Tren Bahan Masakan Eropa dalam Kuliner Indonesia saat Pandemi

  • Rabu, 01/09/2021 - 09:40 WIB
Pandemi Covid-19 tak pelak membawa perubahan besar termasuk pada peta kuliner lokal maupun global. Bahan masakan dari Eropa pun kini jadi salah satu yang digunakan dalam kuliner di Indonesia.

Hai, Sobat Souja! Aktivitas yang banyak di rumah dan keterbatasan mobilitas membuat orang semakin berkreasi dengan cita rasa kuliner. Tengok saja Korean garlic bread dan yang paling kekinian croffle alias croissant plus waffle. Dua makanan ini populer di tengah pandemi virus corona.

Namun, bukan berarti makanan asing ini dapat dengan mudah sampai ke Indonesia. Ketersediaan bahan kerap jadi hambatan dan membuat harga jadi mahal.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) bidang pelatihan sumber daya manusia, Alexander Nayoan, mengamati pangan asal Uni Eropa sempat pudar dari pasaran Indonesia.

"Makanan Uni Eropa sempat pudar dari pasar terutama di 2-3 bulan pandemi mulai. Sulit impor," kata Alexander dalam konferensi pers bersama EU Agrifood Indonesia, Rabu (25/8).

Namun perlahan situasi ini membaik dan justru mendatangkan tren baru. Aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) misalnya, mau tidak mau membuat sejumlah usaha tutup atau membatasi jam operasional termasuk kafe dan restoran.

Alhasil, restoran harus berusaha keras untuk mendapatkan pesanan melalui daring karena masyarakat beralih ke media tersebut. Tren kuliner pada pemesanan online yang cepat berubah ikut memaksa pegiat kuliner ekstra kreatif. Mulai dari fast food mancanegara hingga makanan tradisional.

"Setelah itu trennya orang bosan dengan makanan Indonesia, [makanan yang itu-itu saja]. Yang nonton acara kompetisi memasak, mulai berpikir kreatif [untuk membuat olahan yang berbeda atau fushion]. Ini juga dibarengi dengan penjualan makanan Indonesia yang mulai turun karena semua terjun ke market yang sama," kata Alexander.

Untuk membuat inovasi baru, sebagian mengkreasikan makanan Indonesia dan Eropa. Tampilan ala Eropa tetapi rasa khas Indonesia atau sebaliknya. Misalnya olahan pasta dengan bumbu Indonesia, onde-onde tetapi dengan isian keju mozarella dan aneka kreasi lain.

Tak sedikit pula orang yang mencoba baking sederhana dan dikirim sebagai hantaran ke kerabat atau rekan kerja. Komentar-komentar positif pun mengalir, lalu memunculkan dorongan untuk menjual kreasinya.

Melihat tren kreativitas olahan makanan terutama dengan bahan-bahan impor ini, Alexander berpendapat bukan tidak mungkin suntikan pangan dari Uni Eropa bakal diterima positif oleh pasar.

"Kita melihat ada kesempatan untuk memperkenalkan lebih banyak rasa. Pun pangan Uni Eropa cocok untuk industri hotel dan restoran. Good means good, high quality. Kenapa? Mereka ada standard. Apalagi selama pandemi di mana kebersihan, higienitas, kualitas itu penting," tutur Alexander.

Celebrity chef Degan Septoadji juga mengaku tidak asing dengan bahan pangan Eropa sejak menempuh pendidikan kuliner. Apalagi masakan Eropa memang paling pas menggunakan bahan dari negara asalnya.

"From farm to fork, ada langkah-langkahnya, proses seperti apa. Kalau bicara sapi, bisa ditelusur bapak, ibunya sapi ini siapa. Ini sangat bagus untuk para konsumen juga koki. Orang sangat health conscious, ingin tahu apa yang dimakan, sehat enggak," kata Chef Degan dalam kesempatan serupa.

Bahan pangan Eropa juga sangat memungkinkan untuk diolah bersama bahan pangan lokal. Pasta aglio olio yang sederhana bisa dipadukan dengan bumbu rendang atau bumbu ayam kalasan.

Kemudian ada pula anchovy, ikan berukuran kecil dan diasinkan. Dalam masakan Indonesia, anchovy bisa bertindak sebagai bumbu terasi dengan rasa gurih dan umami. Dia berkata anchovy bisa digunakan untuk olahan nasi goreng.

"Untuk nasi goreng bisa, bawang putih ditumis dulu, anchovy masuk, baru nasi, bumbu sambel, aduk, jadi," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Perdagangan dan Ekonomi pada Delegasi Uni Eropa di Indonesia Marika Jakas, , menuturkan ekspor pangan ke Indonesia hanya 10 persen dari total ekspor Uni Eropa ke seluruh dunia. Menurutnya, masih banyak potensi yang belum tersentuh.

"Kami ingin meningkatkan kesadaran [akan produk pangan Uni Eropa] ke pasar Indonesia. Kami mencoba membantu untuk negosiasi antara Uni Eropa dan Indonesia. Harapannya makanan kami melengkapi pasar makanan di Indonesia," kata Mariska.

Sumber: CNN Indonesia

About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.