Apakah Pola Makan Yang Buruk Lebih Mematikan Daripada Penyakit Jantung?
Rabu, 10/04/2019 - 16:06 WIB
images-artikel/kecil/pola makan.jpg
Sumber: Tirto.ID
 
 
Pola Makan -
Halo Sobat Souja, pola makan yang buruk ternyata tak hanya berakibat buruk pada lingkar perut yang dimiliki saja. Sebuah penelitian mengungkap bahwa hal ini juga dapat lebih membahayakan dibanding kebiasaan merokok dan tekanan darah tinggi.


Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa bahwa terlalu sedikit makanan sehat atau terlalu banyak makanan tak sehat menyebabkan 22 persen kematian dari seluruh kejadian yang ada. Temuan ini didapat dari data di 40 negara selama tahun 2017.


"Pola makan buruk merupakan salah satu pembunuh," ungkap Ashkan Afshin, peneliti di Health Metrics and Evaluation (IHME). University of Washington.


"Kita adalah apa yang kita makan dan risiko yang mempengaruhi banyak orang terlepas dari jangkauan demografi, termasuk usia, gender, dan status ekonomi," sambungnya.


Pola makan yang buruk menyebabkan 10,9 juta kematian pada 2017, sedangkan rokok menyebabkan 8 juta kematian, dan tekanan darah tinggi menyebabkan 10,4 juta kematian. Hasil penelitian ini didapat dari 130 ilmuwan dari lebih dari 40 negara.


Pola makan tinggi sodium, rendah biji-bijian, sedikit buah, sedikit kacang, serta kurang sayur diketahui sebagai faktor yang berkontribusi utama pada masalah kesehatan yang berujung kematian di banyak negara. Penyakit yang berhubungan dengan pola makan buruk ini adalah kanker, diabetes, dan ginjal.


Mesir merupakan negara dengan kematian yang berhubungan dengan pola makan tertinggi dibanding negara lain yang terlibat dalam penelitian ini. Sedangkan Jepang merupakan negara dengan angka kematian yang berhubungan dengan pola makan terendah.


"Terdapat kebutuhan dan pentingnya perubahan pada beberapa sektor dari siklus produksi makanan, seperti pertumbuhan, pemrosesan, pengepakan, dan pemasaran," jelas Afshin.


"Penelitian kami menemukan pentingnya intervensi keseluruhan terhadap sistem makanan untuk mempromosikan produksi, distribusi, dan konsumsi makanan sehat ke seluruh negara," sambungnya


Walter Willet, profesor dari Harvard menyebut bahwa temuan ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan faktor keuntungan dan risiko untuk kesehatan kardiovaskular dengan mengganti daging merah dengan sayuran yang mengandung protein. Dia menyebut bahwa mengonsumsi makanan yang berasal dari tumbuhan dapat memberi keuntungan kesehatan baik bagi manusia maupun bumi.

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Selasa, 09/04/2019 - 09:46 WIB
Jumat, 05/04/2019 - 09:27 WIB
Kamis, 04/04/2019 - 10:29 WIB