Hai, Sobat Soulja! Fear of missing out (FOMO) atau rasa" />

Bahaya FOMO, Buruk bagi Kesehatan Mental dan Dompet

  • Jumat, 29/07/2022 - 09:34 WIB

Hai, Sobat Soulja! Fear of missing out (FOMO) atau rasa takut akan ketinggalan dalam banyak hal dari orang lain harus diwaspadai karena memiliki dampak buruk pada mental seseorang. Selain selalu dihantui perasaan cemas, seseorang akan memiliki ketergantungan atau kecanduan menggunakan gawai hingga antisosial. Padahal, belum tentu semua informasi yang diakses lewat gawai tersebut bermanfaat.

 

Demikian yang dibahas dalam webinar berjudul “Fear of Missing Out (FOMO) Sindrom Sosial Zaman Now” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.

Jawara Internet Sehat 2022, Azmi Irfala mengatakan FOMO secara sederhana yaitu merasa takut ketinggalan segala hal dari orang lain. Dalam hal ini, ada kontrol diri yang hilang, sehingga seseorang selalu ingin mengikuti tren dan tidak mau ketinggalan zaman.

 

Salah satu ciri orang yang FOMO biasanya kecanduan gawai dan kerap menghabiskan waktu berjam-jam bermain media sosial (medsos) sehingga mereka terpapar banyak informasi yang belum tentu bermanfaat.

 

s Sumber: Cretivox.com

 

“Karena selalu ingin mengikuti tren, bisa jadi dia membeli sesuatu yang tidak penting atau tidak dibutuhkan sehingga jadi konsumtif. Kondisi keuangan atau uang jajannya mungkin tidak banyak, tapi karena terkesan pada promo dan tren menarik jadi maksain untuk beli bahkan berutang pakai paylater,” ujar dia dalam webinar pada keterangannya Minggu (24/7/2022).

Meski begitu, menurut Azmi, FOMO tidak selalu negatif terutama jika seseorang mengikuti tren dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran serta bisa memilih tren yang penting atau bermanfaat. Selanjutnya, tren positif itu bisa ditularkan sebagai inspirasi atau motivasi bagi orang lain.

 

“Misalnya di medsos melihat ada teman yang berprestasi ranking satu sehingga membuat semangat dan memotivasi diri sendiri dan orang lain,” ucapnya.

 

Relawan TIK Provinsi Bali, I Wayan Adi Karnawa menyinggung fenomena di era digital di mana orang lebih takut ketinggalan gawai ketimbang dompet. Terlebih lagi orang yang FOMO biasanya punya rasa takut atau khawatir berlebih akan ketinggalan tren, sehingga selalu ingin mengecek gawainya setiap menit. Bahkan, mereka bisa jadi lebih peduli dengan medsos daripada kehidupan nyata.

 

“Dampak negatif FOMO itu bisa menimbulkan perasaan negatif, meningkatkan risiko terjadinya masalah psikologis seperti stres dan depresi serta antisosial. Selain itu, menurunkan rasa percaya diri dan mengganggu produktivitas,” tukasnya.

Relawan Mafindo Semarang, Safira Azmy Rifzikka menambahkan, jika merasa FOMO sudah mendominasi, segera sadar diri dan lekas beralih. Adapun lawan dari FOMO adalah JOMO (joy of missing out) yaitu secara sadar terlepas dari internet dan menjalani kehidupan tanpa tergantung pada internet atau medsos.

 

Menurutnya, orang yang JOMO lebih menikmati kehidupan nyata karena fokus pada apa yang disukai tanpa mempedulikan tren. dengan begitu, mereka bisa membangun relasi positif yang mendalam dengan orang sekitar.

 

“Ingat, medsos merupakan tempat di mana kita menyimpan momen atas apa yang terjadi di kehidupan nyata, bukan sebagai acuan dalam menjalani kehidupan nyata. Maka, lebih bijak dalam menggunakannya. Mari hidup tanpa rasa cemas atau takut tidak mengikuti tren karena hidupmu lebih berarti dari media sosialmu,” tandasnya.

 

Sumebr: Berita Satu


About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.