7 Cara Mengurangi Limbah Makanan dari Rumah

  • Senin, 03/05/2021 - 09:49 WIB
Hai, Sobat Souja! Sebagian orang mungkin berpikir bahwa dirinya tak menghasilkan limbah makanan, atau hanya menyumbang sedikit sekali limbah makanan. Anda juga mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang beranggapan bahwa limbah makanan tidak mempengaruhi hidup dan lingkungan sekitar Anda.

Namun tanpa disadari, limbah makanan menimbulkan masalah besar bagi bumi. Seperti dilansir Healthline, sepertiga dari semua makanan yang diproduksi di dunia terbuang karena berbagai alasan, bisa karena basi, atau tak habis di meja makan. Limbah makanan menyumbang 1,3 miliar ton setiap tahunnya.

Jika demikian, ada baiknya Anda renungkan kembali efek dari limbah makanan yang sulit untuk didaur ulang. Sebabnya, limbah jenis ini juga berkontribusi pada kerusakan lingkungan.

Limbah makanan yang dikirim ke tempat pembuangan sampah akan membusuk dan menghasilkan gas metana yang bisa merusak lapisan ozon dan menyebabkan pemanasan global.

The World Resources Institute juga mengatakan, limbah makanan membuang 24 persen air di dunia (sekitar 170 triliun liter) yang bisa digunakan untuk lahan pertanian.

Selain buruk untuk lingkungan, membuang makanan juga bisa 'mengikis' kantong Anda. Anda mungkin membeli lebih banyak sayur dan buah kemudian menyimpannya di kulkas hingga kualitasnya memburuk, lalu membuangnya.

Padahal Anda bisa hanya membeli seperlunya sesuai kebutuhan, ini akan menghemat uang Anda sekaligus mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Karena ada banyak efek buruk yang ditimbulkan, ada baiknya Anda ikut berkontribusi mengurangi limbah makanan. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan.

1. Kelola daftar belanja
 
d 
Sumber: Cermati.com 

Hal utama dan terpenting adalah dengan mengelola daftar belanja makanan Anda. Kebanyakan orang cenderung membeli lebih banyak makanan daripada yang mereka butuhkan.

Membeli dalam jumlah besar mungkin kedengarannya hemat di saku, namun perhatikan juga tanggal kedaluwarsa produk, juga berapa lama sayur dan buah segar Anda bisa bertahan. Alih-alih hemat, Anda bisa jadi justru membuang lebih banyak uang karena bahan makanan yang keburu basi.

Cukup membeli dalam jumlah yang Anda butuhkan. Hindari belanja bulanan, apalagi jika Anda hidup sendiri. Sebaiknya pilih belanja setiap tiga hari, atau seminggu sekali agar bahan makanan Anda tak disimpan terlalu lama di kulkas.

Anda juga sebaiknya membuat daftar barang yang perlu Anda beli sebelum pergi ke supermarket agar tak impulsif.

Selain itu, Anda juga perlu menyimpan makanan dengan benar. Penyimpanan yang tidak tepat menyebabkan lebih banyak limbah makanan karena basi.

Sebaiknya Anda cari tahu bagaimana menyimpan makanan supaya tidak cepat basi dan kualitasnya terjaga. Seperti kentang, tomat, bawang putih, mentimun yang disimpan di suhu kamar, sementara jenis daging merah sebaiknya dibekukan agar lebih tahan lama.

2. Coba teknik pengasinan
 
ddd 
Sumber: Garamsumatraco 

Pengasinan makanan adalah metode kuno yang masih digunakan hingga saat ini. Pengasinan dilakukan dengan merendam bahan makanan dalam larutan cuka atau garam sehingga membuatnya lebih tahan lama. Beberapa jenis sayur dan buah juga cocok diasinkan seperti sawi dan wortel.

Selain makanan jadi lebih awet, pengasinan juga membuat makanan kaya akan cita rasa.

3. Tak perlu jadi perfeksionis
 
 
 
Banyak orang yang hanya memilih buah dan sayuran kualitas terbaik yang ada di supermarket. Sementara buah atau sayur dengan sedikit 'kecacatan' tak dipilih hingga akhirnya membusuk dan menjadi limbah.

Tak ada salahnya membeli sayuran atau buah yang sedikit cacat. Misalnya anda bisa memilih buah yang sudah matang dan langsung mengonsumsinya di rumah, sehingga buah tersebut tak harus berakhir di tong sampah. Anda juga bisa memilih sawi yang sedikit robek karena termakan ulat.

4. Simpan sisa makanan
 
d 
Sumber: Banjarmasinpost 
 
Jika Anda sering memesan makanan online, ada kalanya porsi yang datang cukup besar tak muat di perut. Sebaiknya jangan membuang sisa makanan tersebut dan simpan di lemari es.

Simpan sisa makanan dalam wadah bening sehingga Anda tak lupa bahwa Anda punya makanan. Anda bisa memanaskan makanan sisa tersebut pada esok harinya untuk sarapan atau jadi menu makan siang Anda. Cara ini juga bisa menghemat waktu dan ramah di kantong.
 
5. Makan dengan kulitnya

d 
Sumber: Kompas Health 
 
Orang sering membuang kulit buah, sayur, bahkan kulit ayam saat menyiapkan makanan. Padahal bagian kulit juga mengandung banyak nutrisi yang diperlukan tubuh.

Kulit buah juga mengandung banyak vitamin dan mineral, seperti yang ada dalam apel. Sementara kulit ayam mengandung antioksidan dan selenium yang membantu memerangi peradangan dalam tubuh. Lapisan luar kentang, wortel, mentimun, dan terong juga bisa dimakan dan bergizi.

Anda juga sebaiknya mengkonsumsi telur dengan kuning telurnya agar mendapat protein, vitamin A, B, zat besi dan selenium yang terkandung dalam kuning telur.

6. Buat smoothies
 
d 
Sumber: IDN Times 
 
Batang kangkung, kulit apel, bagian atas stroberi, atau kulit wortel biasanya tidak dikonsumsi dan dibuang begitu saja. Bagian kecil dari sayuran ini akan menumpuk di tempat sampah dan menjadi limbah makanan.

Agar mengurangi limbah makanan, sebaiknya gunakan bagian-bagian tersebut dengan cara mengolahnya menjadi smoothies favorit. Bagian-bagian sayuran dan buah di atas tetap bisa dimakan dan punya kandungan nutrisi yang baik untuk tubuh.

7. Buat kompos
 
d 
Sumber: Dekoruma 

Membuat kompos sisa makanan adalah cara mengurangi limbah makanan, sekaligus menjadi energi organik untuk tanaman.

Langkah ini juga bisa mendukung hobi Anda berkebun dan bercocok tanam. Jika Anda punya tanaman hias di rumah, Anda juga bisa menghemat uang dengan membuat pupuk kompos organik dari sisa makanan di dapur Anda.

Itu dia 7 cara untuk mengurangi limbah makanan. Yuk, dicoba!

Sumber: CNN Indonesia

About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.