Ini 5 Tanda Bahwa Media Sosial Sudah Mulai Toxic Hingga Menganggu Kesehatan Mental

  • Sabtu, 19/10/2019 - 13:13 WIB

Hallo Sobat Souja, Teknologi diciptakan untuk memberikan kemudahan bagi para penggunanya, termasuk juga media sosial. Kini, telah ada banyak platform media sosial, untuk berbagi informasi, mengikuti perkembangan melalui unggahan dari para public figure maupun influencer, berkomunikasi dengan keluarga dan sahabat, hingga memanfaatkannya untuk tujuan pemasaran usaha. Bila digunakan dengan bijak, media sosial sebenarnya bisa mendatangkan banyak manfaat. Namun, pada kenyataannya justru bisa terjadi sebaliknya. Media sosial menjadi sesuatu yang toxic hingga mengganggu kesehatan mental. Saat sudah mengalami beberapa tandanya, Sobat perlu mempertimbangkan untuk segera melakukan detoks media sosial. Lalu, apa saja tanda-tanda yang biasanya muncul ketika media sosial sudah mulai mengganggu kesehatan mental? Berikut beberapa hal yang harus Sobat waspadai!

1. Merasa rendah diri atau insecure


Insecure adalah salah satu efek negatif yang bisa ditimbulkan oleh media sosial bila tidak digunakan dengan bijak. Perasaan tersebut biasanya terlihat saat seseorang sudah mulai mudah curiga, seperti mendadak menjadi drama queen, mudah tersinggung, hingga merasa tidak percaya diri dengan kondisi tubuh. Di media sosial, kita tidak bisa membatasi komentar orang lain yang mungkin akan menyakiti perasaan kita. Karenanya, yang bisa dilakukan untuk mencegah rasa insecure adalah dengan tidak perlu memedulikan pendapat negatif orang di media sosial.

2. Membandingkan diri dan orang lain


Hal ini biasanya disebabkan karena mengikuti seorang influencer atau public figure dengan kehidupan yang “tampak” sempurna di media sosial. Padahal semua orang pasti punya masalahnya sendiri, bahkan mungkin yang lebih berat daripada yang kita alami. Setelah scrolling timeline di media sosial mungkin seseorang hanya melihat sisi bahagianya saja, sehingga mulai membandingkan dengan kondisi diri sendiri yang sedang menghadapi masalah, tanpa memperhitungkan kelebihan dan apa yang sudah dimiliki, yang mungkin belum tentu bisa dimiliki juga oleh orang lain.

3. Terlalu fokus pada media sosial


Meski telah menjadi bagian hidup sehari-hari, pengguna media sosial seringkali menjadi lupa untuk membangun hubungan dengan orang-orang di kehidupan nyata juga. Efek negatif yang sama juga terjadi ketika seseorang sudah terlalu fokus pada media sosial dan menempatkannya pada posisi yang lebih penting dari hal lainnya. Contohnya terjadi ketika seseorang sudah sangat cemas bila mengunggah foto yang dirasanya kurang cantik, atau lebih mementingkan update foto di Instagram ketimbang menikmati liburan.

4. Menjadikan media sosial sebagai pelarian


Apakah Sobat termasuk tipe orang yang sering mengumbar masalah di medsos dan menjadikan akun media sosial sebagai tempat untuk “nyampah” secara berlebihan? Hati-hati, karena hal tersebut bisa berbahaya bila tidak segera dihentikan atau dibiarkan begitu saja. Selain membuat orang lain merasa tidak nyaman, kebiasaan tersebut tentu saja tidak menyelesaikan masalah yang sedang Sobat hadapi. Alih-alih mendapatkan penyelesaian, mungkin yang ada masalah menjadi semakin kompleks atau muncul masalah baru.

5. Merasakan kecemasan setelah membuka media sosial


Dari sekian banyaknya manfaat yang bisa didapatkan dari penggunaan media sosial, perlu diwaspadai bila yang Sobat rasakan setelah menggunakan media sosial adalah perasaan cemas berlebihan. Bila anxiety telah melanda akibat hal-hal negatif yang Sobat terima dari penggunaan media sosial, Sobat sebaiknya perlu mewaspadainya dan mulai melakukan detoks media sosial. Selain untuk melepas ketergantungan, Sobat juga perlu lebih banyak fokus membangun hubungan baik di kehidupan nyata.

Nah berikut adalah 5 Tanda Bahwa Media Sosial Sudah Mulai Toxic Hingga Menganggu Kesehatan Mental Sobat, Semoga informasi tersebut bermnafaat untuk Sobat!

About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.