Menjelajahi Sumatera Utara, Tanah Penuh Kenangan dan Nostalgia

  • Kamis, 25/08/2022 - 09:17 WIB
Hai, Sobat Souja! Hempasan angin menerpa wajah begitu saya turun dari pesawat dan menjejakkan kaki di Bandara Internasional Silangit, Sumatera Utara. Angin begitu kencang dan dingin menusuk badan.

Ketika melihat layar smartphone, aplikasi cuaca menunjukkan suhu 25 derajat celcius. Suhu tersebut cukup dingin, mengingat saat itu baru pukul 13.45 WIB ketika saya menginjakkan kaki di bandara yang terletak di Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Suara seorang pria memecah lamunan saya yang sedang menganggumi indahnya alam di Tanah Sumatera Utara.

"Butuh taksi, Pak? Mau di antar ke mana, Pak?" kata pria berumur sekitar 40 tahunan itu menawarkan jasanya kepada saya.

Saya menolak tawaran tersebut, lantaran sudah ada sopir yang disiapkan selama saya di Sumatera Utara mengikuti program Jelajah #SerunyaIndonesia bersama TikTok.

Dalam program Jelajah #SerunyaIndonesia bersama TikTok ini, saya akan menelusuri sejumlah daerah di Sumatera Utara selama tiga hari, mulai Rabu (10/8) sampai Jumat (12/8). Tujuan pertama, Danau Toba.

Sopir kemudian langsung memacu mobil Kijang Innova meluncur ke tempat tujuan saya hari itu di Danau Toba. Namun, di tengah jalan cacing-cacing di perut sudah mulai bernyanyi seakan meminta jatah.

Akhirnya saya meminta supir untuk menepi di salah satu warung makan di pinggir jalan, mengingat waktu tempuh dari Bandara Silangit ke Pantai Bebas Parapat Danau Toba, tujuan pertama saya, hampir dua jam menggunakan mobil.

Kami pun berhenti di rumah makan Sinar Minang untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan. Tak ada yang khusus atau berbeda dari menu di restoran ini.

Namun, yang menarik perhatian saat itu adalah ketika pelayan menawarkan teh mandi kepada saya. Saya pun bingung, apa itu teh mandi?

"Teh mandi itu singkatan dari teh manis dingin," kata sopir yang menemani saya saat itu. Ternyata, orang-orang di Sumatera Utara lebih akrab menggunakan istilah teh mandi daripada es teh manis.

Setelah sekitar 30 menit menghabiskan makanan untuk mengisi perut, saya melanjutkan perjalanan.

Sunset di Pantai Bebas Danau Toba
 
 d
Sumber: Detik Travel 

Waktu di jam tangan menunjukkan pukul 17.06 ketika saya tiba di Pantai Bebas Parapat Danau Toba. Pantai ini terletak di Kelurahan Parapat, Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.

Pantai tersebut berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 10.000 meter persegi. Setibanya di sana, saya langsung disuguhkan pemandangan hamparan air Danau Toba berwarna hijau emerald.

Pantai ini baru saja selesai direvitalisasi dan pada Februari 202 diresmikan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. Di Pantai terdapat Patung Selamat Datang, yang terdiri dari pria dan perempuan menggunakan pakaian adat khas Batak.

Ada juga amphiteater, anjungan tepi pantai, hingga Panggung Geladak yang bisa menjadi tempat menikmati keindahan Danau Toba. Sore itu suasana di Pantai Bebas Parapat Danau Toba cukup ramai.

Seorang pria tampak penuh dengan peluh keringat usai jogging sore di kawasan tersebut. Di tempat lain, ada dua perempuan yang hanya duduk-duduk sekadar berswafoto bersama anjing peliharaannya menanti matahari terbenam.

Pantai Bebas Parapat Danau Toba menjadi salah satu lokasi terbaik menyaksikan sunset. Air danau berwarna hijau emerald berbaur dengan rona merah kekuningan menjadikan pemandangan yang sempurna untuk menikmati senja di Danau Toba.

Selagi menikmati momen matahari terbenam sambil berfoto-foto, teriakan bocah-bocah berumur sekitar 10 tahunan memecah keheningan.

Mereka tiba-tiba menghampiri saya, sambil merengek meminta saya melempar koin ke dalam air danau.

"Bang, lempar lah bang!" teriak bocah-bocah tersebut.

Menurut penuturan warga sekitar, bocah-bocah itu biasa disebut penyelam koin atau Ciling. Mereka mengamen untuk bisa menambah pundi-pundi uangnya.

Selena Pasaribu, salah seorang warga setempat mengatakan bahwa lempar koin untuk dikejar bocah-bocah itu merupakan salah satu tradisi di sekitar Danau Toba.

"Itu mereka penyelam koin, pokoknya mereka minta koin atau enggak bilang lempar Ciling," ujar Selena.

Menurut Selena tradisi ini sudah turun menurun. Namun, baru beberapa waktu terakhir ini tradisi lempar koin itu dilakukan di tepian Pantai Bebas Danau Toba.

Biasanya aksi para Ciling itu dilakukan di dekat kapal yang akan berlabuh di Dermaga Parapat Danau Toba.

"Dulu sebelum Pantai Bebas dibangun, anak-anak itu minta lempar koin di kapal," jelas dia.

Kendati begitu, uang bukan tujuan utama mereka melakukan aksi menyelam untuk ambil koin. Tujuan utama bocah-bocah itu berlatih bernang sambil bersenang-senang bersama teman sepantaran.

Ngopi di Kafe Legendaris dan Berkeliling Naik Becak Siantar Asli

Tak sampai 24 jam saya berada di kawasan Danau Toba. Setelah bermalam di salah satu hotel di tepian Danau Toba, saya dan tim Jelajah #SerunyaIndonesia melanjutkan perjalanan usai sarapan.

Destinasi berikutnya, Kota Pematang Siantar. Perjalanan dari Parapat menuju Kota Pematang Siantar memakan waktu kurang lebih dua jam melalui jalur darat.

Setelah berangkat dari hotel pukul 08.37 WIB, kami tiba di kedai kopi Massa Kok Tong sekitar pukul 10.40 WIB. Kedai kopi ini terletak di persimpangan jalan Dr Wahidin dan Jalan Cipto.
 
d 
Sumber: Otten Coffee 

Siang itu, suasana di kedai kopi itu sudah hiruk pikuk suara berisik pengunjung yang sedang mengobrol diselingi sahut-sahutan pelayan mencatat pesanan. Di sana, kami janjian bertemu dengan salah satu content creator TikTok, Firly Adhyatma, pemilik akun @firlyafro.

Kedai kopi yang berdiri sejak 29 Juni 1925 ini salah satu yang tertua, bukan hanya di Sumatera Utara, tapi juga Indonesia. Siang itu saya memesan kopi hitam panas yang menjadi menu andalan dan roti bakar srikaya.

Kedai kopi ini sejatinya hanya menyediakan menu kopi dan roti bakar, akan tetapi di samping kedai itu terdapat sejumlah gerobak penjual makanan yang tak berhubungan langsung dengan Kopi Massa Kok Tong. Deretan gerobak itu menyajikan menu alternatif, mulai dari bakpau hingga mie ayam.

Usai berbincang-bincang dengan Firly, saya dan tim Jelajah #SerunyaIndonesia meminta waktu untuk mencari makanan untuk mengisi perut. Satu yang muncul di benak saya saat itu adalah mencicipi bakmi pangsit khas Siantar.

Makanan itu memang menjadi salah satu menu khas asal Siantar. Namun, tantangannya adalah mencari bakmi pangsit halal, karena bakmi khas Siantar selalu menyertakan unsur babi dalam makanannya.

Sayangnya, usaha saya mencari bakmi khas Siantar berlabel halal saat itu tak berhasil. Akhirnya, anggota tim yang mayoritas memeluk agama Islam memutuskan makan siang di Rumah Makan Beringin Indah 2.

Restoran yang berlokasi di Jalan Pematang Siantar-Tebing Tinggi itu terkenal dengan menu khasnya, burung goreng.

Burung Goreng di RM Beringin Indah 2 Siantar. (Foto: CNN Indonesia/Damar Iradat)
Selain burung goreng, restoran ini menyajikan menu-menu seperti kebanyakan restoran khas Indonesia lainnya, semisal tumis kangkung, gado-gado, hingga ayam goreng.

Saat itu saya memesan dua ekor burung puyuh goreng dan tiga ekor burung ruak-ruak goreng. Untuk satu ekornya, burung puyuh goreng dihargai Rp15 ribu, sementara burung ruak-ruak goreng Rp20 ribu.

Menu-menu di RM Beringin Indah 2 tergolong murah. Untuk seporsi gado-gado hanya dihargai Rp16 ribu, sementara tumis kangkung Rp13 ribu, serta tahu dan tempe goreng Rp15 ribu.

Setelah mengisi perut, kami memutuskan untuk berkeliling Kota Pematang Siantar menggunakan Becak Motor atau Bentor. Moda transportasi ini merupakan salah satu ciri khas Siantar.

Pasalnya, yang digunakan dalam bukan motor sembarangan, melainkan motor gede atau moge merek Birmingah Small Arms (BSA) yang legendaris. Motor itu pernah digunakan penjajah Belanda dan sekutunya pada masa kolonial.

Saking lekatnya dengan Siantar, singkatan BSA sering dipelesetkan sebagai Becak Siantar Asli. Bahkan, ada tugu Becak dengan motor BSA di depan Kantor Wali Kota Pematang Siantar.

Mulanya agak sulit mencari BSA. Beberapa kali saya hampir memberhentikan becak motor biasa, bukan yang menggunakan motor BSA.

Akhirnya, kami menemukan BSA ketika menyusuri Jalan Merdeka. Untuk bisa naik bentor keliling Siantar, saya hanya perlu mengeluarkan uang Rp30.000 untuk sekali perjalanan.

Sensasi menaiki bentor BSA asli memang berbeda. Sesekali becak yang saya tumpangi bergoyang naik turun ketika motor mengerem. Belum lagi suara motor tua yang cukup berisik menemani perjalanan saya saat itu. Namun, hal itu tak menjadi masalah dengan penglaman pertama kali menjajal bentor.

Saat itu saya mengitari Siantar mulai dari Jalan Merdeka, melewati Museum Simalungun, Tugu Becak, hingga Siantar Plaza dan kembali ke Jalan Merdeka lagi.

Setelah berkeliling Kota Siantar menggunakan bentor, saya dan tim melanjutkan perjalanan. Destinasi terakhir dalam perjalanan ini yakni Kota Medan.

Butuh waktu sekitar dua setengah jam untuk menempuh jarak sekitar 126 kilometer dari Pematang Siantar menuju pusat Kota Medan.

Setibanya di Medan, kami menaruh barang-barang dan beristirahat sejenak untuk melanjutkan makan malam. Saat itu, sopir kami menawarkan makan di Mi Bangladesh di Warkop AGEM yang terletak di Jalan Haji Misbah.

Mie Bangladesh merupakan salah satu kuliner unik khas Medan. Sebab, hidangan ini sejatinya terbuat dari mi instan biasa, namun disajikan dengan cara memasak yang berbeda, yakni ditambah bumbu rempah khas Aceh.
Namun, pengunjung dapat menambah sajian itu dengan telur setengah matang atau sate kerang.

Di sepanjang Jalan Haji Misbah sebetulnya berderet warung yang menjajakan Mi Bangladesh, namun menurut penuturan sopir saya saat itu, Warkop Agem merupakan salah satu warung yang paling terkenal.

Kebanyakan pengunjung merupakan mahasiswa, namun tak sedikit keluarga yang membawa anak-anaknya untuk menyantap sajian unik tersebut.

Selepas menyantap Mi Bangladesh, perut saya masih meminta jatah lebih. Perjalanan jauh melalui darat membuat saya mudah lapar kelihatannya.

Akhirnya saya meminta sopir untuk membawa saya ke tempat makan lain di Kota Medan. Salah satu yang direkomendasikan yakni Nasi Goreng Pemuda di samping Gedung Juang 45 Medan.

Nasi goreng di sini memiliki cita rasa yang khas, yakni dengan bumbu rempah dilengkapi irisan ayam dan telur goreng mata sapi. Harganya hanya dibanderol Rp17 ribu per porsi.

Esok harinya, saya melanjutkan perjalanan wisata di Kota Medan. Saat itu saya meminta waktu berjalan-jalan sendirian tanpa tim, tujuan pertama saya ke Kesawan, sebuah kawasan Kota Tua. Di sana, berderet bangunan-bangunan khas peninggalan Belanda, sehingga saya hanya perlu berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain.

Tujuan pertama saya hari itu mengunjungi Mansion Tjong A Fie atau Rumah Tjong A Fie yang terletak di Jalan Ahmad Yani Nomor 105, Kesawan.
 
d 
Sumber: Travel Tempo 
 
Mansion Tjong A Fie merupakan salah satu cagar budaya di Kota Medan. Bangunan ini dulunya milik Tjong A Fie, seorang saudagar asal Guangdong, Cina yang hijrah ke Medan.

Dari luar sudah terlihat bangunan ini merupakan kombinasi arsitektur Cina, Eropa, dan Melayu. Patung dua singa di depan gerbang seakan menyambut saya sebelum masuk ke pekarangan rumah yang sudah berdiri sejak tahun 1895 tersebut.

Untuk bisa masuk ke dalam rumah, saya membeli tiket masuk dengan harga Rp35 ribu. Dengan ditemani pemandu, perjalanan saya menapaki rumah bersejarah itu resmi dimulai.

Mansion Tjong A Fie atau Rumah Tjong A Fie jadi salah satu destinasi wisata di Kota Medan, Sumatera Utara. 

Rumah milik Saudagar asal Tiongkok Tjong A Fie ini berlokasi di Jalan Ahmad Yani Nomor 105 atau di daerah Kesawan. Rumah yang dibangun di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi ini memiliki dua lantai dan 35 ruangan dan ditinggali keluarga Tjong A Fie sejak tahun 1895. Saat memasuki rumah tersebut, kesan megah sudah terasa. Di ruang tamu, dinding-dinding bagian kanan dipenuhi foto sosok Tjong A Fie di masa lalu. Sementara, di sisi lain terdapat foto Tjong A Fie bersama istri dan anak-anaknya.

Menurut penuturan pemandu, barang-barang seperti kursi kayu hingga perabotan yang ada di rumah ini semuanya merupakan peninggalan masa lalu.

Saya kemudian diajak berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Mulai dari tempat kerja, hingga tempat tidur Tjong A Fie dan istrinya. Setidaknya, ada 35 ruangan dari bangunan dua lantai tersebut.

Beranjak dari lantai satu, saya melanjutkan naik ke lantai dua. Setelah menaiki tangga, saya diarahkan pemandu ke sebuah ruangan luas.

"Di sini ruangan ballroom. Biasanya tamu-tamu Tjong A Fie diajak berdansa setelah makan malam di rumahnya," kata pemandu itu kepada saya.

Sepanjang mengitari rumah tersebut, pemandu juga menceritakan sosok Tjong A Fie. Ternyata, dia bukan sekadar saudagar kaya asal Cina.
Tjong A Fie merupakan salah satu tokoh penting bagi Kota Medan.

Menurut cerita, Tjong A Fie sering berderma ke orang-orang yang membutuhkan. Bahkan, ia bisa dibilang sebagai tokoh toleransi beragama di Medan.

Semasa hidup, Tjong A Fie ikut membangun sejumlah rumah ibadah di Medan, seperti Masjid Lama Gang Bengkok, Vihara Bodhi, hingga Gereja Katolik Santo Yoseph.Tidak hanya itu, Tjong A Fie juga ikut menyumbangkan hartanya untuk pembangunan Masjid Raya Medan, salah satu bangunan ikonik dan bersejarah di Kota Melayu Deli itu.

Di akhir perjalanan pemandu kemudian menunjukkan surat wasiat dari Tjong A Fie untuk keturunannya yang dituliskan dalam bahasa Belanda.

Ada lima poin isi surat wasiat tersebut, namun poin terakhir menunjukkan betapa dermawannya sosok yang wafat pada tahun 1921 tersebut.

"Meringankan beban kerugian yang diderita oleh orang-orang tanpa membedakan golongan bangsa sebagai akibat dari bencana-bencana alam yang dalam tiap-tiap keadaan harus dimusyawarahkan/rapat bersama dengan keluarga," tulis surat wasiat tersebut.

Setelah berkeliling Mansion Tjong A Fie, saya menuju Museum Perkebunan Indonesia-2 yang lokasinya tak jauh dari sana. Museum ini berada di persimpangan antara Jalan Palang Merah dan Jalan Pemuda.

Museum itu berada di Gedung AVROS, sebuah bangunan peninggalan Kolonial Belanda yang berdiri tahun 1919. Gaya arsitektur Gedung AVROS kental dengan arsitektur bangunan khas Belanda pada masa itu.

Gedung tersebut mudah dikenali, karena memiliki ciri khas yakni kubah hijau di bagian atap gedung. Di bawah kubah hijau tersebut terdapat tulisan tahun 1918-1919 sebagai penanda tahun pembangunan gedung empat lantai tersebut.

Menariknya, tak seluruh bangunan merupakan museum. Di lantai 2 dan 3 masih digunakan sebagai kantor Badan Kerja Sama Perusahaan Perkebunan Sumatera atau BKSPPS.

Museum ini memiliki pelbagai koleksi sejarah perkebunan di Sumatera Utara. Salah satunya yakni bukti penggunaan sidik jari yang menjadi data ratusan ribu karyawan perusahaan perkebunan pada masa kolonial.

Saya tak lama berada di museum tersebut, pasalnya waktu sudah menunjukkan pukul 12.10 WIB. Kebetulan, saat itu hari Jumat, saya pun meninggalkan museum itu dan bergegas ke Masjid Lama Gang Bengkok untuk menunaikan Salat Jumat.

Ya, Masjid Lama Gang Bengkok memang masuk dalam daftar tempat bersejarah yang harus saya kunjungi, sehingga momen Salat Jumat saya jadikan sekalian sebagai wisata siang itu.

Dari Gedung Avros ke Masjid Lama Gang Bengkok bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 10 menit.

Masjid ini memang memiliki nama cukup unik. Awal mula dinamakan Masjid Lama Gang Bengkok, karena dulunya di depan masjid ini ada sebuah gang yang memang bengkok bentuknya.

Bangunan masjid ini didominasi warna kuning dan hijau khas Budaya Melayu. Namun, sejatinya arsitektur masjid juga menunjukkan perpaduan budaya Cina dan Timur Tengah

Gaya arsitektur Cina terlihat dari atap masjid yang semakin melebar ke bawah dan melengkung di setiap sisi. Sementara, budaya Timur Tengah terlihat dari gaya gapura dan mimbar di dalam masjid.

Setelah menunaikan Salat Jumat, saya kembali melanjutkan petualangan siang itu menuju Gedung Warenhuis yang terletak di Jalan Hindu. Bangunan ini dulunya merupakan supermarket pertama di Medan pada era kolonial.

Sayangnya, gedung yang dibangun pada tahun 1916 itu terlihat kusam dan tak terawat, berbeda dari gedung-gedung bersejarah lainnya. Saat saya datang ke sana, tidak ada penjaga ataupun keramaian orang.

Suasana di Restoran Tip Top, Medan. Restoran ini merupakan salah satu restoran tertua di Indonesia, berdiri sejak 1929 dengan nama Restoran Jangkie. Mulanya restoran Jangkie berada di Jalan Pandu, namun pada 1934 pindah ke Kesawan sekaligus berganti nama menjadi Tip Top. 

Setelah kecewa tak bisa menelusuri lebih lanjut Warenhuis, saya akhirnya memutuskan untuk bergabung kembali dengan tim Jelajah #SerunyaIndonesia. Kebetulan, saat itu tim sedang menghabiskan waktu sore hari dengan ngopi-ngopi cantik di Restoran Tip Top.

Restoran Tip Top juga jadi salah satu tempat legendaris di Kota Medan. Mulanya, restoran ini pertama berdiri pada tahun 1929 di Jalan Pandu, Medan dengan nama Jangkie sesuai nama pemiliknya. Ketika itu, Restoran Jangkie menjual pelbagai macam roti dan kue hasil olahan sendiri.

Kemudian, baru pada tahun 1934 restoran Jangkie pindah ke Jalan Ahmad Yani dan berubah nama menjadi Tip Top yang bermakna "prima" atau "sempurna".

Setelah pindah, Tip Top tak sekadar menjajakan kue dan roti, tapi juga menyediakan makanan berat seperti steak, salad, hingga es krim.

Meski Tip Top sudah berumur lebih dari 88 tahun, namun bangunannya tampak tak berubah. Dari luar, bangunan tersebut dilapisi cat berwarna peach dengan kelir kayu di lantai duanya.

Berada di pinggir Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kesawan, bangunan ini langsung menarik perhatian.
Dari luar langsung terlihat area veranda yang sudah dipenuhi orang, baik untuk sekadar ngopi-ngopi, maupun mencicipi kuliner khas Tip Top.

Usai mencicipi kue-kue jadul khas Tip Top dan secangkir kopi Sidikalang, saya dan tim melanjutkan agenda berikutnya, yakni mengunjungi Istana Maimun. Hanya butuh waktu sekitar enam menit dari Tip Top menuju Istana Maimun yang terletak di Jalan Brigjend Katamso.

Saat itu saya tiba di Istana Maimun sekitar pukul 16.15 WIB, sementara istana tersebut hanya buka sampai pukul 17.00 WIB. Akhirnya wisata kami di salah satu bangunan bersejarah itu hanya sebentar.

Istana Maimun merupakan Istana Kesultanan Deli yang jadi salah satu ikon Kota Medan. Istana ini didesain oleh seorang arsitek kebangsaan Belanda, Capt. Theodoor Van Erp atas titah Sultan Deli, Sultan Ma"moen Al Rasyid.

Dari luar, istana ini lebih terlihat seperti sebuah alun-alun. Pasalnya, halaman istana yang luas itu pada sore hari dijadikan tempat wisata masyarakat sekitar. Belum lagi di sisi kiri dan kanan halaman juga berjejer pedagang kaki lima (PKL), sehingga membuat halaman istana jadih lebih hiruk pikuk.

Perjalanan saya hari itu kian mendekati usai. Lantunan azan petang itu membawa saya dan tim beranjak dari Istana Maimun ke Masjid Raya Al Mashun Medan, yang jaraknya tak begitu jauh.

Lampu-lampu di sekeliling bangunan mempercantik masjid yang dibangun pada tahun 1906 tersebut. Mulanya, masjid ini menyatu dengan kompleks Istana Maimun.

Selain untuk ibadah, pengunjung juga diizinkan untuk sekadar berswafoto dengan latar belakang masjid itu. Tidak sedikit pengunjung yang sekadar datang hanya untuk berfoto, bahkan pengunjung yang tidak beragama Islam juga kedapatan ikut mengabadikan momen dia mendatangi halaman Masjid Raya.

Selepas melaksanakan Salat Maghrib, saya menyempatkan diri mengobrol dengan salah satu marbot masjid. Ia sempat mengeluh karena dalam dua bulan terakhir selalu kedapatan sif jaga malam yang membuat dirinya jadi mudah sakit-sakitan.

Dalam perbincangan itu saya juga sempat bercerita pengalaman saya siang tadi menelusuri berbagai bangunan-bangunan tua dan mengaku kagum dengan sejarah yang ada di Kota Medan. Namun, kata dia, masih banyak cerita-cerita lain yang belum saya dapatkan.

"Ah, berarti kapan-kapan saya harus kembali ke Medan," gumam saya dalam hati.

Sumatera Utara memiliki banyak tempat yang membuat Anda seakan bernostalgia ketika berkunjung ke sana. Wisata keliling Sumatera Utara adalah perjalanan membuat kenangan.


About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.