Pandemi Datang, Tren Rambut Cepak pun Jadi Pilihan!

  • Minggu, 24/05/2020 - 04:32 WIB
Sobat Souja, berada di dalam rumah dalam waktu yang lama dengan sebisa mungkin menghindari aktivitas di ruang publik membuat banyak orang mulai cemas dengan penampilan. Salah satu kecemasan yang terjadi adalah soal rambut yang terus memanjang tak beraturan. Hal ini yang melatarbelakangi tren gaya rambut buzz cut. Ya, para pria dan wanita memilih untuk membeli pisau cukur elektrik lalu memangkas habis rambut mereka! Ini bukan lagi soal tampilan berani atau demi kenyamanan semata. Potongan rambut ini dimaksudkan untuk menjaga rambut dan pertumbuhannya tetap terkendali sementara salon atau tukang cukur masih tutup. 
 
 

Cody Simpson, salah satu pesohor yang memilih memangkas rambutnya saat pandemi


Sejatinya, gaya rambut buzz cut bukan hal yang baru. Gaya rambut ini mirip dengan gaya militer. Selain itu gaya ini juga menjadi simbol estetika para pemberontak. Mengutip CNN, buzz cut ini dikembangkan dengan munculnya gunting manual dan alat cukur listrik. Awalnya gaya sebagian besar dipakai oleh anak laki-laki. Di negara-negara seperti AS, Rusia, Inggris dan Cina, gaya ini juga umum di antara rekrutan militer yang baru memulai pelatihan - maka nama lainnya, gaya induksi, yang masih digunakan sampai sekarang. Alasannya cukup jelas: gaya itu bersih dan mudah dirawat, mencegah penyebaran kutu dan, di ketentaraan, membantu menciptakan rasa keseragaman. 


Dalam minimalisnya yang sederhana, potongan rambut itu menandakan maskulinitas yang sederhana, terstandarisasi, awet muda - atau begitulah sampai tahun 1960-an, ketika Perang Vietnam mengubah banyak hal secara dramatis. Di tahun 60-an semuanya berakhir digantikan dengan rambut panjang dengan tekstur, gimbal, kepang dan lainnya. Kemudian, pada pertengahan 1970-an, punk mulai memegang kendali. DI masa ini, buzz cut kembali hadir. Kamu berani mencobanya, Sobat Souja? 


Sumber: CNN Indonesia. 


About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.