Hai, Sobat Souja! Perjalanan sejarah Indonesia begitu panjang, dari masa penjajahan Belanda sampai era kemerdekaan. Bukti dari panjangnya " />

5 Hotel Ikonik di Indonesia Ini Dulunya Gedung Bersejarah

  • Rabu, 24/08/2022 - 10:42 WIB
Hai, Sobat Souja! Perjalanan sejarah Indonesia begitu panjang, dari masa penjajahan Belanda sampai era kemerdekaan. Bukti dari panjangnya perjuangan bangsa Indonesia adalah banyaknya bangunan tua yang menjadi saksi bisu sejarah tersebut.

Tahukah Anda bahwa sejumlah gedung ikonik yang dahulu berperan penting bagi tanah air itu, kini telah dialihfungsikan menjadi sebuah hotel terkenal? Bahkan, hotelnya masih beroperasi sampai hari ini.

Tentu akan menjadi pengalaman menarik bagi Anda untuk menginap di hotel-hotel yang punya jejak sejarah dalam perjuangan bangsa Indonesia. Berikut 5 hotel ikonik yang dulunya merupakan gedung bersejarah, seperti dirangkum Pegipegi. Tertarik menginap?

1. The Hermitage Jakarta
 
d 
Sumber: Whats New Indonesia 
 
Jauh sebelum dioperasikan sebagai hotel bintang lima, bangunan ini dulunya merupakan pusat telekomunikasi pemerintah Hindia Belanda bernama Telefoongebouw, yang pertama kali dibangun pada tahun 1920. 

Pada 1999, sempat menjadi tempat Universitas Bung Karno (UBK), namun pada 2008 diubah fungsi menjadi penginapan dengan tetap mempertahankan nilai sejarah, terutama arsitektur dan interior ruangan. Pada 2015, Tribute Portfolio mengambil alih dan menjadi Hotel The Hermitage Jakarta. The Hermitage menawarkan 90 kamar dan Suite yang dipecah menjadi delapan kategori dengan luas mulai dari 40 meter persegi.

2. Horison Arcadia Surabaya
 
d 
Sumber: Tiket.com 

Hotel Horison Arcadia berada di kawasan Krembangan, Surabaya, Jawa Timur. Fasad -sisi luar sebuah bangunan- dari hotel ini seakan mengingatkan Anda pada masa kolonial Belanda yang sering ditampilkan dalam film dokumenter. Gedung ini berdiri sejak tahun 1916 dan pada awal pendiriannya dioperasikan sebagai kantor perusahaan di bidang perkebunan milik Belanda bernama 'Geo Wehry & Co'.

Setelah masa penjajahan berakhir, gedung ini sempat terbengkalai. Barulah pada tahun 2017, pihak Grup Brasali mengambil alih kepemilikannya untuk dijadikan sebuah hotel. Beberapa bagian gedung direnovasi sesuai kebutuhan, tapi bagian depan hotel masih merupakan bangunan asli dengan ciri khas warna merah maroon dan bata.

Horison Arcadia Surabaya menyediakan 147 kamar yang terbagi menjadi dua tipe, yakni Standard Room (136 kamar) dan Superior Room (11 kamar). Setiap kamar dilengkapi AC, TV berlayar datar dengan channel internasional, meja kerja, coffee and tea maker, hingga room service 24 jam. Anda yang sedang dalam perjalanan bisnis juga bisa terhubung dengan internet melalui sambungan Wi-Fi gratis.

3. Hotel Salak The Heritage

Salah satu hotel ikonik bekas gedung bersejarah di Kota Bogor, Jawa Barat adalah Hotel Salak The Heritage. Bangunan ini sempat dipakai untuk tempat beristirahat keluarga Gubernur Jenderal VOC beserta para elit pemerintahan pada masa itu. Kemudian, dijadikan markas militer Jepang tahun 1948, dan akhirnya berhasil dimiliki Indonesia pasca kemerdekaan.

Pada tahun 1998 gedung ini beralih fungsi menjadi hotel dengan nama Hotel Salak The Heritage. Hotel ini dibangun dengan gaya royal heritage dan dilengkapi dengan fasilitas berteknologi modern. Sebanyak 120 kamar hotel di sini mengusung desain klasik Eropa yang indah.

Anda juga bisa memiliki banyak opsi untuk menikmati hidangan lezat di hotel, mulai dari Kanari Cafe yang beroperasi selama 24 jam, Binnenhof Restaurant atau Den Haag Cafe yang beroperasi sejak pukul 9 pagi hingga 9 malam. 

4. Sriwijaya Hotel Jakarta
 
d 
Sumber: Traveloka 

Sriwijaya Hotel Jakarta adalah salah satu hotel tertua di Jakarta. Hotel ini dulunya adalah sebuah toko roti milik seorang warga negara asing bernama Conrad Alexander Willem Cavadino. Sejak berdiri tahun 1863, bakery milik Cavadino itu menjual beraneka macam cokelat, permen, cerutu tradisional Belanda, anggur, dan bahan pangan dengan kualitas terbaik. Toko ini semula berada di Rijswijk dan Citadelweg atau sekarang Jalan Veteran dan Jalan Veteran I.

Selama bertahun-tahun, toko tersebut sukses dan dikenal luas oleh para bangsawan dan pendatang. Saking terkenalnya, Cavadino menyulap toko miliknya menjadi hotel. Awalnya, beliau beri nama Hotel Cavadino. Pada tahun 1899, hotel ini berubah nama menjadi Hotel du Lion d'Or dan bertahan selama 42 tahun.

Lalu, kembali mengubah namanya menjadi Park Hotel dan terakhir menjadi Hotel Sriwijaya sejak tahun 1950-an sampai sekarang. Bila diperhatikan, bangunannya masih menampilkan kesan kolonial Belanda. Namun, untuk interiornya sendiri sudah banyak mengalami perkembangan.

5. Hotel Lengkong GKPRI

Belum banyak yang mengetahui bahwa gedung Hotel Lengkong merupakan satu dari sekian banyak warisan Belanda. Dahulu, gedung ini digunakan pemerintah sebagai Gedung Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia (GKPRI). Peresmian gedung dilaksanakan pada 20 Juli 1959 oleh Raden Hasan Nata Permana yang menjabat sebagai Ketua Pegawai Koperasi Republik Indonesia (PKRI) ketika itu.

Pada Agustus 2004, fungsi GKPRI berganti menjadi sebuah wisma di Jawa Barat bernama Hotel Lengkong karena lokasinya berada di Jalan Lengkong Besar. Meskipun klasifikasi hotelnya non bintang, hotel ini direkomendasikan bagi Anda yang mencari penginapan murah dan nyaman dekat pusat kota. Secara bisnis, Hotel Lengkong memang beroperasi sebagai hotel, tapi pemerintah setempat tetap memasukkan gadung ini sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi.

Sumber: CNN Indonesia

About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.