A to Z: Asperger Syndrome, Sakit Han Geu-ru di Move to Heaven

  • Senin, 07/06/2021 - 09:06 WIB
Hai, Sobat Souja! Drama Korea asal Korea Selatan 'Move to Heaven' seolah memberi 'obat' pada penikmat drakor setelah ditinggal 'Vincenzo'.

Drama ini berkisah tentang Han Geu-ru (Tang Joon-sang) yang harus melanjutkan usaha keduanya yakni membereskan barang milik orang yang sudah meninggal di bawah bendera 'Move to Heaven'. Mereka menyebutnya trauma cleaning.

Dalam tiap ceritanya, Geu-ru tampil cemerlang menyelesaikan tiap permintaan yang datang. Ia pun mampu mengingat semua hal yang sudah ia lihat dan baca. Akan tetapi Geu-ru sebenarnya menderita penyakit yang disebut asperger syndrome atau sindrom asperger.

Azimatul Karimah, Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, berkata sindrom asperger merupakan salah satu jenisautism spectrum disorder(ASD) atau gangguan spektrum autisme. Karena masuk dalam ASD, sindrom asperger memiliki gejala yang mirip dengan autis yakni kesulitan berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain.

Gejala asperger syndrome
 
d 
Sumber: Netflix 

Dokter yang akrab disapa Uci ini menyebut ada beberapa gejala khas penyakit yang diderita oleh Geu-ru Move to Heaven yang membuat sindrom asperger berbeda dengan autisme.

* Kesulitan menangkap komunikasi nonverbal

Orang dengan sindrom asperger akan kesulitan menangkap komunikasi nonverbal misalnya, dia sulit menangkap raut wajah asam atau cemberut dan meresponsnya, ia juga sulit menangkap gestur tubuh yang mengandung makna misal ada orang berdiri dan menempatkan kedua tangan di pinggang.

Orang dengan sindrom asperger tidak bisa menangkap makna atau emosi dari gestur ini.

"Dia enggak bisa menangkap raut wajah orang. Kalau diberitahu dia paham," kata Uci pada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, beberapa waktu lalu.

Sedangkan orang dengan autisme kesulitan menangkap bentuk komunikasi baik verbal maupun nonverbal. Namun orang dengan sindrom asperger kebanyakan tidak memiliki masalah dengan verbal. Mereka mampu berkomunikasi secara verbal dengan baik termasuk menghasilkan kata-kata yang jelas.

* Problem interaksi

Umumnya ASD memiliki masalah komunikasi verbal (kemampuan bahasa) sehingga sulit menghasilkan kata yang dipahami orang lain. Kemudian orang dengan ASD juga bermasalah dengan inteligensi (kecerdasan) karena di bawah rata-rata.

Sindrom asperger punya kondisi sebaliknya. Orang dengan sindrom asperger memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Namun ini juga jadi hambatan saat ia berinteraksi dengan sebayanya. Ini tergambar dengan jelas dalam Move to Heaven.

"Dia ngomong [dengan topik] enggak sesuai sama anak seusianya. Ada satu pasien, khas sekali, masih kelas 5 SD. Bacaannya 'Da Vinci Code'. Orang tuanya datang ke saya mengeluh bahwa sudah tidak nyambung dengan omongan anaknya, katanya ketinggian. Anaknya ngomongin illuminati," ujar Uci disusul tawa.

Biasanya anak dengan sindrom asperger sulit menyelaraskan pergaulan dengan anak seusianya. Kalau dia bergaul dengan sebayanya, perundungan (bully) kerap tak terelakkan sebab yang dibicarakan bukan hal yang lumrah. Sedangkan kalau bergaul dengan orang yang lebih tua, ia dipandang sebelah mata karena usianya masih muda.

* Ketertarikan pada hal yang spesifik

Gejala sindrom asperger yang khas lainnya adalah ketertarikan pada hal yang spesifik. Uci bercerita ada pasien yang memiliki ketertarikan besar pada hal-hal berbau ilmu pengetahuan sosial. 'Da Vinci Code' sudah dibabat habis, kemudian giliran buku-buku referensi ibunya saat studi S3 Akuntansi pun disikat.

"Orang asperger ini banyak eksplorasi, bahan pengetahuannya banyak, sehingga pembicaraannya pun menyesuaikan," imbuhnya.

Orang dengan sindrom asperger menyerap dengan baik apa yang ia baca. Pembicaraannya pun akan berkisar pada topik-topik tersebut. Ini kerap menimbulkan masalah sebab ia tidak bisa menempatkan diri dan biasanya memaksakan orang lain memahami kemauannya.

Berbeda dengan asperger, anak dengan ASD umumnya kemampuan bahasa bermasalah sehingga tidak banyak bicara. Anak dengan ASD selain sindrom asperger biasanya menunjukkan perilaku pengulangan misal,flapping(gerakan melambaikan tangan), berputar misal tertarik pada gerakan baling-baling. Anak dengan ASD, imbuh Uci, akan persisten pada objek tertentu.

Diagnosis Asperger syndrome

Sindrom asperger seperti yang dialami Han Geu-ru di Move to Heaven termasuk gangguan neuro development atau perkembangan neurologis. Masalah muncul sejak usia perkembangan atau sebelum 2 tahun. Uci berkata diagnosis ASD termasuk sindrom asperger tidak semudah mendiagnosis penyakit infeksi semisal Covid-19.

Biasanya orang tua akan mengunjungi dokter dengan beberapa keluhan. Keluhan-keluhan inilah yang akan menghantarkan dokter pada diagnosis anak positif ASD atau nonASD (ada masalah lain). Jika positif ASD, baru kemudian dipantau untuk melihat tipe ASD secara spesifik.

- Problem wicara

Biasanya orang tua datang membawa anak dengan problem berbahasa atau wicara. Problem ini tidak langsung ditanggapi dengan 'vonis' anak mengalami autisme. Problem wicara kadang timbul akibat anak memiliki masalah pendengaran juga anak kurang stimulasi karena terbiasa bergaul dengan gawai.

"Terutama milenial, biasanya diasuh gadget, ini mempengaruhi [kemampuan berbicara]. Jadi bisa saja terlambat bicara karena stimulasi kurang, bukan karena autisme," jelasnya.

- Sulit kontak mata

Anak nonASD akan merespons saat dipanggil atau diajak bicara atau interaksi termasuk lewat kontak mata. Pada anak ASD, kontak mata sulit sekali terjadi.

"Dia enggak bisa kontak mata lama. Hitungannya gini, kalau diajak bicara seharusnya melihat yang diajak bicara tapi yang terjadi dia enggak melihat ke kita, dia bicara tanpa sepenuhnya melihat [ke yang diajak bicara]. Yang ekstrem, ada yang sama sekali enggak menoleh, ini terjadi pada autisme murni. Sama sekali tidak ada kontak." kata Uci.

- Problem tumbuh kembang

Gejala anak dengan ASD termasuk asperger syndrome sangat berkaitan dengan tumbuh kembang. Dokter akan mengecek jika anak ada keterlambatan atau gangguan di proses tumbuh kembangnya.

"Normalnya, anak bisa angkat kepala di umur 4 bulan, bisa duduk di 6 bulan, lalu merangkak 9 bulan. Kemudian berjalan di 12-18 bulan. Ini ada terlambat atau enggak," jelasnya.

- Perilaku aneh

Anak memiliki perilaku aneh atau memiliki obsesi terhadap sesuatu yang tidak lazim di kalangan anak seusianya. Ada anak yang suka menata sandal dan sepatu, lalu marah saat sandal yang ia tata diambil dan dikenakan. Kemudian obsesif terhadap benda yang berputar sehingga suka memandangi kipas angin atau duduk di sebelah baling-baling.

"Kadang keluhan perilaku aneh datang sebagai akibat sekunder, bukan murni ASD. Ada kasus anak tidak suka makan karena habis dirundung teman. Ternyata anak ini enggak terdeteksi ASD," imbuh Uci.

Dari keluhan-keluhan ini, dokter akan melakukan asesmen sehingga berujung pada diagnosis ASD termasuk asperger syndrome atau nonASD: 

* Eliminasi penyebab lain

Dokter akan mengeliminasi penyebab-penyebab lain yang tidak berkaitan dengan ASD misal masalah kejang demam (step), diare sampai masuk rumah sakit, malnutrisi, berat badan kurang, anemia,cerebral palsy, juga epilepsi. Temuan masalah ini akan berkaitan dengan diagnosis lalu tindak lanjut penanganan pasien.

"Syarat diagnosis itu menyingkirkan penyakit lain, misal CP (cerebral palsy). Anaknya telat ngomong, ada kecurigaan autisme, padahal ternyata CP," kata Uci memberikan contoh.

* Asesmen psikiatrik

Asesmen psikiatrik digunakan untuk skrining dan melihat derajat keparahan ASD termasuk asperger syndrome seperti yang dialami Han Geu-ru di Move to Heaven. Dokter akan menggunakan instrumen CARS (Childhood Autism Rating Scale). Instrumen ini akan melihat kemampuan interaksi, kendali perilaku, kemampuan anak menirukan perilaku sosial semisal jabat tangan, tepuk tangan di kesempatan yang tepat, kemampuan merespons emosi juga koordinasi badan

* Asesmen inteligensi

Pemeriksaan ini akan dibantu psikolog untuk melihat tingkat kecerdasan anak. Biasanya psikolog memiliki instrumen khusus misal anak diminta menggambar manusia. Hasil gambar akan dilihat seberapa detail sosok manusia, pemahaman anak tentang anatomi tubuh berikut dengan proporsinya.

Uci berkata proses pemeriksaan hingga diagnosis kerap memerlukan beberapa kali pertemuan dengan pasien juga orang tuanya. Setelah diagnosis pun anak tetap dipantau agar memperoleh penanganan yang sesuai.

"Sekarang trennya orang tua sudah aware(sadar). Anak baru mau ulang tahun pertama, sudah cemas, anak autis enggak ya? Ini terjadi rata-rata pada orang tua dengan pendidikan baik, akses informasi mudah, mereka lebih aware, lebih waspada. Saat ada kecurigaan, anak dibawa ke dokter sejak usia balita," katanya.

Pengobatan asperger syndrome
 
d 
Sumber: Ready Steady Cut 

Tata laksana anak dengan ASD juga sindrom asperger bukan bertujuan agar anak terbebas dari penyakit. Tujuan penanganan adalah agar anak bisa hidup mandiri dan mampu berinteraksi secara sosial.

"Anak bisa mandiri, adaptif. Di tiap level pertumbuhan, dia bisa 'catch up'. Misal anak SD, dia bisa berangkat sekolah sendiri, nyiapin baju, menyelesaikan tugas," kata Uci.

1. Pengaturan nutrisi

Agar tumbuh kembang anak normal seperti anak seusianya, pasien ASD perlu mendapat nutrisi yang baik. Ini perlu kerjasama dengan dokter spesialis anak untuk pengecekan alergi.

"Asperger, sama dengan tipe autisme lain, dia sensitif dengan gluten. Metabolisme gluten akan menghasilkan toksin buat mereka. Konsumsi pangan dengan gluten bisa memicu perilaku dan emosi yang tidak terkendali," jelas Uci.

Selain menghindari pangan yang mengandung gluten, diet juga meliputi pembatasan konsumsi gula. Konsumsi gula berlebihan bisa memicu ketidakstabilan emosi, anak gampang marah.

2. Terapi sensori integrasi

Terapi ini ditujukan pada pasien dengan gangguan sensori. Uci memberikan contoh anak dengan ASD memiliki ketakutan terhadap suara keras, takut suara flash WC sehingga enggan buang air besar. Saat mengalami masalah ini, anak akan diberi terapi untuk merespons stimulus dengan tepat dibantu dokter rehabilitasi medik.

3. Terapisocial skill training

Sesuai namanya, anak akan dilatih kemampuan bersosialisasi. Pada kasus anak dengan sindrom asperger, mereka kesulitan menangkap atau merespons bentuk komunikasi nonverbal.

"Itu analoginya, dia akan dipaparkan foto-foto orang, raut wajahnya macam-macam. Nah dianebak, ini ekspresi sedih, marah, kecewa," jelasnya.

4. Terapi wicara (speech therapy)

Ini umum diterapkan pada anak dengan ASD. Untuk anak dengan sindrom asperger, terapi tidak lagi soal memproduksi kata-kata yang jelas, tetapi diajarkan untuk menempatkan kata-kata sesuai situasi dan kondisi.

5. Intervensi orang tua

Terapi atau tindak lanjut dari diagnosis ASD tak hanya diterapkan buat pasien, tetapi juga orang tua. Uci mengakui ini jadi bagian terberat dari penanganan pasien ASD. Mungkin dokter maupun tenaga ahli mengerahkan berbagai upaya untuk memberikan terapi yang baik pada pasien. Namun ini tidak akan ada artinya jika orang tua tidak bisa diajak kerjasama. Di sini, orang tua juga perlu diberikan pemahaman, edukasi sehingga ada kerjasama yang baik dengan tim dokter sehingga tercapai tujuan tata laksana pasien ASD.

"Ada orang tua yang tidak kooperatif, biasanya mereka mendelegasikan perawatan,neglecting(pembiaran) atau memiliki ekspresi emosi tinggi sehingga anak jadi sasaran kemarahan," imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, orang tua pun akan diberi gambaran hal-hal yang bakal mereka hadapi sehingga lebih siap. Uci berkata setelah menghadapi badai pertama berupa diagnosis ASD, badai kedua adalah saat anak masuk masa puber.

Perubahan fisik bakal membuat anak bingung, lebih sensitif terhadap kritik, gampang marah, kemudian di masa 'gonjang-ganjing' seperti ini, orang jadi mudah salah paham terlebih anak ASD bermasalah dengan komunikasi verbal dan nonverbal.

6. Terapi perilaku sesuai problem

Ini menyesuaikan kondisi anak. Anak yang kesulitan buang air sendiri akan memperoleh toilet training. Kemudian anak dengan perilaku atau gestur yang aneh akan dilatih untuk mengurangi gestur tersebut.

"Ada pasien saya, masih SD, suka jilatin telapak tangan. Saya pakai sistem token. Saya minta ke dia buat sebelum tidur bilang sama mamanya, berapa kali dia jilatin telapak tangan dalam sehari. Kalau berkurang, Sabtu atau Minggu akan mendapat hadiah. Kalau belum berkurang, hadiahnya ditahan. Kita pakai sistem reward," jelasnya.

Semoga penjelasan ini dapat menambah ilmumu, ya!

Sumber: CNN Indonesia

About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.