Kisah Inspiratif: Sifat Lilin
Selasa, 26/01/2016 - 17:20 WIB
images-artikel/kecil/pillar.jpg
Sumber: candle4less.com
 
 
Jakarta -
Pada suatu ketika di sebuah ruang kelas, ada seorang murid nampak tengah gelisah. Sang guru pun akhirnya menghampirinya dan bertanya:


"Anakku, apa gerangan yang terjadi padamu? Sedari tadi ibu perhatikan kamu nampak gelisah dan tidak berkonsentrasi mendengarkan pelajaran yang Ibu berikan. Apakah ada masalah, ceritakan pada Ibu?" ucap Ibu Guru sambil memandang lekat-lakat wajah muridnya. 


"Maafkan saya ya Bu, saya membuat Ibu terganggu karena sikap aneh dan wajah murung saya. Sebenarnya saya ingin menceritakan ganjalan di hati saya akan tetapi khawatir menganggu tugas ibu," jawab si murid. 


"Baiklah, ibu akan mendengarkan keluh kesahmu. Ada apa nak?"


"Tapi Bu, saya sungguh tidak ingin menyusahkan. Di kelas ini ada 35 orang murid yang harus ibu bimbing. Saya sangat khawatir waktu ibu terganggu hanya karena mendengarkan masalah yang tengah saya hadapi," 


“Baiklah. Kalau begitu, maukah kamu membantu ibu?” Segera si anak mengganggukkan kepalanya. 


“Ambil dan bawa kemari beberapa lilin di lemari ibu, nyalakan dengan korek api yang di situ. Pasang lilin yang lain dan nyalakan dengan api lilin yang pertama.” Walaupun tidak mengerti apa maksud semua ini, si anak dengan patuh mengerjakannya.


"Lihat baik-baik, Nak. Nyala api lilin pertama tetap terang khan? Walaupun dia telah memberikannya kepada lilin-lilin yang lain.”


Ibu guru pun melanjutkan,


"Lilin pertama tidak kehilangan terang dan panasnya walaupun telah memberi kepada lilin yang lain. Nah, sama seperti lillin. Bu guru juga tidak akan kekurangan apapun dengan memberikan ilmu, waktu, dan pengetahuan yang ibu punyai untuk kalian semua. Dengan memberi, seorang guru baru berarti bagi orang lain yaitu murid-muridnya, orang tua murid yang menitipkan pendidikan anaknya ke sekolah ini, dan guru juga menjadi tumpuan harapan setiap bangsa untuk menyiapkan kalian, calon-calon pemimpin di masa depan. Dengan memberi bantuan, bu guru kan tidak berkurang sedikit pun. Bagaimana? Sekarang kamu mengerti?” 


Dengan tersenyum, si anak pun mulai menceritakan masalahnya dan akhirnya pulang ke rumah dengan perasaan puas dan lega.


Sobat Souja, 


Kenyataan sering kali bertolak belakang dengan keinginan kita. Ada orang yang ingin membantu, tetapi yang dibantu tidak mau. Ada pula orang yang butuh bantuan ke orang lain, tetapi orang lain tidak mau membantunya. Manusia sebagai makhluk sosial, tidak mungkin hidup sendiri. Manusia selalu memiliki sifat saling ketergantungan satu dengan yang lain. Jadilah seperti sifat lilin tadi yang memberikan nyala apinya kepada lilin-lilin yang lain, selalu menjadi penerang dalam kegelapan dan menghangatkan sekelilingnya tanpa pernah kehilangan jati dirinya.   


Sumber: www.andriewongso.com

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Rabu, 03/07/2019 - 10:37 WIB
Senin, 01/07/2019 - 10:23 WIB
Jumat, 05/07/2019 - 09:37 WIB