5 Makanan Diet yang Baik untuk Penderita Anemia

  • Jumat, 01/04/2022 - 09:30 WIB
Hai, Sobat Souja! Anemia terjadi karena kurang sel darah merah yang menyebabkan terbatasnya aliran oksigen ke organ tubuh. Berikut makanan diet untuk penderita anemia.

Anemia memiliki sejumlah penyebab, tetapi yang paling umum adalah akibat dari asupan makanan yang tidak memadai dan/atau kehilangan darah.

Untuk itu, asupan makanan diet untuk penderita anemia perlu memasukkan keseimbangan yang sehat dari makanan kaya zat besi heme dan non-heme, seperti daging dan unggas, makanan laut, sayuran kaya zat besi, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Penting juga untuk memasukkan makanan yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi oleh tubuh dan menghindari makanan yang dapat mengganggu proses ini.

Berikut makanan diet untuk penderita anemia.

1. Sayuran hijau
 
dd 
Sumber: STIKES Surabaya 
 
Sebagaimana dilansir Healthline, Sayuran berdaun hijau, terutama yang berwarna gelap, adalah salah satu sumber zat besi nonheme terbaik. Berikut beberapa sayuran hijau yang dapat dikonsumsi sebagai makanan diet untuk penderita anemia.

- Bayam
- Kubis
- Sejenis sawi
- Lobak Swiss

Beberapa sayuran berdaun hijau seperti lobak Swiss dan sawi juga mengandung folat. Diet rendah folat dapat menyebabkan anemia defisiensi folat. Buah jeruk, kacang-kacangan, dan biji-bijian merupakan sumber folat yang baik.

Sebagai catatan, beberapa sayuran hijau tinggi zat besi, seperti bayam dan kangkung, juga tinggi oksalat. Oksalat dapat mengikat dengan besi, mencegah penyerapan besi nonheme.

Jadi, meskipun mengonsumsi sayuran hijau sebagai bagian dari diet anemia secara keseluruhan bermanfaat, tapi disarankan tidak hanya bergantung padamakanan tersebut.

Vitamin C membantu perut Anda menyerap zat besi. Makan sayuran berdaun hijau dengan makanan yang mengandung vitamin C seperti jeruk, paprika merah, dan stroberi dapat meningkatkan penyerapan zat besi.

2. Daging dan unggas
 
d 
Sumber: Inisehat 

Semua daging dan unggas mengandung zat besi heme. Daging merah serta domba adalah sumber terbaik. Sedangkan, unggas dan ayam memiliki jumlah yang lebih rendah.

Makan daging atau unggas dengan makanan zat besi nonheme, seperti sayuran berdaun hijau, bersama dengan buah yang kaya vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi.

3. Hati

Hati sapi atau ayam merupakan salah satu sumber zat besi yang hebat dan dapat menjadi makanan diet untuk penderita anemia.

Hati kaya akan zat besi dan folat. Beberapa jeroan lain yang kaya zat besi adalah jantung, ginjal, dan lidah sapi.

4. Makanan laut

Beberapa makanan laut menyediakan zat besi heme. Kerang seperti tiram, kerang, kerang, kepiting, dan udang adalah sumber yang baik. Sebagian besar ikan mengandung zat besi.

Ikan dengan kadar zat besi terbaik antara lain:

- tuna
- ikan kembung
- ikan kue
- salmon
- ikan mahi mahi

Meskipun sarden kalengan adalah sumber zat besi yang baik, mereka juga tinggi kalsium.

Kalsium dapat mengikat dengan besi dan mengurangi penyerapannya. Makanan tinggi kalsium tidak boleh dimakan bersamaan dengan makanan kaya zat besi.

Makanan kaya kalsium meliputi:

- susu
- susu nabati yang diperkaya
- yoghurt
- kefir
- keju
- tahu

5. Kacang-kacangan dan biji-bijian

Kacang adalah sumber zat besi yang baik untuk vegetarian dan pemakan daging. Mereka juga murah dan serbaguna.

Beberapa pilihan kaya zat besi adalah:

- kacang merah
- buncis
- kedelai
- kacang polong hitam
- kacang hitam
- kacang polong

Banyak jenis kacang-kacangan dan biji-bijian lain yang merupakan sumber zat besi yang baik.

Beberapa kacang-kacangan dan biji-bijian yang mengandung zat besi adalah:

- biji labu
- kacang mete
- kacang pistasio
- biji rami
- kacang pinus
- biji bunga matahari

Kacang mentah dan kacang panggang memiliki jumlah zat besi yang sama sehingga sama-sama baik menjadi makanan diet untuk penderita anemia.

Sumber: CNN Indonesia

About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.