Kerap dianggap Sama, Berikut ini Perbedaan Butter vs Margarine

  • Kamis, 10/06/2021 - 09:06 WIB
Sobat Souja, margarine dan butter menjadi dua bahan masakan yang kerap keliru dibedakan, bahkan sebagian orang masih menganggap bahwa keduanya justru sama. Lantas, bagaimana cara membedakannya? Yuk, simak!


Menntega diperkirakan sudah ada sejak 8000 SM. Sebagaimana dilansir Eat This, Not That!, saat itu ada seorang gembala di suatu tempat, kini disebut Afrika, menemukan susu domba yang ia bawa melintasi medan kasar telah mengental. Kemudian susu yang mengental ini disebut mentega. Sementara margarin berusia lebih muda. Pada 1860-an, Napoleon III mengumumkan dirinya mencari pengganti mentega yang murah selama perang Prancis-Rusia. Kemudian ahli kimia Prancis Hippolyte Mège-Mouriès menemukan margarin. Kemungkinan ini yang membuat orang menyamakan mentega dan margarin sebab dulu margarin dibuat untuk menggantikan mentega.


Mentega merupakan produk susu yang dibuat dengan mengaduk susu atau krim. Dilansir The Kitchn, susu diaduk untuk memisahkan lemak atau padatan (butterfat) dari cairan (buttermilk). Mentega di pasaran biasanya dibuat dari susu sapi, meski terdapat mentega dari susu domba, kambing, yak atau kerbau. Karena hanya memerlukan satu bahan, Sobat bisa membuatnya di rumah. Berbeda dengan mentega, margarin bukan merupakan produk susu. Dulu, margarin dibuat dari lemak hewani. Namun kini margarin menggunakan minyak nabati, air, garam, pengemulsi sebagai bahan utama. Ini bukan sesuatu yang bisa dibuat di rumah.


Tekstur dan rasa
Meski disebut bisa saling menggantikan, mentega dan margarin memiliki tekstur atau konsistensi serta rasa berbeda. Chef Claudia Sidoti menyebut perbedaan kandungan lemak membuat rasanya berbeda pula. Karena margarin dibuat dari minyak sayur, konsistensinya sangat berbeda. Margarin berpotensi mempengaruhi rasa asli makanan. Kemudian margarin mengandung lebih banyak air daripada butter sehingga kue yang dipanggang lebih tipis dan keras. Berbeda dengan butter yang membuat kue lebih lembut.


Manfaat kesehatan
Mentega memiliki nutrisi yang tidak dimiliki jenis makanan lain. Mentega yang dibuat dari susu sapi yang diberi makan rumput mengandung vitamin K2 dan berhubungan dengan kesehatan tulang. Selain itu ada pula kandungan omega 3 lebih banyak daripada omega 6. Seperti dilansir Healthline, mentega dari sapi yang diberi makan rumput lebih banyak nutrisi daripada mentega dari sapi yang diberi makan biji-bijian. Sementara itu, manfaat kesehatan margarin akan tergantung dari jenis minyak sayur dan cara pemrosesannya. Ada kemungkinan margarin tinggi kandungan lemak tak jenuh ganda yang sehat, lalu beberapa margarin diperkaya fitosterol dan stanol tumbuhan. Senyawa ini mampu menurunkan kolesterol jahat, tetapi ada pula studi yang menyebut kolesterol baik turut turun.


Risiko kesehatan
Konsumsi mentega terlebih jika kurang terkontrol bisa membawa risiko terhadap kesehatan. Para ahli menyorot pada kandungan lemak jenuh dan kolesterolnya yang tinggi. Mentega terdiri dari 50 persen lemak jenuh kemudian sisanya air dan lemak tak jenuh. Melihat berbagai studi, lemak jenuh berkaitan dengan risiko penyakit jantung. Tak hanya lemak jenuh, mentega juga tinggi kolesterol. Ini pula yang membuat konsumsi mentega berlebihan bisa menimbulkan risiko penyakit kardiovaskular. Jika mentega banyak mengandung lemak jenuh, margarin mengandung lemak trans. Margarin tidak akan mudah meleleh di suhu ruang seperti mentega sebab ada proses hidrogenasi. 


Proses ini kemudian memunculkan produk sampingan berupa lemak trans yang berhubungan dengan risiko penyakit kronis. Kemudian, sebagian margarin juga tinggi omega 6. Terlalu banyak asupan omega 6 bisa berisiko menimbulkan inflamasi kronis. Studi observasional menyebut asupan omega 6 berlebihan meningkatkan risiko obesitas dan penyakit kronis seperti penyakit jantung.


Sumber: CNN Indonesia

About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.