Asal-usul Guling di Indonesia, Berawal dari Kesepian

  • Sabtu, 03/09/2022 - 14:30 WIB
Hai, Sobat Souja! Banyak orang Indonesia yang tak bisa tidur tanpa memeluk guling. Guling ibarat jadi penghangat saat tidur.

Ya, guling memang dikenal sudah menjadi teman tidur yang sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, siapa yang tahu jika asal-usul guling di Indonesia berasal dari kesepian.

Dulu, guling dijadikan sebagai pengantar fantasi melawan sepi pria-pria Belanda.

Asal-usul Guling di Indonesia

Berdasarkan berbagai literatur yang ada, guling sebagai pelengkap tidur sebenarnya hanya ada di Indonesia. Kehadirannya yang tidak ada di negara lain membikin guling jadi barang yang unik.

Mengutip berbagai sumber, Presiden ke-1 RI Soekarno bahkan sangat bangga dengan keberadaan guling. Guling dianggapnya sebagai salah satu identitas bangsa.

"Orang Indonesia hidup dengan getaran perasaan. Kita satu-satunya bangsa di dunia yang memiliki jenis bantal yang digunakan hanya untuk berpelukan. Di setiap tempat tidur Indonesia, ada bantal sebagai hulu dan bantal kecil yang disebut guling. Guling ini bisa kita peluk sepanjang malam," ujar Bung Karno sebagaimana yang ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat.

Kehadiran guling ini juga sempat membuat turis-turis yang datang ke Indonesia terpukau. Misalnya saja, penulis asal Inggris Willian Basil Worsfold, yang mengunjungi Jawa pada tahun 1892. Ia mengaku puas dengan pelayanan hotel-hotel di Jawa.

Dalam buku Tourism in the Dutch East Indies 1981-1942 karangan Achmad Sunjayadi, Worsfold menganggap guling sebagai 'istri Belanda'.

Ya, pada masa Kolonial, guling dikenal dengan istilah 'Dutch wife'. Secara harfiah, ini berarti 'istri Belanda'.

Bukan tanpa alasan. Istilah 'Dutch wife' muncul karena rasa kesepian yang merasuki pria-pria Belanda.

Guling disebut sebagai produk yang berasal dari kebiasaan membujang para tentara dan pejabat Belanda di Hindia Belanda. Gara-garanya, tak ada wanita Eropa kala itu.

Sebagai strategi untuk menangkal kesepian dan menyalurkan libido, mereka mencoba berbagai cara. Salah satunya dengan guling.

Tak semua pria mampu mendatangkan istri atau kekasihnya dari Belanda. Tak semua pria juga mampu bertandang ke rumah bordil atau bisa memilih selir.

Guling jadi pilihan paling murah untuk menyalurkan libido yang tidak terkendali. Teman tidur termurah untuk mereka adalah 'Dutch wife' atau yang kini kita kenal dengan sebutan guling.

Beberapa pria Belanda menggunakan guling untuk melepaskan kerinduan pada yang terkasih. Lewat guling, mereka bisa berfantasi bahwa bantalan empuk yang ada di depannya itu seolah-olah sosok wanita yang dicintai.

Sumber: CNN Indonesia

About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.