kertas itu. Dan apa yang terjadi...? Nasibmu sekarang benar-benar selaras dengan ukiran kalimat itu. Biangka, aku mohon jangan menangis...." segaris kalimat ungkapan hati kini telah terbaca di balik senyum wajah tangisnya. Hingga sepasang matanya kini dibuat heran, siapa yang menghanyutkan botol ini? Tanyanya dalam hati sembari menyaksikan segala apapun di sekitarnya. Aku tidak hadir di sampingmu, Biangka..! Apa kau akan marah terkejut jika sebotol ungkapan hati yang terhanyut itu adalah buah perasaanku. Aku yakin kau akan terkejut dan tidak akan pernah menerimanya. Aku memang harus sadar diri.....!


Hingga waktu akhirnya kembali menunjukkan laju porosnya yang kian berputar cepat. Bagaikan sebutir roda yang kini tengah cepat dikayuh oleh sepasang kuda putih. Sama seperti yang terjadi waktu itu. Ketika tangan ini untuk yang terakhir kalinya melempar bebas sebotol berisi ungkapan hatiku ke jernih air ciptaan Tuhan. Ku pikir ini cukup yang terakhir, sudah cukup rasanya aku membuang rasa ini hanyut bersama derasnya air sungai itu sampai sejauh mungkin. Selamat tinggal, Biangka....!! Maafkan aku sudah mencintaimu..! Namun sayang, semuanya bagaikan skenario Tuhan yang sulit dilogika sama sekali oleh ku. Ketika di waktu yang sama, sepasang kakinya kini tengah semangat berlari menuju pinggiran anak sungai. "Aku menanti kiriman botol itu lagi untukku...." ungkapnya tersenyum cantik sembari memainkan beberapa helai daun yang tumbuh subur di samping tubuh. Dimana kau,botol kecil...? Aku menunggumu...!


Dan akhirnya, apa yang ia inginkan tiba-tiba muncul deras di hadapan kakinya. Itu..dia..! Teriaknya bahagia seketika berusaha kuat meraih kiriman botol yang kini tampak hanyut, terbawa oleh derasnya air sungai. Jangan pergi.....!! Hingga teriakan yang kedua kali justru berhasil membawa tangannya menggenggam botol kaca kecil itu. Ambillah....Biangka! Aku mencintaimu, cintaku...! Dan tampaklah wajah cerianya ketika terlihat tak sabar membuka isi surat dalam botol itu. Terasa sangat dingin saat disentuh oleh sepasang tangannya yang kini tampak senang membaca. Namun sayang Biangka, maafkan aku....! Aku harus pergi....karena ini adalah yang terakhir kalinya.


"Biangka, aku harus jauh darimu. Berulang kali aku menangis tersenyum tawa hanya untukmu. Karena kau adalah cinta pertama dan terakhirku. I Love You......!!" bacanya dengan nada kejut dalam hati seolah tak yakin apa yang ia lihat baru saja. Jangan tinggalkan aku..!! Siapa kau sebenarnya? Teriaknya sembari berlari mengikuti arah jalur anak sungai itu. Matanya bahkan tak henti menatap ke arah depan. Jangan sampai kau menemukan ku, Biangka! Kau pasti tidak akan bisa menerima ini. Aku hanya anak cacat, Biangka...!


"TUNGGU...Jangan Pergi...!!!!" teriaknya seraya menemukanku tengah berdiri, menangis di balik dinding jembatan atas sungai. BIANGKA..KAU KAH ITU..? Kejutku seraya membalikkan badan berusaha cepat menjauhi laju larinya. Bagaimana mungkin dia bisa di sini? Kejutku dalam hati seketika melangkah terpincang-pincang di pinggiran jalan jembatan.


"Tunggu...Kamu Daru kan..!' kejutnya berhasil menarik tanganku.


"Biangka..lepaskan aku!" pintaku berusaha kabur.


"Tolong jangan pergi......!!" ucapnya seketika memeluk tubuh hangatku di tengah gerimisnya hujan. Ada apa ini, Tuhan? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Kejutku ketika merasakan pelukan tubuhnya yang terasa begitu ikhlas dari hati.


 "Biangka, aku hanya lelaki cacat. Aku tidak seperti yang kau bayangkan....." tangisku di balik wajah pelukannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa..!


 "Kau kan yang menghanyutkan botol ini di sungai. Katakan...!!"bentak Biangka menangis haru, melepaskan pelukannya dari tubuhku.


 "Iya...itu aku yang menghanyutkannya....Biangka aku mencintaimu."ungkapku menangis tersenyum bahagia di hadapannya. Terima kasih, Tuhan..!


 "Daru..aku...aku bahagia akan semua ini. Makasih atas kepedulianmu..kau kiriman Tuhan untukku" ucapnya seraya memeluk tubuhku kembali di tengah jalanan aspal yang basah karenanya.


Semuanya terlihat jelas, ketika campur tangan Tuhan dengan senang hati membantu dilema cinta yang kerap ku rasakan. Aku bahkan tidak bisa membayangkan jika ada rencana indah di balik Sebotol Lembaran Cinta Untukmu. Biangka, I Love You From My Bottle.....!! Thanks My God!


Tak ku sangka atas anugerah-Nya. Ketika hanya sebotol kaca, penghanyut ungkapan cinta terakhirku justru melahirkan benih cinta pertama di antara kita. Terima kasih sudah menerimaku apa adanya, Sayang. Be My Love....!

 
Thank for this event....!#CryAndLaugh ..! 

-Tista Apryandani - 

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Senin, 03/11/2014 - 09:24 WIB
Selasa, 04/11/2014 - 18:10 WIB
Jumat, 21/11/2014 - 10:12 WIB
Jumat, 07/11/2014 - 17:00 WIB
Sabtu, 01/11/2014 - 10:01 WIB
Kamis, 20/11/2014 - 09:51 WIB